Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#49


__ADS_3

Nadine membuka laptop yang kini ada di pangkuannya.


Tujuan pertama dari gadis tujuh belas tahun tersebut tentu saja adalah beberapa rekaman video pertandingan basket. Nadine biasanya akan belajar beberapa trik baru dari video-video tersebut.


Nadine menyalakan ponselnya dan membuka aplikasi instagram miliknya. Ada DM masuk dari Annel.


[Emang kak Nadine tinggal di perumahan Green Garden juga?] -Annel-


[Bener, Annel. Rumah nomor lima yang ada di sebelah kiri jalan. Itu rumah aku sekaligus rumah Nathan. Main kesini gih!] -Nadine-


[Lagi di rumah emang?] -Annel-


[Iya nih. Di rumah sendirian jadi boring. Nathan sama papa sedang latihan bersama tim,] -Nadine-


[Annel kesitu bentar lagi. Tungguin di teras dong, Kak. Biar gak salah rumah. Hehe] -Annel-


[Oke siap! Pokoknya yang ada minicourt nya di depan. Itu rumah aku,] -Nadine-


[Oke! Annel OTW] -Annel-


Nadine tidak membalas pesan Annel lagi, dan segera keluar menuju teras. Gadis itu masih menenteng laptop dan ponselnya.


Nadine duduk di kursi teras dan kembali melanjutkan menonton video di laptopnya. Tak berselang lama, seorang gadis yang naik sepeda berhenti tepat di depan pagar rumah Nadine dan sedikit celingukan.


Nadine bergegas menuju ke arah pagar untuk memastikan kalau yang datang memang benar-benar Annel.


"Annel!" Sapa Nadine saat sudah di dekat pagar.


"Pagi, Kak!" Annel balas menyapa Nadine.


"Masuk, yuk!"ajak Nadine seraya membuka pagar rumahnya untuk Annel.


Annel mengangguk dan segera menuntun sepedanya masuk ke halaman rumah Nadine yang luas. Gadis itu berdecak berulang kali saat melihat minicourt yang ada di halaman rumah Nadine.


"Keren, Kak. Minicourtnya," puji Annel yang masih mengagumi minicourt tersebut.


"Kamu bisa ikut latihan disini, kapanpun kamu mau, Ann," ujar Nadine santai.


"Annel mana bisa main basket, Kak. Lihat bola di lempar aja Annel udah gugup duluan," sahut Annel seraya terkekeh.


Nadine mengajak Annel duduk di kursi teras.


"Tapi kayaknya kamu suka lihat pertandingan basket dan paham dengan istilah-istilah di dunia perbasketan," ujar Nadine mulai penasaran.


"Iya kalo semua teori mengenai pertandingan basket, Annel paham. Tapi prakteknya... ya gitu," jawab Annel yang kini menggaruk kepalanya.


"Aku ajarin main basket mau? Atau mau diajarin sama Nathan?" Tawar Nadine seraya menggoda Annel.


Wajah gadis itu menjadi bersemu merah.


"Kak Nathan kayaknya sibuk. Mana ada waktu ngajarin Annel main basket," timpal Annel yang masih tertunduk malu.


Sedangkan Nadine hanya terkekeh.


"Oh, iya. Novel kamu udah ada yang versi cetak, ya? Dimana itu kalo mau beli?" Tanya Nadine yang tiba-tiba ingat pada novel Annel.


"Bisa lewat aku langsung, Kak. Tapi kan aku udah kasih ke kak Nathan waktu itu. Kenapa gak pinjam punya kak Nathan aja?" Annel balik bertanya.

__ADS_1


"Mana mau Nathan minjami. Tu anak pelit plus ngeselin kalo sama aku," gerutu Nadine yang mulai curcol.


"Berarti yang di story kakak suka ngomel sama kak Nathan itu beneran ya? Annel kira cuma konten aja," sahut Annel seraya terkekeh.


"Gak ada konten-kontenan. Nathan itu asli ngeselin. Tapi gak tahu sih kalo sama kamu. Mungkin dia bakalan jaim. Hahaha," timpal Nadine yang kini tergelak.


Nadine masuk sebentar ke rumah. Tak berselang lama, Nadine sudah keluar lagi membawa minuman untuk dirinya dan Annel.


"Kamu punya kakak atau adek?" Tanya Nadine berbasa-basi dan sedikit kepo.


