
Nathan menatap ke arah jendela di kamar perawatan.
Pemuda tujuh belas tahun tersebut baru selesai menjalani operasi pada lutut kanannya, satu hari yang lalu.
Nadine belum pulang dari sekolah, dan papa Dion masih ada urusan di klub Putra Garuda. Jadilah sekarang Nathan hanya termenung sendirian di ruang perawatan.
Nathan kembali fokus ke layar ponselnya dan men-scroll wall instagram miliknya. Semuanya berisi tentang kemenangan SMA Pelita dalam kompetisi basket antar sekolah.
Huh!
Menjengkelkan.
Dan tentu saja, pemain terbaik tahun ini diraih oleh Christian, kapten tim yang berhasil membawa tim basket SMA Pelita menjadi kuda hitam juara tahun ini.
Nathan akui, kalau skill bermain basket Christian memang sangat bagus. Pantas saja Chris merasa tidak terima saat klub Putra Garuda menolaknya dan malah memilih Nathan.
Apa benar yang dikatakan Chris dan teman-teman tim basket waktu itu?
Kalau ternyata Nathan di terima di klub Putra Garuda hanya karena nama besar sang papa?
Tak bisa dipungkiri sebenarnya, sejak awal Nathan memutuskan untuk bermain basket, orang-orang selalu mengaitkan atau bahkan membandingkan permainannya dengan papa Dion.
Papa Dion sendiri adalah mantan atlet basket profesional yang juga pernah memperkuat timnas selama empat tahun. Sejak pensiun bermain basket, papa Dion ganti menjadi asisten coach, hingga sekarang papa Dion menjadi coach inti dari klub basket profesional Putra Garuda yang merupakan langganan juara liga basket nasional.
Dan performa Nathan di atas court selalu saja dibanding-bandingkan dengan performa sang papa. Membuat Nathan seolah hidup dan merintis karier basketnya hanya di bawah bayang-bayang serta nama besar papa Dion.
"Melamun!" Suara Nadine yang entah sejak kapan sudah ada di ruang perawatan membuat Nathan terlonjak kaget.
Nathan memperhatikan penampilan Nadine yang mengenakan jersey basket sekolahnya dilapisi sebuah jaket.
"Kau mau kemana?" Tanya Nathan bingung.
"Latihan nanti jam empat," Jawab Nadine seraya melihat arloji di tangannya.
Nathan tertawa kecil,
"Apa akhirnya kau masuk ke squad inti dari tim basket putri sekolahmu?" Tanya Nathan dengan seringai mencibir.
Nadine berdecak,
"Aku sedang malas berdebat, oke! Anggap saja aku sedang mengharumkan nama sekolahku," jawab Nadine diplomatis.
Terang saja, jawaban dari Nadine barusan malah membuat Nathan terbahak.
"Tertawalah sepuasmu!" Sahut Nadine kesal.
"Apa karena Christian adalah kapten tim basket putra di sekolahmu, lalu mendadak kau mau bergabung ke tim basket putri dan mematahkan prinsipmu selama ini yang katanya tidak akan pernah bergabung ke tim basket itu?" Ledek Nathan sekali lagi.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Chris!" sahut Nadine cepat seraya mendelik ke arah Nathan.
"Cih! Seorang Nadine akhirnya masuk tim basket juga. Kau tidak akan pernah bisa menyangkal persamaan di antara kita, Nadine!" Nathan masih tak berhenti mengejek Nadine seraya tertawa puas.
Sejak dulu, meskipun Nadine memiliki skill bermain basket di atas rata-rata, Nadine selalu menolak saat ada yang menawarinya masuk ke tim basket, sekalipun itu adalah tim basket sekolahnya.
Dan alasan Nadine lumayan konyol sebenarnya.
Nathan sudah bergabung dengan tim basket sejak SMP dan Nadine tidak mau ikut-ikutan bergabung dengan tim basket karena Nadine tidak mau sama seperti Nathan
Nadine harus selalu beda dari Nathan.
