
Menjelang sore, Nathan baru tiba di rumahnya.
Nadine terlihat sedang melakukan workout di halaman depan bersama papa Dion.
"Darimana, Nathan?" Tanya papa Dion saat Nathan baru turun dari motornya.
"Dari kafe om Vian, mengerjakan tugas," Jawab Nathan malas.
Nathan sama sekali tidak menyapa Nadine dan langsung berlalu masuk ke dalam rumah. Nadine sendiri juga hanya acuh dan mengabaikan Nathan yang baru pulang. Gadis itu terus saja memainkan bola oranye di tangannya dan sesekali menembakkannya ke ring yang tergantung di sisi halaman.
"Kalian bertengkar lagi?" Tebak papa Dion seraya menatap pada Nadine.
"Sudahlah, Pa! Nadine malas membahasnya. Anak laki-laki papa itu selalu saja sok tahu dan sok merasa paling benar," jawab Nadine dengan nada kesal.
Papa Dion hanya terkekeh.
Pria paruh baya itu merebut bola dari tangan sang putri lalu duduk di tengah-tengah minicourt yang ada di halaman tersebut.
Nadine ikut duduk di samping sang papa.
Matahari sore sudah menampakkan semburat oranye. Tidak terlihat jelas karena tertutup gedung-gedung tinggi yang ada di sekitar kompleks perumahan tersebut.
"Skill bermain basketmu sudah banyak peningkatan, Nadine. Kau yakin tidak ingin ikut seleksi pemain basket putri di Universitas?" Tanya papa Dion serius.
Salah satu Universitas yang ada di kota mereka memang rutin menyelenggarakan seleksi pada pemain basket muda berbakat untuk mendapatkan beasiswa serta dibimbing menjadi pemain basket berprestasi yang biasanya akan direkrut oleh klub-klub basket profesional untuk dijadikan pemain basket profesional.
Nathan sendiri sudah mengikuti seleksi di Universitas tersebut beberapa bulan yang lalu dan sudah dipastikan lolos serta mendapat beasiswa penuh. Bahkan salah satu klub basket profesional juga sudah menawari Nathan untuk bergabung karena bakat bermain basket Nathan yang luar biasa.
"Nadine masih tidak berminat menjadi pemain basket profesional, Pa. Mungkin Nadine hanya akan menjadikannya sebagai hobi saja," ujar Nadine mengemukakan alasannya.
Papa Dion tersenyum tipis seraya mengusap kepala putrinya tersebut.
Wajah Nadine selalu mengingatkan papa Dion pada mendiang istrinya yang sudah meninggal enam belas tahun yang lalu saat melahirkan kedua anak kembar mereka.
"Kau akan mengambil kuliah jurusan apa setelah lulus SMA nanti?" Tanya papa Dion lagi.
Nadine mengendikkan bahu. Gadis itu sepertinya masih bingung dan belum menentukan pilihannya.
"Yang jelas Nadine tidak mau mengambil jurusan yang sama dengan Nathan," jawab Nadine seraya terkekeh.
Papa Dion ikut terkekeh.
__ADS_1
Sejak dulu dua anak kembarnya ini tidak pernah mau bersekolah di sekolah yang sama. Sebenarnya ini lumayan merepotkan untuk papa Dion karena kadang saat acara akhir tahun ada saja jadwal acara sekolah yang bertabrakan dan papa Dion tidak mungkin hadir ke acara kedua anaknya yang tempatnya berbeda secara bersamaan.
Entahlah, Nadine seperti alergi jika harus berdekatan dengan Nathan sepanjang hari. Nadine selalu berkata, jika dirinya sudah bosan meihat wajah Nathan sepanjang hari di rumah. Jadi Nadine juga tidak mau melihat wajah Nathan di sekolah. Jadilah gadis itu selalu memilih sekolah yang berbeda dengan Nathan.
Benar-benar anak kembar yang unik.
"Sebaiknya kamu mandi, Nadine! Papa akan menyiapkan makan malam," ujar papa Dion seraya beranjak berdiri.
