Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#2


__ADS_3

Para pemain sudah kembali memasuki court.


Semangat kedua tim sama-sama membara. Pertandingan semakin seru saja. Semangat penonton tak kalah membara. Para penonton tak berhenti meneriakkan yel-yel untuk mendukung tim dari sekolah mereka masing-masing.


Di pertengahan quarter, Nathan yang akan melakukan lay up tak sengaja bertubrukan dengan Chris yang hendak melakukan block pada tembakan Nathan.


Bruuk!


Dua kapten tim itu jatuh bersamaan di bawah ring.


Nathan jatuh dengan posisi yang salah. Pemuda tujuh belas tahun itu mengerang kesakitan seraya memegangi lututnya.


Berbeda dengan Chris yang kini hidungnya mengucurkan darah segar karena terbentur kepala Nathan yang keras.


Pertandingan dihentikan sementara.


Nathan meninggalkan court dengan dipapah oleh rekan timnya.


Papa Dion segera melompat keluar dari courtside dan melihat lebih dekat kondisi Nathan.


Anak lelakinya itu masih meringis menahan sakit. Sepertinya cedera Nathan kali ini lumayan parah


Pelatih memutuskan untuk mengganti Nathan dengan pemain lain karena pertandingan sudah kembali dilanjutkan.


Nadine melihat ke bench dari tim sekolahnya.


Keadaan Chris tak berbeda jauh dengan Nathan. Pemuda itu sedang duduk dan mendapat pertolongan pertama untuk hidungnya yang terluka.


"Bagaimana, Pa?" Tanya Nadine pada papa Dion yang baru kembali dari bench SMA Harapan. Raut kekhawatiran tampak jelas di wajah Nadine.


Papa Dion menggeleng,


"Nathan tidak bisa melanjutkan pertandingan. Cederanya cukup parah. Papa akan menghubungi teman papa," jawab Papa Dion yang sudah mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Pria paruh baya itu terlihat menghubungi seseorang dan berbicara serius di telepon.


Nadine kembali melongok ke arah bench dari tim Nathan. Lutut saudara kembarnya itu sedang dikompres memakai kantung es sekarang.


Sorakan dari tim pendukung kembali terdengar. Papan skor menunjukkan angka dengan selisih lumayan jauh sekarang. Tim basket dari SMA Pelita sudah tertinggal jauh karena sang kapten yang masih mendapatkan perawatan di pinggir lapangan dan belum bisa ikut bermain kembali.


Masuk quarter terakhir, Chris sudah kembali turun ke court.


Nathan yang masih duduk di bench dengan lutut yang cedera, hanya bisa menahan geram.


"Brengsek!" Umpat Nathan yang merasa kesal.

__ADS_1


Nathan masih merasa dendam pada pemain bernomor punggung tiga yang bernama Christian tersebut. Namun sekarang, cedera lutut sialan ini membuat Nathan tak bisa melampiaskan dendamnya pada Chris.


"Santai, Bro! Tim mereka sudah tertinggal jauh. Tim sekolah kita pasti menang," ujar seorang rekan Nathan dengan nada sombong.


"Loe gak lihat? Christian sudah ikut main. Tim Pelita pasti bisa cepat menyusul," sahut Nathan dengan nada emosi.


Rekannya tadi langsung diam


Netra Nathan tidak beralih dari atas court. Sesekali kapten tim itu berteriak pada teman-teman tim nya yang sedang berjuang di atas court, sekedar untuk memberikan semangat.


Dan benar saja, setelah kembalinya Chris ke atas court, angka di papan skor yang tadinya selisih lumayan jauh kini menjadi selisih tipis.


"Sial!" Sekali lagi Nathan harus kembali mengumpat.


Quarter terakhir baru setengah permainan. Teman-teman satu timnya beberapa kali melakukan foul yang tentu saja ini sangat menguntungkan bagi tim dari SMA Pelita.


Lawan dari sekolahnya tersebut beberapa kali mendapatkan free throws karena pelanggaran yang dilakukan oleh pemain dari tim SMA Harapan. Benar-benar permainan yang kacau.


Nathan harus mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali demi meluapkan emosi dan rasa kesal di hatinya.


