Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#39


__ADS_3

"Chris!" Suara Nadine yang sedikit lirih cukup bisa memecah keheningan di ruang UKS tersebut.


Christian segera menyeka sisa air mata yang masih menggenang di sudut matanya. Pemuda tersebut menoleh ke arah.


"Aku hanya bingung, Nad," ucap Christian lirih.


"Tapi, bukankah waktu itu kamu bilang ke aku dan Nathan kalau orang tuamu sudah setuju kamu masuk Universitas lewat jalur beasiswa? Kenapa mendadak papa kamu jadi marah dan memukulimu seperti ini?" Tanya Nadine tak paham.


"Aku berbohong," jawab Christian yang langsung membuat Nadine mengernyitkan dahinya.


"Saat itu papa sedang di luar negeri. Jadi aku hanya minta izin pada mama dan tidak memberi tahu papa. Mama memberikan izin. Aku pikir setelah nanti hasilnya keluar, papa juga pasti akan memberikan izin dan mendukung keinginanku menjadi seorang pebasket profesional. Tapi nyatanya..." Chris tersenyum kecut.


"Papa marah besar tadi malam. Aku mencoba membela diri dan memaparkan semua alasanku. Tapi papa tetap pada pendiriannya. Papa tak memberikan izin dan langsung merobek surat dari Universitas di hadapanku" cerita Christian panjang lebar.


"Aku terus melawan. Dan yang terjadi... papa memukuliku karena aku benar-benar keras kepala," imbuh Christian lagi kali ini sedikit lirih.


"Papa juga sudah menghubungi pihak Universitas dan mengatakan kalau aku sudah mengundurkan diri dari program beasiswa itu,"


"Aku tidak akan pernah bisa menjadi pemain basket profesional, Nad! Seberapa besar aku berusaha," pungkas Christian lesu.


"Jangan berkata seperti itu, Chris!" Nadine mendekat ke arah Christian dan memeluk pemuda tersebut.


"Jika kesempatan itu tidak datang sekarang, mungkin kesempatan itu akan datang di lain waktu," imbuh Nadine yang berusaha berpikir optimis.


"Menurutmu begitu?" Tanya Christian ragu. Pemuda itu melepaskan pelukan Nadine dan menangkup wajah Nadine dengan kedua tangannya.


Nadine mengangguk.


"Lagipula, bukankah seharusnya kamu bersyukur karena bisa kuliah di tempat yang bagus di luar negeri," Nadine melepaskan tangan Chris dari wajahnya dengan lembut. Gadis itu ganti menggenggam tangan Christian.


"Andai papaku sekaya papamu, mungkin aku juga akan minta kuliah di luar negeri, " imbuh Nadine lagi seraya terkekeh.


Sepertinya gadis itu sedikit berkhayal.


"Kau ingin kuliah di luar negeri?" Tanya Christian dengan raut wajah serius.


"Ya. Tapi itu mustahil. Mungkin aku akan masuk ke Univesitas saja melalui beasiswa basket seperti harapan papa. Aku benar-benar tidak mau membebani papa dengan keinginanku yang setinggi langit itu" tutur Nadine panjang lebar.


"Kau mau kuliah di Amrik bersamaku?" Tanya Christian tiba-tiba yang langsung membuat Nadine terkejut tak mengerti.


"Apa?"

__ADS_1


"Apa kau sedang mengajakku bercanda?" Sergah Nadine lagi seraya tertawa sumbang.


"Tidak! Aku serius, Nad!" Ucap Christian dengan nada bersungguh-sungguh.


"Kau tahu kenapa aku begitu tertekan saat papa mengatakan akan mengirimku kuliah di luar negeri?"


"Kenapa?" Tanya Nadine masih tak mengerti.


"Karena aku tidak bisa berjauhan darimu."


"Satu-satunya alasan yang mendorongku untuk tetap mengikuti seleksi masuk ke Universitas meskipun papa melarang adalah kau," Chris mengusap pipi Nadine yang kini sedikit merona merah.


"Aku?" Nadine menunjuk ke dirinya sendiri.


