Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#4


__ADS_3

Keesokan paginya,


Nathan baru turun dari motornya saat rumor tentang dirinya dan klub Putra Garuda berhembus dan langsung mampir di telinganya.


Bukankah Nathan sudah menduga hal ini akan terjadi?


Nathan memilih untuk menaikkan hoodie jaketnya dan lanjut berjalan menuju ke arah kelasnya. Nathan mengabaikan para siswa yang terus saja membicarakan dirinya di sepanjang koridor sekolah.


'Bagus sekali Chris! Rumor yang kau ciptakan sungguh berhasil dan menyebar dengan cepat!' Nathan tak berhenti menggerutu dalam hati.


Kapten tim basket tersebut sudah sampai di kelasnya.


"Baru datang, Bro?" Derrick yang merupakan anggota tim basket sekolah sekaligus sahabat Nathan menyapa pemuda enam belas tahun tersebut.


Nathan tak menjawab sapaan Derrick dan hanya tersenyum kecut. Pemuda itu melempar tasnya dengan kasar ke atas meja.


"Kau one x one melawan Chris kemarin? Oh, astaga! Aku melewatkan pertandingan bersejarah. Untunglah ada yang merekam dan menyebarkannya ke grup sekolah," Derrick menunjukkan video pertandingan antara Nathan dan Chris kemarin sore yang ada di ponselnya pada Nathan.


Nathan hanya melihat sekilas video tersebut, karena dirinya juga mendapatkan kiriman video itu semalam.


"Brengsek memang si Chris! Kalo ngomong mulutnya asal mangap saja," gerutu Nathan yang masih kesal.


"Sore ini ada latihan lagi bersama tim sekolah." Derrick mengingatkan.


"Aku masih males liatin wajah songongnya Christian," sahut Nathan sedikit tergelak.


"Bagaimana dengan Vero?" Derrick mengendikkan dagunya ke arah pintu masuk kelas.


Ada Veronica yang merupakan pacar Nathan sejak baru masuk di SMA ini, sedang berjalan menuju tempat duduk Nathan.


"Hai, Nathan!" Sapa Vero manja yang langsung bergelayut di leher Nathan.


Derrick memilih untuk meninggalkan pasangan bucin tersebut dan keluar dari kelas.


"Masih pagi, Ver," ujar Nathan dengan nada malas.


Entahlah, mood Nathan sedang kurang bagus hari ini. Semua gara-gara rumor sialan itu dan juga si Christian brengsek.


"Udah sarapan? Ke kantin yuk! Temenin aku makan," ajak Vero yang kini duduk di bangku di samping Nathan.


Nathan melirik jam di tangannya,


"Aku gak bisa, jam pertama matematika yang gurunya killer itu. Aku gak mau kena masalah hari ini," tolak Nathan seraya terkekeh.


Menemani Vero ke kantin, hanya akan berakhir dengan adegan mesum di belakang sekolah dan sudah bisa dipastikan kalau Nathan pasti juga akan membolos dari jam pelajaran.

__ADS_1


Jika jam pertama bukan pelajaran matematika, mungkin Nathan tidak akan berpikir panjang dan langsung mengiyakan ajakan Vero. Tapi untuk guru killer yang satu ini, Nathan benar-benar tidak mau membuat sebuah masalah.


"Jahat kamu, Nathan!" Vero mencebik sekaligus memukul bahu kekasihnya tersebut.


Nathan mengulurkan lengannya dan langsung merangkul pundak Vero dengan posesif.


"Apa pacarku sedang marah sekarang?" Bisik Nathan di telinga Vero dengan nada menggoda.


Wajah gadis itu langsung bersemu merah.


Nathan tersenyum puas.


Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi,


"Sebaiknya aku ke kelas sekarang," pamit Vero seraya mencium pipi Nathan.


"Kau ada acara weekend ini?" Tanya Nathan sebelum Vero benar-benar pergi.