Nadine ikut beranjak dan segera masuk ke dalam rumah.
****
Suasana makan malam hening.
Hanya ada suara denting sendok yang bertemu piring.
Nadine dan Nathan menikmati makan malam mereka dalam diam. Celotehan keduanya yang biasanya terdengar sepanjang malam, kali ini sama sekali tidak terdengar.
Papa Dion hanya menghela nafas seraya menatap bergantian pada kedua anaknya tersebut. Emosi pada remaja yang sedang mencari jati diri sepertinya tengah dialami oleh Nathan dan Nadine.
Makan malam sudah usai. Nadine membereskan sisa-sisa makan malam dan membawa piring kotor ke dapur untuk selanjutnya ia cuci. Nathan sendiri memilih untuk langsung masuk ke kamarnya.
"Nathan," sapa papa Dion pada Nathan yang kini tengah memainkan bola basket plastik di kamarnya.
Ada sebuah ring kecil yang tergantung di belakang pintu masuk kamar Nathan.
Nathan sedang melakukan shoot dengan bola plastik tadi seraya berbaring di tempat tidur.
Papa Dion duduk di kursi belajar yang tak jauh dari ranjang Nathan.
"Kau bertengkar dengan Nadine?" Tanya papa Dion menyelidik.
"Tidak! Nathan hanya sedang malas saja bicara pada gadis yang sok tahu itu," jawab Nathan dengan nada malas,
Nathan kembali melakukan shooting ke arah ring basket yang ada di pintu masuk kamarnya.
Masuk!
"Ada masalah apa sebenarnya? Nadine mengatakan kamu yang sok tahu. Dan sekarang kamu mengatakan kalau Nadine yang sok tahu. Papa tidak mengerti," cecar papa Dion bingung.
"Hanya masalah tak penting, Pa! Tidak perlu diambil pusing. Oke!" Nathan memungut bola yang tadi ia lempar dan kembali duduk di ranjangnya.
__ADS_1
"Nadine saja yang terlalu baper," imbuh Nathan lagi seraya kembali melakukan shooting.
Namun di saat yang bersamaan, pintu kamar Nathan tiba-tiba dibuka dari luar. Dan bola yang tadi di lempar oleh Nathan langsung mengenai kepala Nadine.
"Auuw!" Nadine mengusap kepalanya yang terkena lemparan bola plastik dari Nathan.
Tentu saja Nathan dan papa Dion kaget bersamaan.
"Nadine, kamu baik-baik saja?" Tanya papa Dion khawatir. Pria paruh baya itu mendekat ke arah Nadine dan memeriksa dahi Nadine.
Namun Nadine menampik tangan sang papa dengan cepat,
"Nadine baik-baik saja, Papa. Hanya kaget," ucap Nadine dengan raut mencebik.
"Sorry, Nad! Salah sendiri masuk ke kamar orang tidak ketuk pintu dulu," ujar Nathan yang malah menyalahkan Nadine. Terang saja, hal itu langsung membuat Nadine mendelikkan matanya ke arah Nathan.
"Buku aku yang kemarin kamu pinjam mana?" Tanya Nadine galak seraya memeriksa tumpukan buku yang ada di meja belajar Nathan.
Gadis itu memeriksa satu persatu buku yang ada di tumpukan tersebut dan membuatnya lumayan berantakan.
Nathan meraih tas sekolahnya dan segera mengeluarkan buku yang dimaksud oleh Nadine.
"Bereskan dulu itu, buku aku!" Perintah Nathan seraya menyodorkan buku tadi kepada Nadine
"Bereskan sendiri! Dasar manja!" Sergah Nadine seraya menyambar bukunya dengan cepat dari tangan Nathan.
Gadis itupun berlalu keluar dari kamar Nathan dan membanting pintu.
"Dasar galak!" Gerutu Nathan yang kini terpaksa membereskan kekacauan di meja belajarnya karena ulah Nadine.
Papa Dion hanya menahan tawanya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀
__ADS_1