Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#63


__ADS_3

Satu tahun berlalu,


Nadine dan Nathan kini disibukkan dengan kuliah dan basket tentu saja. Sesuai saran dari Nathan dan Christian, Nadine akhirnya benar-benar pindah dan mengambil jurusan psikologi sekarang.


Nathan masih tergabung di klub basket Putra Garuda. Rencananya tahun ini, kontrak Nathan bersama klub baya sketsa tersebut akan berakhir.


"Kak Nathan!" Sapa Annel pada Nathan yang sedang workout sendirian di halaman depan.


"Hai! Baru pulang?" Balas Nathan yang langsung mendekat ke arah pagar.


Nathan segera mempersilahkan Annel untuk masuk ke halaman rumahnya.


"Ada pelajaran tambahan," jawab Annel yang kini duduk di lantai minicourt. Gadis itu memainkan bola basket di hadapannya.


"Kak Nadine mana?" Tanya Annel celingukan.


"Masih latihan sama tim basket putri di kampus. Bentar lagi kan mereka ada turnamen," ujar Nathan menjelaskan.


Annel hanya mengangguk paham.


"Tumben pulang sendiri?" tanya Nathan berbasa-basi.


"Tadi bareng temen. Tapi Annel turun di depan kompleks," Jelas Annel masih memainkan bola di tangannya.


"Mama lagi ada keperluan soalnya," imbuh Annel lagi yang hanya di sambut Nathan dengan sebuah anggukan.


"Annel dengar kak Nathan mau pindah klub musim depan. Emang bener?" Tanya Annel mengalihkan topik pembicaraan.


"Baru rencana sih." Nathan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa pindah, Kak?" Tanya Annel lagi masih penasaran.


"Mau ganti suasana aja." Nathan tersenyum kecut.


"Sekalian menghindari rumor-rumor yang bikin gerah," imbuh Nathan lagi masih tersenyum kecut.


"Rumor?" Annel tidak paham.


"Tahu sendiri, kan? Banyak berita yang beredar yang membanding-bandingkan skill basket aku sama papa. Belum lagi desas-desus tentang aku yang bisa masuk Putra Garuda karena campur tangan papa. Padahal gak ada sama sekali."


"Dan itu semua asli bikin aku gerah sama sedikit down belakangan ini," Cerita Nathan panjang lebar.


"Belum lagi musim ini aku cuma di jadiin cadangan. Dan turunnya di menit-menit akhir. Berasa gak guna aja skill aku ini," imbuh Nathan lagi yang kembali menampilkan senyuman kecut.


Annel menepuk punggung Nathan untuk memberi semangat.

__ADS_1


"Yaudah, kalau menurut kak Nathan itu keputusan yang terbaik," Ujar Annel yang masih menepuk punggung Nathan.


"Maaf, karena Annel udah bikin kak Nathan jadi sedih," imbuh Annel lagi merasa bersalah.


Nathan tersenyum.


"Enggak sama sekali, Annel."


"Aku malah seneng kok kamu mau dengerin cerita aku. Hatiku jadi sedikit lega karena udah curhat ke kamu," ucap Nathan seraya mengacak rambut Annel.


"Syukur deh kalau udah lega," Annel terkekeh.


"Gantian Annel sekarang yang galau," ujar Annel lagi masih sedikit terkekeh.


"Kenapa galau?" Tanya Nathan penasaran.


Annel mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Nathan.


"Annel dapat surat itu beberapa hari yang lalu," ucap Annel seraya memutar-mutar bola basket di tangannya.


Nathan masih serius membaca surat yang diberikan oleh Annel.


"Tapi Annel masih belum ngasih tahu mama dan papa. Mendadak Annel ragu mau ngambil beasiswa itu," ucap Annel lagu menunduk lesu.


"Tapi, Kak..." Annel terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kamu belum siap hidup jauh dari mama papa kamu?" Tebak Nathan menerka-nerka.


"Bukan hanya itu." Annel sedikit mencebik.


Nathan mengernyitkan kedua alisnya sedikit tak mengerti.


"Annel bakalan jauh dari kak Nathan dan jarang ketemu," lanjut Annel menundukkan wajahnya.


Nathan sedikit tergelak. Terang saja hal itu membuat Annel semakin mencebik.


Nathan segera merangkul gadis berkacamata tersebut.


"Kita masih bisa komunikasi via v-call, Annel," bujuk Nathan berpikir positif.


"Tetap saja rasanya beda," gumam Annel masih mencebik.


"Ini kesempatan bagus, Annel. Kamu harus mengambilnya. Mama papa kamu pasti bangga kalau kamu mengambil beasiswa ini," ujar Nathan memberikan semangat.


"Nanti kak Nathan pasti nyari cewek baru disini, kalo Annel tinggal ke Singapura," cebik Annel dengan nada sedih.

__ADS_1


"Ya ampun!" Nathan mengacak rambut Annel sebelum kembali merangkul gadis itu.


"Kamu masih kecil udah mikirin pacaran sampe segitunya," ujar Nathan merasa gemas.


"Annel sudah besar, Kak!" Protes Annel yang merasa tak terima dikatai anak kecil oleh Nathan.


"Iya, Annel yang sudah besar." Nathan mengkoreksi kalimatnya dengan sedikit lebay.


"Aku itu sama sekali nggak kepikiran buat nyari pacar atau apalah. Aku cuma mau fokus sama basket dulu dua atau tiga tahun ke depan," ujar Nathan memaparkan rencananya.


"Trus setelah dua atau tiga tahun?" Tanya Annel merasa kepo.


Nathan mengendikkan kedua bahunya,


"Mungkin aku bakal ngajak kamu buat jadian. Itupun kalo kamu belum jadi pacar orang," jawab Nathan sedikit terkekeh.


Wajah Annel sontak bersemu merah.


"Annel masih dua puluh tahun, tiga tahun kedepan, Kak," ujar Annel yang wajahnya masih bersemu merah.


"Trus? Kan aku bilang jadian. Bukan nikah," tutur Nathan mencari pembenaran.


"Annel jadi malu," ujar Annel yang kembali menunduk karena wajahnha sudah semerah tomat.


"Fokus saja dulu pada pendidikanmu, Annel!"


"Cinta, pacar, calon suami, akan datang di waktu yang tepat," nasehat Nathan sekali lagi.


Pemuda itu masih merangkul Annel dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Siap, Kak Nathan. Makasih nasehat bijaknya," ucap Annel tulus.


Nathan hanya mengangguk.


Semburat oranye mulai terlihat di ufuk barat, menandakan hari yang sudah beranjak sore. Setelah sedikit berbasa-basi dan berpamitan pada Nathan, Annel akhirnya pamit pulang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀.

__ADS_1


__ADS_2