Nathan terus saja memperhatikan pergerakan dari Chris diatas court. Luka di hidung Chris seperti tidak menjadi masalah bagi pemuda itu. Chris tetap lincah diatas court dan menunjukkan performa terbaiknya.


Nathan akui kalau stamina dari Chris memang patut di acungi jempol. Belum lagi pergerakannya yang gesit dan lincah, membuat tim lawannya selalu kewalahan saat menjaga Chris.


Dulu, Nathan dan Chris adalah rekan satu tim di SMA Harapan. Meskipun keduanya bukan kawan dekat, namun saat itu Nathan dan Chris selalu tampil kompak saat di atas court.


Chris pindah sekolah dari SMA Harapan dan masuk ke SMA Pelita.


Tim basket putra SMA Pelita yang awalnya biasa saja, tahun ini secara mengejutkan berhasil menembus babak final liga basket antar sekolah karena kehadiran Chris.


Dan hari ini sepertinya tim basket putra dari SMA Pelita benar-benar akan menjadi kuda hitam. Angka di papan skor sudah berbalik sekarang. SMA Pelita yang tadinya tertinggal jauh, sekarang sudah mengungguli SMA Harapan.


Satu menit terakhir.


Poin di papan skor selisih lima angka. Para pemain dari tim SMA Harapan terus bdrjuang untuk mencetak skor di detik-detik terakhir. Mereka seakan tidak rela jika gelar juara bertahan harus lepas hari ini.


Nathan yang duduk di bench hanya menundukkan kepalanya. Pemuda itu seakan enggan menyaksikan kekalahan dari timnya.


Bodoh!


Nathan terus saja menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus sebagai kapten tim. Andai Nathan bermain tanpa emosi, mungkin Nathan tidak akan mengalami cedera sialan ini.


Priiiiiit


Peluit tanda akhir pertandingan sudah berbunyi.

__ADS_1


Poin yang tercetak di papan skor adalah 74-70.


Dan SMA Pelita unggul atas SMA Harapan. Sudah jelas sekarang, SMA Pelita menjadi juara baru tahun ini.


Sorak-sorai dari pendukung tim SMA Pelita langsung menggema di seluruh gedung olahraga.


Para pemain dari tim SMA Harapan memberikan selamat kepada tim lawan dengan lapang dada. Bagaimanapun juga sportifitas adalah yang utama. Menang dan kalah adalah hal biasa dalam sebuah pertandingan.


Tahun ini mungkin SMA Harapan gagal mempertahankan gelar juara mereka. Namun setidaknya masih ada tahun depan. Dan tim basket dari SMA Harapan bertekad untuk berjuang lebih keras lagi di pertandingan-pertandingan selanjutnya.


Dengan langkah terpincang, Nathan menyalami satu persatu anggota tim basket SMA Pelita seraya memberikan ucapan selamat.


Hingga akhirnya Nathan menyalami Chris, tatapan mata keduanya masih saja menyorotkan sebuah permusuhan.


"Selamat, Chris!" Nathan menjabat erat tangan Christian.


Christian hanya mengangguk dan menyunggingkan sebuah senyuman simpul di bibirnya. Chris sungguh tidak ingin sikap permusuhan ini semakin berlarut-larut. Namun segigih apapun Chris menjelaskan pada Nathan, semuanya seperti hanya sia-sia saja.


Nathan sudah terlanjur membenci Chris.


"Nathan!" Suara dari Nadine menjadi akhir dari tatapan tajam antara Nathan dan Christian.


"Hai, Chris! Selamat atas kemenangan timmu hari ini," Nadine menyapa Chris dan mengulurkan tangannya untuk memberi ucapan selamat.


Chris menyambutnya dengan cepat,


"Thanks Nadine. Kemenanganmu juga. Bukankah kita satu sekolah?" Chris seakan mengoreksi kalimat Nadine barusan.


Nadine hanya tersenyum seraya mengangguk,


Gadis itu mengalungkan lengan Nathan di lehernya.


"Ayo, Nathan! Kamu harus ke rumah sakit sekarang," Nadine membimbing Nathan untuk keluar dari court dan dari gedung olahraga tersebut.


Papa Dion masih berbicara dengan pelatih sekaligus pihak sekolah yang hadir di lapangan.


Sepertinya Nathan akan vakum bermain basket beberapa bulan ke depan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀🏀


__ADS_2