Jadi kalau Nathan masuk tim basket, seharusnya Nadine masuk tim badminton atau tim tennis saja. Sayangnya bakat yang dimiliki Nathan dan Nadine ternyata sama. Yaitu sama-sama piawai memainkan bola bulat berwarna oranye tersebut.
Mungkin karena sedari kecil Nathan dan Nadine selalu dibawa sang ayah ke court basket untuk melihat pertandingan basket. Jadilah bakat basket kedua anak kembar itu begitu menonjol.
"Diamlah! Atau kupukul lututmu yang baru selesai di operasi itu," bentak Nadine galak.
Nathan semakin terkekeh,
__ADS_1
"Jadi kapan jadwal pertandingan tim putri di mulai. Aku sudah tak sabar untuk menyorakimu di lapangan," sekali lagi Nathan mengejek Nadine.
Nadine mendengus malas,
"Lucu sekali, Nathan! Tidak mungkin kau tidak mengingatnya," sahut Nadine sarkas.
Nathan tergelak. Sebenarnya Nathan tidak lupa. Nathan hanya ingin menggoda saudara kembarnya ini.
"Pacarmu tidak datang menjenguk?" Nadine mengalihkan pembicaraan.
Nathan hanya mengendikkan bahu. Beberapa minggu belakangan Veronica seperti menjauhi Nathan. Atau mungkin hanya perasaan Nathan saja?
Tapi Nathan memang sibuk berlatih menjelang final kemarin. Sayang, sekolah Nathan harus menelan kekalahan di final karena Nathan mengalami cedera lutut sialan ini.
Tapi Vero sepertinya juga tidak datang saat pertandingan kemarin. Bukankah ini sedikit aneh?
"Hubungan kalian tidak sedang dalam masalah, kan?" Tanya Nadine mulai curiga.
"Kami baik-baik saja, Nadine! Jangan sok ikut campur, oke!" Sahut Nathan ketus.
Nadine hanya mencibir dan tak menyahut lagi.
Dokter yang menangani Nathan masuk ke dalam ruang perawatan.
"Bagaimana Nathan, apa ada keluhan?" Tanya dokter yang juga adalah teman dari papa Dion tersebut.
Nathan menggeleng,
"Masih sedikit nyeri saja, Dok," jawab Nathan cepat.
"Itu hal wajar, dan mungkin selama satu bulan kedepan rasa nyerinya masih akan hilang timbul," dokter memberikan penjelasan.
Nathan dan Nadine hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Kapan dia bisa pulang, Dokter?" Tanya Nadine selanjutnya.
"Tapi Nathan tetap harus berjalan memakai tongkat sebulan ke depan dan jangan melakukan workout dulu," imbuh dokter lagi.
Nathan hanya menghela nafas frustasi.
Sebulan tanpa workout, hidup Nathan pasti akan terasa kelabu. Bola basket sudah menjadi belahan jiwa seorang Nathan.
"Dan kamu Nadine," dokter tadi ganti menatap ke arah Nadine yang mengenakan jersey basket.
"Jangan lupa memakai pelindung lutut saat latihan atau dalam pertandingan! Kamu tidak ingin dioperasi juga seperti Nathan kan?" Nasehat dokter tadi seraya terkekeh.
Nadine mengangguk,
"Siap dokter!" Ucap Nadine seraya mempraktekkan sikap hormat.
Nathan hanya mencibir melihat tingkah aneh saudara kembarnya tersebut.
Tak berselang lama, dokter sudah keluar dari ruang perawatan Nathan. Sesaat suasana hening.
"Kau sudah bertemu Christian?" Pertanyaan dari Nathan memecah keheningan.
"Ya. Chris sudah mulai kembali ke sekolah hari ini. Meskipun hidungnya patah, setidaknya dia masih bisa bermain basket," Nadine sedikit terkekeh.
"Kau mengejekku?" Nathan mencebik.
