Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#11


__ADS_3

Nathan sudah tiba di depan sekolah Nadine.


Namun saudara kembarnya itu belum terlihat batang hidungnya. Nathan hanya mengendikkan bahu dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Pemuda itu membuka kaca helm fullface yang ia kenakan.


Nathan merasa sedikit aneh hari ini.


Nathan hampir setiap hari menjemput Nadine ke sekolahnya. Namun hari ini, perasaan Nathan saja atau memang anak-anak SMA Pelita sedang kompak melemparkan tatapan aneh mereka ke arah Nathan?


Nathan memilih untuk mengabaikan tatapan aneh dari siswa-siswa yang ada di depan sekolah Nadine. Pemuda itu kembali fokus ke ponsel di tangannya.


Namun tiba-tiba,


"Nathan Grahita? Kamu Nathan Grahita, ya?" Tanya seorang siswa SMA Pelita yang bertubuh agak tambun.


Nathan mengernyitkan dahinya, dan segera membuka helm di kepalanya.


"Ya, aku Nathan Grahita. Ada apa ya?" Tanya Nathan dengan ekspresi wajah datar dan sok cool.


Dan para siswa yang sedari tadi menatap Nathan dengan aneh, kini ganti berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.


Aneh.


"Apa benar kamu saudaranya Nadine Putri?" Tanya siswa bertubuh tambun tadi.


Nathan kembali mengernyitkan kedua alisnya,


"Ya, aku saudara kembar Nadine. Apa kau tahu dimana gadis itu? Bisa kau panggilkan dia sekarang?" Sahut Nathan mulai malas.


"Bener gaees, Nathan Grahita dan Nadine Putri ternyata saudara kembar," bukannya memanggilkan Nadine, siswa tambun tadi malah berteriak ke teman-temannya.


Nathan menggaruk kepalanya karena bingung.


"Eheeeem!" Deheman dari Nadine yang kini sudah berdiri di belakang siswa tambun tadi lumayan mengagetkan.


"Ini Nadine," sahut siswa tadi tanpa wajah berdosa.


Nadine hanya memutar bola matanya seraya mengenakan helm yang disodorkan oleh Nathan.


"Wajah kalian memang mirip. Berarti benar ya, kalian saudara kembar," ujar siswa tadi lagi. Dan siswa-siswa lain yang kini berdiri di depan SMA Pelita kembali berbisik-bisik sambil sesekali menatap pada Nathan dan Nadine.


Nathan mengenakan kembali helmnya setelah Nadine naik ke atas motornya. Tak butuh waktu lama, dan pemuda itu segera melajukan motornya meninggalkan sekolah Nadine.

__ADS_1


****


"Temen-temen kamu pada kenapa sih? Kayak gak pernah liat cowok ganteng saja," tanya Nathan yang sedang mendribble bola di tangannya.


Nadine sendiri sedang berdiri di depan Nathan dan menghalau saudara kembarnya tersebut agar tidak membawa bola ke dekat ring.


Nathan dan Nadine sedang melakukan workout di minicourt yang ada di halaman rumah mereka.


"Kamu belum tahu? Berita tentang Nathan Grahita yang merupakan saudara kembar dari Nadine Putri Grahita sedang viral di SMA Pelita," jawab Nadine dengan nada kesal.


"Hahaha, apa itu artinya aku sedang menjadi artis di sekolahmu?" Tanya Nathan dengan nada sombong.


Nadine mendengus kesal.


Dengan satu kali sentakan, gadis itu berhasil merebut bola dari Nathan yang lengah. Dengan cepat, Nadine men-dribble bola dan melakukan lay up ke arah ring basket.


Masuk!


"Yess!" Nadine bersorak senang.


"Tembakanmu payah, nona Nadine!" Nathan mengejek seraya mengambil bola.


Nadine hendak melakukan block, namun Nathan malah mengejek saudara kembarnya itu dengan memainkan bola di atas kepalanya, yang secara otomatis tidak bisa dijangkau oleh Nadine.


Meskipun keduanya kembar, namun Nathan memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari Nadine. Nathan dengan tingginya yang hampir seratus delapan puluh centimeter sangat jauh menjulang ketimbang tinggi Nadine yang hanya seratus enam puluh lima centimeter.


"Apa? Tidak sampai?" Ejek Nathan sekali lagi yang otomatis membuat Nadine semakin kesal.


Nathan segera bersiap melakukan tembakan tiga angka. Namun Nadine malah menarik baju Nathan dari belakang, hingga pemuda itu jatuh ke atas court.


Dan bola basket itupun terlepas dari tangan Nathan.


"Hei! Kau curang!" Protes Nathan pada Nadine yang kini sudah memungut bola dan melakukan tembakan tiga angka.


Masuk!


"Kau juga curang!" Sahut Nadine seraya mencibir.


Gadis itu berjalan ke arah teras untuk mengambil botol minumnya. Keringat Nadine sudah bercucuran di dahi dan wajahnya.


Nathan sendiri masih asyik memainkan bola basket dan beberapa kali melatih shooting tiga angkanya.

__ADS_1


Nadine berkacak pinggang di teras rumahnya seraya memperhatikan saudara kembarnya tersebut.


"Kau tidak latihan ke sekolah?" Tanya Nadine pada Nathan yang belum berhenti melatih tembakan tiga angkanya.


Nathan mengendikkan bahu,


"Jam berapa memangnya sekarang?" Nathan malah balik bertanya.


Nadine melirik jam di tangannya,


"Jam empat lebih lima belas menit," jawab Nadine santai.


"Apa?" Nathan yang terkejut segera melempar bola pada Nadine dan bergegas masuk ke rumah.


Nadine hanya terkikik melihat tingkah Nathan yang gelagapan karena sudah terlambat latihan.


Dasar ceroboh!


Tak berselang lama, Nathan sudah keluar lagi dari dalam rumah dan menggendong tasnya.


"Aku mungkin pulang agak malam. Sampaikan ke papa, oke!" Pesan Nathan seraya menghidupkan motornya.


Nadine hanya mencibir,


"Hati-hati bawa motor! Jangan ngebut!" Pesan Nadine pada saudara kembarnya tersebut.


"Iya, iya. Dasar bawel!" sahut Nathan yang suaranya nyaris tak terdengar karena pemuda itu berkata seraya melajukan motornya meninggalkan halaman rumah.


Nadine memandang ke arah perginya motor Nathan dan segera masuk ke rumah setelah motor saudaranya tersebut tak terlihat lagi dan menghilang di ujung gang.


Flashback off


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀

__ADS_1


__ADS_2