
Motor Nathan sudah tiba di depan sekolah Nadine.
"Ingat pesan papa! Nanti pulang naik ojek! Gak usah sok-sokan minta diantar sama Chris!" Cecar Nathan memberikan peringatan pada Nadine.
"Iya, iya! Dasar bawel!" Gerutu Nadine seraya berlalu dari hadapan Nathan.
Gadis itu berjalan santai masuk ke gerbang sekolah.
"Baru sampai?" Sapa Christian yang entah darimana datangnya.
Nadine terlonjak kaget.
"Hai, Chris! Iya aku baru sampai,"jawab Nadine tergagap.
Dua remaja tersebut berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.
"Aku boleh pinjam buku catatan kamu, gak? Buat nyatet materi seminggu kemarin," tanya Christian berbasa-basi.
"Boleh. Tapi aku gak bawa semuanya. Mungkin nanti kamu bisa kerumah mengambilnya," jawab Nadine.
"Nanti aku antar pulang, ya!" Ucap Christian tiba-tiba.
"Tidak, Chris! Papa akan marah kalau kita pulang sekolah bareng. Kita berdua sedang dihukum," tolak Nadine cepat.
"Papa kamu gak lihat. Nanti kamu bisa turun di jalan masuk kompleks. Gak aku antar sampai depan rumah," Chris bersikeras.
__ADS_1
"Tidak!" Sergah Nadine sekali lagi. Kali ini dengan nada yang tegas.
"Kamu masih marah ke aku?" Tanya Christian lagi dengan nada sedih.
"Marah soal apa? Aku tidak marah, Chris,"
"Aku hanya tidak mau melanggar hukuman yang sudah diberikan papa untukku," jawab Nadine panjang lebar.
Chris tersenyum,
"Baiklah, aku mengerti." Chris mengacak rambut Nadine.
"Ayo ke kelas!" Ajak Christian selanjutnya.
Nadine mengangguk dan keduanya segera melanjutkan langkah menuju kelas.
"Kalo menurutku performa Nathan itu sangat jauh dibawah coach Dion," ujar seorang siswa yang kini sedang berdiri bergerombol bersama beberapa siswa lain di bawah tangga sekolah.
"Kau benar. Ingat saat final tahun kemarin? Yang Nathan cedera itu? Penampilannya payah sekali," timpal siswa yang lainnya sambil tertawa meremehkan
"Emosi Nathan saat itu sangat labil. Hanya karena dia dendam pada Chris, penampilannya menjadi kacau tak karuan,"
"Akhirnya dia kena batunya. Lututnya cedera. Jujur aku ketawa sekaligus malu saat itu dengan sikap kekanak-kanakan dari Nathan."
"Tapi syukurlah, sekarang dia bukan kapten tim sekolah lagi. Setidaknya Derrick lebih dewasa pemikirannya ketimbang Nathan. Dan kita tidak perlu lagi cari muka di depan kapten sombong itu,"
__ADS_1
"Mantan kapten. Hahaha"
"Tapi ngomong-ngomong aku jadi kasihan dengan klub Putra Garuda yang sudah merekrut Nathan. Dan mereka malah memasukkan Nathan pada tim inti yang akan ikut kompetisi 3x3. Konyol sekali,"
Mereka semua tertawa.
"Menurutku, keputusan coach Dion kali ini lumayan fatal. Semoga bapak dan anak itu tidak didepak dari klub karena penampilan Nathan yang kacau nantinya,"
"Setidaknya kalau Nathan didepak dari klub, aku jadi ada kesempatan untuk masuk ke klub itu," sahut seorang siswa yang langsung disambut dengan sorakan dari rekan yang lain.
Dan semua pembicaraan yang tidak mengenakkan tersebut, tidak luput dari pendengaran Nathan. Tadinya Nathan tak sengaja lewat di dekat tempat tersebut. Namun saat mendengar namanya di sebut-sebut Nathan akhirnya memilih untuk menguping.
Sekarang Nathan benar-benar mengepalkan erat tangannya demi menahan emosi yang membuncah di dadanya. Nathan bisa saja meledak sekarang dan melabrak para siswa tak tahu diri tersebut.
Tapi Nathan memilih untuk mengurungkan niatnya. Image Nathan sebagai murid yang temperamental akan semakin menjadi jika Nathan marah sekarang.
Baiklah, Nathan akan membuktikannya di atas court saja, saat perhelatan kompetisi 3x3 dimulai.
Nathan akan membuktikan pada semua orang, kalau dirinya memang pemain profesional dan tidak pernah bersembunyi di balik nama besar sang papa.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