Vero tampak berpikir sebentar,


"Tidak ada. Apa kau ingin mengajakku jalan-jalan?" Tebak Vero cepat.


"Tidak aku hanya bertanya. Aku ada latihan weekend nanti. Kau mau menemaniku?" Tanya Nathan menggoda yang langsung dibalas dengan sebuah cebikan dari Vero.


Nathan hanya tergelak, dan membiarkan pacarnya itu pergi.


Derrick sudah kembali masuk kelas dan duduk di bangku di sebelah Nathan.


Tak berselang lama, guru matematika yang terkenal killer itupun masuk ke kelas Nathan. Suasana di kelas menjadi hening semua siswa sudah fokus pada pelajaran hari ini.


****


"Mau kemana, Nathan?" Tanya Derrick pada Nathan yang kini membawa beberapa buku tebal di tangannya.


Bel tanda istirahat, baru berbunyi beberapa saat yang lalu.


"Ke perpus balikin buku. Gila! Udah sebulan aku lupa terus," sahut Nathan seraya terkekeh.


Derrick ikut tergelak,


"Pacaran melulu, jadi lupa balikin buku," ejek Derrick yang hanya di abaikan oleh Nathan.


Pemuda jangkung itu sudah berlalu dan keluar dari kelasnya menuju ke arah perpustakaan sekolah yang ada di lantai dua.


****

__ADS_1


Di perpustakaan sekolah,


Nathan sudah selesai mengembalikan buku yang tadi ia bawa. Pemuda itu kembali menyusuri rak-rak perpustakaan untuk mencari buku lain yang ia butuhkan dan mungkin akan ia pinjam.


Saat tiba di sudut perpustakaan, netra Nathan tak sengaja menangkap Vero yang tengah berbicara bersama seorang siswa yang entah siapa. Nathan tidak bisa menebak siapa siswa laki-laki terebut karena posisinya membelakangi Nathan


Nathan belum sempat menyapa Vero saat siswa brengsek itu tiba-tiba mencium bibir Vero dengan sangat intim.


Nathan mematung,


Namun sesaat kemudian Nathan tersadar dan segera menarik baju pemuda brengsek itu sekaligus melepaskan tautan bibirnya brengseknya dari bibir Vero.


Bugh!


Nathan langsung menghadiahi wajah pemuda brengsek itu satu bogem mentah.


Dan saat tahu siapa pemuda brengsek itu, Nathan semakin murka.


"Christian! Brengsek loe!" Sekali lagi Nathan memukul wajah Chris dan membuat pemuda itu jatuh tersungkur ke atas lantai perpustakaan.


Vero mundur menjauh dan sama sekali tidak ada niat untuk melerai dua siswa yang sedang berkelahi tersebut. Vero menghilang dengan cepat keluar dari perpustakaan.


"Nathan, aku bisa jelasin," Chris berusaha membela diri.


"Mau jelasin apalagi? Belum cukup kamu membuat rumor buruk tentang diriku di seantero sekolah? Dan sekarang kamu mau berbuat bejat juga dengan Vero?" Cecar Nathan dengan emosi yang meluap-luap.


"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Nathan! Vero yang memaksa dan menggodaku," Chris masih berusaha untuk menyangkal.


"Jadi kamu mau bilang kalau Vero itu cewek gampangan? Dasar brengsek!" Nathan sudah akan memukul wajah Chris lagi. Namun seorang guru sudah datang dan melerai dua siswa tersebut.


"Nathan! Sudah cukup!" Bentak salah satu guru bagian kesiswaan tersebut.


Tangan Nathan sudah dicekal dengan kuat, membuat Nathan tak bisa lagi berkutik. Dan kapten tim basket itu segera diseret menuju ruang kesiswaan.


Chris mengikuti guru tadi dan juga Nathan menuju ruang kesiswaan. Sesekali Chris meringis menahan nyeri di wajahnya akibat pukulan dari Nathan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀

__ADS_1


__ADS_2