"Salah sendiri. Kenapa lututmu yang berharga itu harus kamu bikin cedera? Apa kepalamu hanya berisi balas dendam saat kamu men-dribble bola di atas court?" Nadine masih tak berhenti mengejek Nathan.
"Kau tidak akan tahu rasanya, saat gadis yang kamu sayang dan kamu jaga sepenuh hati malah dicium oleh cowok brengsek sialan," sahut Nathan ketus.
"Cih! dijaga sepenuh hati apanya? Bukannya kamu juga brengsek dan sering mencium bibir merekah milik Vero di halaman belakang sekolah?" Nadine membuka kartu As milik Nathan.
Sial!
__ADS_1
Nathan berulang kali mengumpat dalam hati.
"Kau tahu, apa yang di katakan Christian kepadaku saat aku memutuskan hubungan kami beberapa bulan yang lalu?" Nadine memasang wajah serius.
"Apa memangnya?" Nathan balik bertanya dan merasa penasaran.
"Kata Chris, Vero yang sudah menggodanya dan sengaja membuat jebakan itu agar kau semakin membenci Chris. Dan Chris juga bilang kalau Vero itu bukan gadis baik-baik," tutur Nadine dengan raut wajah yang masih serius.
Seketika tawa Nathan meledak,
"Hahaha, dan kau percaya begitu saja pada Chris?" Nathan masih tertawa.
"Itu cuma akal-akalannya Chris, agar tidak ada yang menganggapnya pria brengsek perusak hubungan orang lain," tawa Nathan sudah mulai reda.
"Wajar saja kau lebih percaya pada Veronika. Kau pacarnya," Nadine mencibir.
"Dan apa kau ingin membela Christian sekarang? Apa kau juga masih menyimpan perasaan pada Christian?" Nathan balik mengejek Nadine.
Terang saja, hal itu langsung membuat Nadine mendelik ke arah Nathan.
Namun bukan Nathan namanya kalau langsung takut dan berhenti mengejek hanya karena sebuah tatapan tajam,
"Sudahlah, Nad! Kalau memang kalian masih saling mencintai, kenapa kalian tidak jadian lagi? Aku dan Chris akan bersaing secara sehat di atas court setelah ini," ujar Nathan lagi masih dengan nada mengejek.
"Diamlah! Dasar bawel!" Nadine yang kesal segera memukul kaki Nathan yang masih terbalut perban.
"Auuuww! Sialan kamu Nad!" Nathan menjerit sekuat tenaga karena kakinya yang nyeri terasa semakin nyeri.
Apa Nadine baru saja memukul kaki Nathan dengan kekuatan penuh?
Berbeda dengan Nadine yang kini tertawa puas.
"Makanya jangan bawel!" Celetuk Nadine yang masih terkekeh.
Nathan hanya mencibir sambil terus meringis menahan nyeri di lututnya.
Dasar gadis galak!
****
Tepat jam empat sore, Nadine baru tiba di sekolahnya.
Anggota tim basket putri sudah banyak yang datang. Sebagian dari mereka sepertinya memang tidak pulang dulu tadi dan memilih menunggu hingga jam latihan.
Nadine bergegas menuju ke arah lapangan. Teman-teman Nadine sudah mulai melakukan pemanasan.
Namun saat baru melepas jaketnya, netra Nadine tak sengaja melihat Audy yang tengah berbicara dengan Christian di sudut lapangan basket.
Dua kapten tim itu terlihat akrab. Apa mereka berpacaran sekarang?
Nadine memilih untuk memalingkan wajahnya dan mengabaikan kedua kapten tim tersebut. Nadine segera turun ke lapangan untuk bergabung bersama anggota tim yang lain.
Dan selama tim basket putri latihan, Chris tak beranjak dari tepi lapangan. Kapten tim basket putra itu seperti tengah mengawasi salah satu anggota dari tim basket putri.
Dan entah mengapa Nadine merasa kalau Christian sedang mengawasinya sedari tadi. Nadine benar-benar merasa risih.
Perasaan Nadine saja, atau Chris memang mengawasinya?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀
__ADS_1