Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#17


__ADS_3

Nadine berulang kali membaca status di story instagram milik Christian. Nadine juga memperhatikan jam saat story tersebut dibuat. Bersamaan dengan pertemuan Nadine dan Christian di depan gerbang sekolah. Apa status itu memang ditujukan untuk Nadine?


Kenapa mendadak hati Nadine jadi menghangat?


[Keren!]


Ada direct messages masuk dari Christian yang berkomentar tentang video workout Nadine tempo hari.


[Makasih] -Nadine-


[Shooting kamu bagus, Nad. Tapi assist kamu lebih bagus,] -Christian-


[Lebih cocok jadi pointguard kayaknya ketimbang shooter. Hahaha,] -Nadine-


[Betul. Aku aja shooternya, kamu yang ngoper bolanya,] -Christian-


[Nantangin main ceritanya?] -Nadine-


[Hahaha. Aku penasaran aja sama minicourt di rumah kamu itu. Boleh numpang workout gak di sana?] -Christian-


[Boleh. Datang aja! Besok kan sekolah libur,] -Nadine-


[Kamu gak latihan sama tim putri memangnya?] -Christian-


[Enggak, kata pelatih disuruh istirahat dan refresh otak dulu satu hari. Biar pekan depan pas tanding tidak terlalu stress,] -Nadine-


[Betul juga sih. Nanti tanding lawan aku aja gimana?] -Christian-


[Setuju. Yang kalah beliin sepatu air jordan ya! Hahaha bercanda,] -Nadine-


[Yah, kirain betulan. Aku mau ngalahin kamu deh kalau betulan,]-Christian-


[Gak punya duit,] -Nadine-


[Yang kalah nraktir makan aja gimana?] -Christian-


[Nah, yang ini aku setuju.] -Nadine-


[Baiklah, besok jam sembilan aku ke rumah kamu,] -Christian-


[Siap. Aku tunggu.] -Nadine-


Christian tak membalas lagi. Nadine kembali membaca chatnya dengan Christian seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Chat dari pacar?" Tegur papa Dion yang entah sejak kapan sudah ada di kamar Nadine.


"Papa, ngagetin," protes Nadine seraya mencebik. Papa Dion hanya terkekeh.


"Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Papa Dion mengusap kepala Nadine, sebelum duduk di ranjang milik Nadine.


"Papa kayak gak pernah remaja saja," sahut Nadine mencibir.


"Tentu saja pernah. Lagi chat sama pacar kan?" Goda papa Dion seraya menaik-turunkan alisnya. Sama persis seperti Nathan saat sedang menggoda Nadine.


Hahaha, benar-benar ayah dan anak laki-laki yang kompak.


Nadine beranjak dari kursinya, dan ikut duduk di atas ranjang bersama sang papa,


"Coba papa cerita ke Nadine, dulu papa kenalan sama mama di mana?" Tanya Nadine penasaran.

__ADS_1


Gadis itu duduk bersila di samping papa Dion sekarang.


"Mmmmm di rumah tantenya papa," jawab Papa Dion tersipu malu.


Nadine mengernyit,


"Mama tetangganya tante papa, gitu?" Tebak Nadine bingung.


Papa Dion mengangguk,


"Kamu sama bawelnya dengan mama kamu. Selalu ingin tahu semua hal dengan mendetail," papa Dion mengusap kepala Nadine.


Wajah Nadine selalu mengingatkan papa Dion pada mendiang sang istri.


"Kenapa papa tidak menikah lagi? Apa papa tidak pernah merasa kesepian?" Nadine sudah membenamkan kepalanya ke pelukan sang papa.


"Kenapa papa harus merasa kesepian? Bukankah ada kamu dan Nathan di rumah ini? Kalian berdua sudah cukup membuat hidup papa selalu berwarna," jawab papa Dion bersungguh-sungguh.


"Apa cinta papa ke mama begitu besar? Sampai setelah mama tiada pun, papa tidak pernah mau menggantikannya dengan wanita lain," sahut Nadine dengan nada sedih.


"Karena hanya ada mama kamu di hati papa, Nad," airmata papa Dion mendadak jatuh. Cepat-cepat pria paruh baya itu menghapusnya.


"Papa menangis?" Nadine sudah mengangkat kepalanya dari pelukan sang papa.


"Enggak, papa hanya sedikit terharu," papa Dion memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. Namun tetap tak bisa menutupi kalau dirinya memang baru saja menangis.


"Dulu, papa selalu memanggil mama kamu juga dengan panggilan Nat," cerita papa Dion seraya menerawang.


"Nat?"


"Natasya, itu nama lengkap mama kalian. Orang lain memanggil Tasya, tapi papa memilih memanggil Nat," jelas papa Dion sembari tersenyum.


"Apa karena itu papa memberi kami nama Nathan dan Nadine?" Tebak Nadine.


