Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#22


__ADS_3

"Nadine! Audy! Nadine!" Penonton dari SMA Pelita tak berhenti meneriakkan nama Nadine dan Audy yang hari ini berkolaborasi dengan sangat apik.


Nadine kembali memberikan assist-nya yang keenam kali yang langsung dicetak menjadi poin untuk SMA Pelita oleh Audy. Tembakan kapten tim basket putri tersebut benar-benar akurat dan hanya sedikit yang meleset.


Hingga masuk quarter ketiga, tim basket putri dari SMA Pelita sudah unggul jauh meninggalkan tim lawan. Sorak sorai dari para pendukung semakin riuh terdengar memenuhi seluruh gedung olahraga tersebut.


Bola sudah ada di tangan Nadine lagi. Gadis itu mencari temannya yang bebas, namun nihil. Semua pemain lawan menjaga dengan ketat pergerakan dari anggota tim SMA Pelita.


Nadine memantulkan bola sekali lagi. Seorang pemain sudah berdiri di hadapan Nadine dan siap menghalau jika Nadine melakukan tembakan.


Nadine masih fokus membaca situasi.


Meniru gerakan spin off yang biasa dilakukan oleh Nathan, Nadine akhirnya bisa mengecoh pemain lawan yang tadi menghalau dirinya. Secepat kilat Nadine berlari ke arah ring seraya men-dribble bola.


Nadine melakukan lay up dan seorang pemain dari tim lawan berusaha melakukan block pada tembakan Nadine.


Sayanganya itu gagal dilakukan.


Bola yang ditembakkan Nadine berhasil masuk menembus ring dan menambah skor untuk tim basket putri SMA Pelita. Skor tim lawan semakin jauh terringgal sekarang.


Sorakan riuh dari pendukung tim basket SMA Pelita langsung menggema setelah Nadine mencetak skor.


"Apa karena kalian anak kembar, jadi kalian sama-sama bisa melakukan spin off sebagus tadi?" Christian bertanya pada Nathan seraya terkekeh.


"Aku tidak pernah mengajarkannya pada Nadine. Dan gadis itu selalu kesal setiap aku mengeluarkan jurus itu. Tapi sekarang dia malah menirunya dengan sangat bagus," sahut Nathan yang juga ikut terkekeh.


"Bukan hanya Nadine, aku juga kesal jika kau sudah mengeluarkan jurus andalanmu itu. Membuatku jadi terlihat bodoh di lapangan," timpal Christian yang masih belum berhenti tertawa.


"Aku tidak keberatan mengajarkannya kepadamu," tawar Nathan cepat.


"Mungkin aku bisa belajar, tapi aku yakin tidak akan sebagus saat kau yang melakukannya," jawab Christian merendah.


"Oh, ayolah! Jangan pesimis seperti itu!" Nathan menepuk punggung Christian.


Christian hanya mengangguk seraya tersenyum. Sepertinya pemuda yang satu ini memang murah senyum.

__ADS_1


"Nathan dan Christian. Kalian akrab sekarang?" Seseorang menyapa Nathan dan Christian.


Semua orang tentu saja kenal dengan pria yang membawa kamera di tangannya tersebut. Dia adalah Bang Rico, seorang fotografer basket keliling yang suka mengambil moment-moment penting di lapangan basket, entah itu di liga profesional maupun di liga antar sekolah semacam ini.


"Kami memang akrab sejak dulu, Bang! Hanya diatas lapangan saja kami bersaing," sahut Nathan cepat seraya menyambut uluran tangan dari Bang Rico. Keduanya melakukan salaman ala anak jaman sekarang. Christian pun melakukan hal yang sama.


"Coach Dion! Senang bisa berjumpa lagi disini. Tidak latihan bersama tim Putra Garuda?" Bang Rico ganti menyapa papa Dion yang duduk di samping Nathan.


