
Satu bulan berlalu,
Nadine masuk ke kamar Nathan.
Si empunya kamar sepertinya sedang mengerjakan tugas sekolah yang menggunung.
Sejak lolos seleksi dan menjadi tim inti untuk turnamen 3x3, Nathan sedikit keteteran dengan tugas-tugas sekolahnya. Pemuda itu harus berlatih bersama tim setiap pulang sekolah hingga sore. Kadang juga Nathan berlatih hingga malam saat weekend.
"Kamu mau datang ke pesta pernikahan abang Rico, Nat?" Tanya Nadine seraya mendaratkan bokongnya di ranjang milik Nathan.
Nathan menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Nadine.
"Enggak!"
"Kamu gak lihat? Tugas aku udah kayak gunung merapi yang siap meletus," gerutu Nathan seraya menunjuk pada tumpukan buku yang ada di atas meja belajarnya.
Nadine tergelak,
"Butuh bantuan?" Tanya Nadine menawarkan.
"Kalo kau minta bayaran sepatu air jordan, maaf aku tak sanggup," sinis Nathan yang kembali berkutat dengan tugas-tugasnya.
Nadine mengambil salah satu buku tugas Nathan dan memeriksa isinya. Nadine meraih pena yang ada di atas meja belajar Nathan dan mulai membantu Nathan mengerjakan tugas-tugas sekolah tersebut.
"Kamu yang mengajukan diri dan membantuku secara sukarela. Awas aja kalo nanti kamu minta sepatu air jordan lagi," sergah Nathan dengan nada tegas dan sedikit galak.
"Aku gak bakal minta sepatu air jordan sama kamu. Yang nawarin endorse sepatu ke aku udah banyak," sahut Nadine pamer.
"Kaki kamu kan cuma sepasang. Trus koleksi sepatu banyak-banyak mau buat apa?" Tanya Nathan tidak mengerti.
"Kamu juga punya banyak sepatu. Kenapa masih bertanya?" Nadine membalikkan kata-kata Nathan.
"Sepatuku kan aku pakai untuk tanding di lapangan. Lah kamu, niat jadi pebasket profesional aja gak ada. Tapi koleksi sepatu sampai satu rak penuh," cibir Nathan seraya merentangkan tangannya ke atas dan sedikit meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Suka-suka akulah. Toh aku gak pernah minta kamu beliin sepatu buat aku," sanggah Nadine mencari pembenaran.
Nathan tak menyahut lagi. Pemuda itu membolak-balik buku pelajaran dihadapannya seperti sedang mencari jawaban untuk tugas-tugasnya.
Sesaat suasana menjadi hening.
__ADS_1
Nadine juga masih berkonsentrasi dan membantu Nathan menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk.
"Papa katanya tidur di mess malam ini. Kita pesen makanan online aja ya buat makan malam," usul Nadine tanpa melihat ke arah Nathan.
"Terserah kamu. Pesen di kafenya om Vian aja, biar gratis," Usul Nathan cepat.
"Pinjam ponsel kamu," Nadine menengadahkan tangannya ke arah Nathan.
"Nah, kan. Ujung-ujungnya aku juga yang bayar," gerutu Nathan seraya memberikan ponselnya pada Nadine.
Nadine hanya terkikik.
Gadis itu segera membuat pesanan untuk makan malam. Setelah selesai membuat pesanan, Nadine lanjut mengerjakan tugas-tugas Nathan lagi.
"Jadi gimana? Besok mau pergi gak?" Tanya Nadine sekali lagi.
"Kamu pergi sama Chris saja kan bisa," saran Nathan cepat.
"Iya tapi kan kamu juga dekat sama bang Rico. Dapat undangan juga. Masa kamu gak datang," sahut Nadine lagi yang masih mencari alasan.
"Yaudah, lihat aja besok. Kalo tugas-tugas ini sudah kelar, besok aku datang," ucap Nathan akhirnya yang memilih untuk mengalah.
Nadine hanya mengangguk dan tidak menyahut lagi.
Hari Minggu,
Nadine sedang bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan Rico dan Nevi. Gadis itu mengenakan gaun putih selutut sesuai dengan dresscode pesta siang ini.
"Belum siap?" Tanya Nathan yang kini sudah duduk di atas ranjang Nadine.
"Dikit lagi," jawab Nadine seraya memoleskan lipstik ke bibirnya.
Nathan sendiri sudah siap dengan penampilan simpelnya. Celana jeans dan kemeja warna putih.
Bim bim!
Terdengar suara klakson mobil dari arah depan rumah.
"Siapa itu?" Tanya Nathan seraya mengintip dari jendela kamar Nadine.
__ADS_1
"Kalo mobilnya warna putih berarti Christian," jawab Nadine santai.
"Oh iya aku lupa. Pacar kamu itu kan tajir," ucap nathan seraya terkekeh.
"Kami tidak pacaran, Nathan! Berapa kali aku harus bilang," sergah Nadine dengan nada kesal.
Gadis itu mengenakan sepatu berhak yang warnanya senada dengan gaunnya.
Nathan hanya tergelak dan segera berlalu keluar dari kamar Nadine. Pemuda itu pergi keluar untuk menemui Christian.
"Hai, Bro! Lama tidak berjumpa," sambut Nathan yang langsung mengajak Christian melakukan tos.
"Aku dengar kamu masuk tim 3X3 Putra Garuda. Selamat, ya!" Christian menepuk punggung Nathan.
"Haha, thanks bro!" Nathan balik menepuk punggung Christian.
Nadine sudah selesai bersiap-siap. Gadis itu segera keluar dan menghampiri Nathan serta Christian.
"Aku sudah siap," ucap Nadine seakan memberi laporan.
Christian sendiri langsung terpana dengan penampilan Nadine siang ini. Kenapa gadis itu begitu anggun dan mempesona mengenakan gaun putih selutut?
"Chris!" Tepukan dari Nathan membuat semua lamunan Christian tentang Nadine mendadak menjadi buyar.
"Eh iya. Kita berangkat, yuk!" Ajak Christian selanjutnya berusaha menutupi sikap salah tingkahnya.
Ketiga remaja itupun masuk ke mobil milik Christian yang terparkir di depan rumah Nathan dan Nadine.
Nathan memilih untuk langsung duduk di jok bagian belakang. Sehingga mau tak mau Nadine duduk di samping Christian. Setelah semuanya siap, mobil segera melaju ke arah kafe R&N tempat di langsungkannya pesta pernikahan Rico dan Nevi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, mobil Christian akhirnya sampai di halaman parkir kafe R&N. Suasana sudah cukup ramai dan banyak tamu yang sudah berdatangan.
Nadine, Nathan, dan Christian segera masuk ke lokasi pesta dan membaur bersama tamu yang lain.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