Nadine hanya mengangguk.


"Apa suatu hari kelak Nadine juga bisa mendapatkan suami seperti papa? Yang setia dan tulus mencintai Nadine hingga akhir hayat?" Nadine kembali membenamkan kepalanya di pelukan sang papa.


"Tentu saja kamu akan bertemu pria yang baik suatu hari nanti. Tapi yang terpenting sekarang adalah, kamu harus menjadi gadis yang baik, tekun belajar, dan meraih semua mimpi serta cita-citamu. Cinta dan pria baik akan datang di waktu yang tepat," nasehat papa Dion bijak.


Nadine terkekeh,


"Siap, papaku sayang. Nadine akan belajar dulu dan menjadi kebanggaan papa sebelum memikirkan tentang cinta-cintaan," timpal Nadine masih terkekeh.


"Jadi, sudah memutuskan akan mengambil jurusan apa setelah lulus SMA nanti?" Papa Dion bertanya serius.


"Yap. Sudah," jawab Nadine bersungguh-sungguh.


"Apa?" Tanya papa Dion penasaran.


"Hukum," jawab Nadine cepat.


"Nona pengacara Nadine," papa Dion menggoda dan sukses membuat Nadine tergelak.


"Nathan sudah mengambil jurusan komunikasi, jadi Nadine jurusan hukum saja. Jadi nanti kalau Nathan bikin konten yang aneh-aneh , Nadine bisa menuntut pemuda itu," ujar Nadine sok serius.


Papa Dion tertawa kecil,


"Baiklah, baiklah."

__ADS_1


"Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat agar besok pagi tidak kesiangan," ucap papa Dion seraya beranjak dari ranjang Nadine.


"Nathan memaksa untuk naik motor sendiri mulai Senin, Pa. Apa papa sudah bicara padanya?" Nadine memberi laporan dan mengalihkan topik pembicaraan.


"Belum. Tapi papa akan bicara padanya nanti. Nathan belum boleh naik motor sendiri ke sekolah sampai akhir bulan ini," jawab papa Dion.


"Huh, merepotkan saja," Nadine bergumam lirih.


"Apanya yang merepotkan? Apa kamu keberatan mengantar jemput Nathan dengan mobil papa?" Cecar papa Dion tak mengerti,


"Bukan begitu, masalahnya Nadine harus berlatih bersama tim basket putri setiap sore. Kadang jalanan macet juga kalau pulang sekolah. Nadine jadi males kalau harus bolak-balik," keluh Nadine sedikit mencebik.


Papa Dion mengangguk,


"Kalau begitu biar Nathan saja yang membawa mobil papa dan mengantar jemput kamu. Nathan juga kalau sore cuma di rumah, gak kemana-mana," usul papa Dion.


"Baiklah kalau menurut papa begitu, besok biar Nadine yang bilang ke Nathan," timpal Nadine setuju. Gadis itu sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang nyaman.


"Papa juga akan berpesan pada Nathan. Sepertinya anak itu belum tidur. Selamat malam, Nadine," papa Dion membenarkan selimut Nadine dan mencium kening putrinya tersebut.


"Selamat malam, Papa," balas Nadine seraya mematikan lampu.


Papa Dion keluar dari kamar Nadine dan ganti menuju ke kamar Nathan yang ada di seberang kamar Nadine.


"Nathan," panggil papa Dion seraya membuka daun pintu kamar,


"Iya, Pa!" Sahut Nathan yang terlihat masih mengerjakan tugasnya.


"Tadi papa baru saja bicara pada Nadine, dan mulai sekarang kau yang membawa mobil dan mengantar jemput Nadine," titah papa Dion cepat.


"Nathan boleh bawa motor saja tidak, Pa? Sering macet kalau bawa mobil," Nathan membantah seraya nyengir tak jelas.


"Tidak!" Jawab papa Dion tegas.


"Tunggu bulan depan, baru kau boleh naik motor," imbuh papa Dion lagi.


"Oh, ayolah itu terlalu lama, Papa!" Nathan masih saja protes.


Papa Dion tetap menggeleng.


"Pokoknya kau yang menyetir dan mengantar jemput Nadine mulai hari Senin," tegas papa Dion lagi masih tetap pada pendiriannya.


Nathan berdecak,


"Jadi sopir deh untuk tuan putri bawel," keluh Nathan seraya lanjut mengerjakan tugasnya.


"Cepatlah tidur kalau tugasmu itu sudah selesai!" Pesan papa Dion seraya keluar dari kamar Nathan.


"Siap, Papa!" Sahut Nathan sedikit berteriak.


Papa Dion memeriksa semua kunci pintu dan jendela sebelum pergi tidur. Tak lupa semua lampu di ruang tamu dan ruang tengah serta dapur juga ia matikan.


Setelah memastikan semuanya beres, papa Dion segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2