"Sedang menyaksikan princess Nadine bermain. Takutnya ngambek kalau papanya tidak hadir di lapangan," jawab papa Dion seraya tertawa kecil. Sepertinya papa Dion dan bang Rico memang akrab.


"Baiklah, para pria. Aku akan berkeliling lagi. Tapi sebelumnya..." Bang Rico bersiap mengambil foto Nathan dan Christian.


"Hahaha, apa Abang akan menjadikan kami sampul di postingan terbaru Abang?" Tanya Nathan seraya merangkul pundak Christian. Keduanya tersenyum ke arah lensa kamera Bang Rico.


"Mungkin. Akan kuberi judul dua pria tampan yang berseteru kini sudah berdamai," sahut Bang Rico seraya terkekeh.


Pria itu sudah selesai mengambil foto Nathan dan Christian.


"Akan kukirim hasilnya ke akun kalian nanti," ucap Bang Rico lagi seraya berlalu dari hadapan Christian dan Nathan.


Para pemain dari kedua tim saling bersalaman sebagai bentuk fair play. Setelah itu para pemain kembali ke bench masing-masing sebelum akhirnya masuk ke ruang ganti.


"Nadine!" Bang Rico setengah berlari dari arah courtside untuk menghampiri Nadine.


Nadine menghentikan langkahnya dan tak jadi mengikuti teman-temannya yang sudah terlebih dahulu masuk ke ruang ganti pemain.


"Iya, Bang. Ada apa?" Nadine menjawab sapaan Bang Rico sambil balik bertanya.


"Penampilan yang luar biasa hari ini," puji bang Rico seraya mengacak puncak kepaka Nadine.


"Abang mengambil foto Nadihe tadi?" Tanya Nadine lagi seraya menunjuk ke arah kamera Bang Rico.


"Ada beberapa. Nanti kukirim ke akunmu," jawab Bang Rico cepat.


Nadine mengangguk.

__ADS_1


"Oh, ya. Boleh minta nomor ponselmu?" Bang Rico menyodorkan ponselnya pada Nadine.


"Hah? Mau buat apa?" Tanya Nadine sedikit salah tingkah. Selama ini Nadine biasa berkomunikasi dengan fotografer keliling seperti Bang Rico via DM instagram saja. Belum ada yang sampai meminta nomor ponsel kepada Nadine.


"Aku ada bisnis kecil-kecilan. Aku butuh brand ambassador. Rencananya aku pengen jadiin kamu brand ambassador buat beberapa produkku. Itupun kalau kamu tidak keberatan," jelas Bang Rico panjang lebar.


"Tapi Nadine belum ada pengalaman jadi brand ambassador, Bang," sahut Nadine tersipu malu.


"Nanti kamu bisa sambil belajar. Aku lihat follower instagram kamu lumayan banyak. Dan mayoritas remaja seusiamu. Jadi abang yakin ini akan jadi awal yang bagus," imbuh Bang Rico lagi.


"Memang produk apa saja, Bang?" Tanya Nadine penasaran.


"Ada t-shirt, ada makanan kecil juga, nanti aku jelasin lewat chat," jawab Bang Rico cepat.


Nadine mengangguk dan segera mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Bang Rico.


"Sudah," ucap Nadine seraya mengembalikan ponsel bang Rico.


"Oke, makasih! Nanti malam aku hubungi," tukas bang Rico seraya tersenyum.


Nadine balas tersenyum kepada Bang Rico sebelum melangkah pergi dan masuk ke ruang ganti menyusul teman-temannya.


Christian yang melihat keakraban diantara Nadine dan Bang Rico dari kejauhan, mendadak merasa cemburu.


Christian pikir, Nadine masih menyimpan perasaan kepadanya. Namun sepertinya saudara kembar Nathan itu memang hanya menganggap Christian sebagai temannya setelah mereka putus.


Apa Christian terlalu berharap dan salah mengartikan sikap Nadine kepadanya selama ini?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2