"Aku ingin selalu ada di dekatmu, Nad!" Christian menyandarkan kepalanya di pundak Nadine.


Nadine masih membeku dan tak mengerti dengan kata-kata Christian barusan.


"Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kita berjumpa. Saat aku baru datang ke sekolah ini, lalu kau menawarkan padaku bangku kosong di sebelah tempat dudukmu. Saat itulah, aku selalu berdebar saat ada di dekatmu," ucap Christian lagi seraya tersenyum tipis. Pemuda itu masih menyandarkan kepalanya di pundak Nadine.


"Saat itu aku bahkan sudah bermimpi untuk menjadikanmu istriku," imbuh Christian lagi seraya terkekeh.


Berbeda dengan Nadine yang masih diam membisu.


Nadine tertawa sumbang,


"Chris, kita masih sekolah. Aku tidak akan menikah dalam waktu dekat. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang ingin kuwujudkan," Ujar Nadine yang sepertinya menolak lamaran konyol dari Christian.


"Aku tidak akan menghalangimu meraih cita-cita dan semua mimpimu. Aku hanya ingin berada di sampingmu saat kau sudah menjadi orang sukses yang berhasil mewujudkan semua mimpimu itu," sergah Christian mencari pembenaran.


"Kita bisa menikah saat sudah lulus nanti. Lalu setelahnya kita bisa berpacaran dulu dan tak perlu buru-buru mempunyai momongan," imbuh Christian lagi memaparkan rencananya.


Astaga!


Kenapa pemuda ini sudah berpikir sampai sejauh itu?


Menikah di usia belia?


Yang benar saja. Itu tidak pernah ada di kamus seorang Nadine Putri.


Papa Dion mungkin akan membunuh Nadine jika Nadine ngotot minta menikah setelah lulus SMA.

__ADS_1


"Tidak, Chris! Itu konyol! Aku tidak mau menikah di usia muda. Sekalipun calon suamiku adalah pemuda tajir keturunan konglomerat," Nadine menurunkan nada bicaranya di akhir kalimat.


"Aku bukan gadis matre," imbuh Nadine lagi yang merasa tidak setuju dengan rencana konyol Christian tersebut.


Christian terdiam. Sesaat suasana di ruang UKS tersebut menjadi hening. Hanya ada suara dari kipas angin di langit-langit ruangan.


"Papa akan menjodohkanku dengan anak dari teman bisnisnya. Sebuah perjodohan bisnis," ucap Christian tiba-tiba memecah keheningan.


"Aku pikir jika kau mau menikah denganku, mungkin aku akan bisa lepas dari perjodohan konyol itu," imbuh Christian lagi.


"Lagipula, satu-satunya gadis yang ingin aku nikahi dan aku jadikan istri hanyalah dirimu, Nad," sambung Chris seraya menatap dalam ke arah netra milik Nadine.


"Hanya kamu," ucap Christian sekali lagi.


"Papamu akan langsung mengusirku dan menolakku mentah-mentah jiia kau membawaku ke rumahmu dan berniat menjadikanku istrimu," sahut Nadine cepat seraya tertawa sumbang.


"Kita itu tidak sepadan, Chris,"


"Dan aku juga tidak pernah bermimpi menjadi seorang cinderella yang menikah dengan seorang pria kaya sepertimu," imbuh Nadine lagi masih tertawa sumbang.


Apa Nadine baru saja menolak lamaran Christian?


"Aku bukan pria kaya. Papaku yang kaya," sergah Christian cepat.


Nadine tak menyahut lagi karena bingung harus menjawab bagaimana. Suasana kembali hening.


Teet teet.


Bel pergantian jam sudah berbunyi.


Nadine mengemasi kembali kotak P3K yag tadi ia pakai untuk mengobati luka di wajah Christian.


"Kita bicara dan berandai-andai terlalu jauh. Sebaiknya kita ke kelas sekarang," ajak Nadine seraya mengembalikan kotak P3K tadi ke tempatnya.


Chris tidak menjawab dan hanya menurut. Pemuda itu mengikuti langkah Nadine untuk keluar dari ruang UKS. Dua remaja tersebut berjalan sedikit cepat menuju ke kelas.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2