Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#31


__ADS_3

"Sedang apa kamu? Kenapa jam segini belum tidur?" Tegur papa Dion yang sepertinya baru tiba.


Pria paruh baya tersebut masih mengenakan jersey khas pelatih.


"Papa ngagetin Nathan saja," gerutu Nathan yang kembali menyalakan ponsel Nadine.


Papa Dion duduk di samping Nathan.


"Itu ponsel Nadine kamu apakan?" Tanya papa Dion lagi dengan nada yang terdengar tidak senang.


"Tidak Nathan apa-apain. Sedang melihat foto-foto Nadine pas pemotretan tadi sore," jawab Nathan berdusta.


Nathan membuka galeri foto di ponsel Nadine dan menunjukkan pada papa Dion foto-foto Nadine sore ini di kafe bang Rico.


Papa Dion hanya tersenyum simpul melihat Nadine yang berpose dengan luwes layaknya seorang foto model.


"Princessnya papa itu kayaknya berbakat jadi model juga," ucap Nathan mengemukakan pendapatnya.


"Biarkan Nadine meng-explore talentanya. Asalkan itu semua hal positif, papa tidak akan melarangnya," sahut papa Dion diplomatis.


Nathan hanya mengangguk dan mematikan ponsel Nadine.


"Kau sendiri? Tidak ikut jadi model seperti Nadine?" Tanya papa Dion menyelidik.


Nathan tergelak,


"Takutnya kamera fotografernya malah rusak, Pa. Kalau Nathan yang jadi modelnya," ujar Nathan yang langsung disambut gelak tawa dari papa Dion.


"Ya iya rusak. Kamu lempar pake bola basket," timpal papa Dion yang masih belum berhenti tertawa.


"Nah! Akhirnya papa paham, kan?" Imbuh Nathan lagi yang berusaha menghentikan tawanya.


"Baiklah! Sudah malam, sebaiknya kamu tidur agar besok tidak kesiangan," ujar papa Dion seraya menepuk punggung Nathan.


"Siap, papaku yang tampannya sebelas dua belas denganku," jawab Nathan seraya beranjak dari duduknya.


Papa Dion hanya terkekeh mendengar ucapan Nathan barusan.


Nathan masuk sebentar ke kamar Nadine untuk mengembalikan ponsel saudara kembarnya tersebut. Nadine masih terlelap dan sepertinya tidak terganggu dengan gurauan Nathan dan papa Dion di ruang tengah


Setelah mengembalikan ponsel Nadine, Nathan bergegas masuk ke kamarnya dan segera tidur karena besok Nathan harus sekolah.


****


"Nadine!" Seru Christian dari arah tempat parkir.

__ADS_1


Nadine yang baru tiba di sekolah menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Christian. Pemuda itu berlari menuju ke arah Nadine.


"Hai! Baru datang?" Tanya Christian berbasa-basi.


"Ya. Kamu sendiri?" Nadine balik bertanya.


Christian mengendikkan bahu.


"Aku juga baru datang," jawab Christian kemudian.


Kedua remaja itupun berjalan menuju ke kelas.


"Aku lihat kamu akrab banget sama Bang Rico belakangan ini," Christian membuka obrolan.


"Ya. Kami sedang terlibat sebuah kerjasama. Bang Rico minta aku menjadi ambassador untuk kafe dan t-shirt nya," ucap Nadine menjelaskan.


"Kalian berpacaran?" Tanya Christian tiba-tiba.


Nadine langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Christian.


"Siapa? Aku dan Bang Rico?" Nadine balik bertanya untuk memastikan.


Christian mengangguk.


"Hanya karena kami dekat. Bukan berarti kami pacaran, Chris!" Sangkal Nadine mencari pembenaran.


"Tidak perlu menyangkal atau merahasiakannya, Nad!" Sergah Christian cepat


"Dari story instagram bang Rico saja sudah kelihatan kalo kalian itu ada something," imbuh Christian lagi seakan sedang memaksakan pendapatnya.


Nadine mendengus tak percaya,


"Tunggu! Kenapa mendadak kamu mempermasalahkan hubunganku dengan bang Rico?" Tanya Nadine tak mengerti.


"Aku... aku hanya memastikan saja," jawab Christian salah tingkah.


"Kamu sendiri juga dekat dan berpacaran dengan Audy. Tapi aku tidak mempermasalahkannya ataupun bertanya macam-macam kepadamu," sergah Nadine yang terlihat kesal.


"Siapa yang mengatakan aku berpacaran denagn Audy? Aku dan Audy hanya teman!" Sanggah Christian cepat dengan nada yang tegas.


"Kau mungkin hanya menganggap Audy teman. Tapi aku rasa Audy menyimpan something kepadamu wajah Audy selalu bersemu merah setiap kali membicarakan dirimu," Nadine membalikkan kata-kata Christian. Gadis itu bersedekap sekaligus menatap tajam pada Christian.


"Wajahmu juga merah jika dekat denganku. Apa kau juga punya something kepadaku?" Tanya Christian tiba-tiba yang langsung membuat Nadine membisu.


Nadine meraba wajahnya sendiri seraya menunduk.

__ADS_1


Berbeda dengan Christian yang malah tersenyum simpul dengan sikap salah tingkah Nadine.


"Sudahlah! Aku tidak mau berdebat denganmu!" Ucap Nadine seraya berlalu dari hadapan Christian. Gadis itu segera berlari menyusuri koridor sekolah yang mengarah ke kelasnya.


Christian masih tersenyum tipis dan segera melangkahkan kakinya menyusul Nadine. Bukankah kelas mereka sama?


****


Nadine sedang mengobrol dengan salah satu teman yang duduk di depannya, saat Christian tiba di kelas.


Pemuda itu menghenyakkan dirinya di bangku yang ada di sebelah Nadine. Terang saja, hal itu langsung membuat Nadine memberikan tatapan tidak senang pada Christian.


"Bangku lain penuh. Hanya ini yang kosong," ucap Christian yang seakan memberi jawaban pada pertanyan yang belum dilontarkan oleh Nadine.


Nadine bersedekap kesal. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kelas. Masih ada satu bangku kosong di depan meja guru. Nadine hendak beranjak dan pindah, namun Chris mencegahnya.


"Duduklah disini!" Pinta Chris dengan nada memaksa.


Nadine sudah akan mengomel. Namun guru yang tiba-tiba sudah ada di pintu kelas, membuat Nadine mengurungkan niatnya. Gadis itu terpaksa duduk lagi disebelah Christian.


Guru sedang memberi penjelasan di depan kelas sekarang.


"Kau marah padaku?" Tanya Christian seraya berbisik pada Nadine.


Nadine masih berusaha berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang disampaikan oleh guru di depan. Gadis itu mengacuhkan pertanyaan Chris barusan


"Nadine!" Bisik Chris lagi seraya mengusap punggung tangan Nadine yang ada di atas meja. Dengan sigap, Nadine menarik tangannya dan menyembunyikannya dari Christian.


"Apa?" Sahut Nadine seraya mendelik ke arah Christian.


"Aku datang ke sekolah untuk belajar dan bukan untuk berdebat denganmu. Jadi diamlah!" Gertak Nadine dengan nada galak.


"Baiklah, aku minta maaf," Christian menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf.


Nadine hanya memutar bola matanya, dan kembali berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang diterangkan guru di depan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀

__ADS_1


__ADS_2