"Annel anak tunggal, Kak. Jadi dirumah cuma bertiga sama mama dan papa," jawab annel sebelum menyesap minuman yang disajikan oleh Nadine.


"Putri kesayangan berarti," timpal Nadine sedikit terkekeh.


"Saking kesayangannya. Kemana-mana selalu diantar sama mama dan gak boleh ini gak boleh itu," Annel tersenyum kecut.


"Itu semua demi kebaikan kamu, Ann! Jangan negative thinking begitu!" Nasehat Nadine bijak seraya menepuk punggung Annel.


"Selalu adem kalo denger nasehatnya kak Nadine. Mau dong jadi adeknya kak Nadine," sahut Annel tiba-tiba seraya terkikik.


"Bolehlah kita jadi kakak adek," Nadine ikut menimpali dan tertawa kecil.


Ponsel Annel berbunyi,


"Mama," gumam Annel sebelum mengangkat telepon.


"Iya, Ma," sambut Annel cepat.


"Kamu dimana, Ann? Bilangnya mau sepedaan? Kok lama sekali?"


"Teman yang mana? Kamu sepedaan sampai dimana memangnya?"


"Masih di kompleks, Ma. Rumah yang nomer lima. Mama bisa nyusul kesini kalau gak percaya," sergah Annel lagi yang sepertinya mulai kesal.


"Mama susul sekarang."


Annel menutup panggilan dari sang mama.


"Ada apa?" Tanya Nadine khawatir karena melihat raut wajah Annel yang berubah mencebik.


"Mama mau nyusul kesini. Dikiranya Annel kelayapan," jawab Annel sebal.


"Cuma main aja gak boleh. Kan nyebelin, Kak!" Annel mulai curhat.


"Jangan begitu, Ann! Mama kamu itu sayang sama kamu. Harusnya kamu bersyukur," nasehat Nadine sekali lagi.


Tak berselang lama, sebuah motor matic berhenti di depan pagar rumah Nadine.


"Itu mama kamu?" Nadine menunjuk ke arah pagar.


Annel hanya mengangguk malas dan segera bangkit berdiri untuk menghampiri sang mama.


"Mama percaya sekarang?" Ucap Annel ketus.


"Pagi, Tante," Nadine menyapa mama Annel dengan hangat dan ramah.


"Mama hanya khawatir, Ann. Mama takutnya kamu tersesat," ujar mama Annel dengan raut khawatir.

__ADS_1


"Kamu temannya Annel?" Mama Annel ganti bertanya pada Nadine.


"Iya, Tante. Saya Nadine. Mari masuk dulu, Tan!" Aja Nadine ramah.


"Tidak usah! Tante langsung pulang saja," tolak mama Annel halus.


"Annel!"


"Annel masih mau main, Ma!" Sergah Annel yang masih mencebik.


"Iya, baiklah. Nanti pulangnya sebelum jam makan siang, ya!" pesan mama Annel seraya mengusap kepala sang putri.


Annel mengangguk mengiyakan pesan sang mama.


"Mama pulang dulu. Bye!" Mama Annel melambaikan tangan pada Annel dan Nadine sebelum berlalu pergi.


"Cuma main aja diatur-atur," gerutu Annel seraya berjalan ke arah teras rumah Nadine.


"Itu artinya mama kamu sayang sama kamu, Ann!" Timpal Nadine seraya merangkul pundak Annel.


"Kalau kayak kak Nadine enak. Bisa main kapanpun tanpa ada yang ngatur-ngatur," ujar Annel yang kini sudah duduk di bangku teras.


"Kata siapa? Aku juga harus izin ke papa kalau mau pergi," sergah Nadine cepat.


"Tapi kan papanya kak Nadine gak ada di rumah. Kakak pergi sebentar juga gak bakal ketahuan," timpal Annel tak mau kalah.


"Itu namanya tanggung jawab, Annel. Meskipun papa gak dirumah dan gak melihat, tapi aku tetep harus minta izin kalau mau pergi. Dan sejak kecil aku sama Nathan udah dibiasakan untuk selalu bertanggung jawab dengan semua hal yang kami lakukan," ujar Nadine panjang lebar.


Annel hanya manggut-manggut seolah paham dengan apa yang dijelaskan Nadine barusan.


"Kak Nathan udah punya pacar ya, Kak?" Tanya Annel mengalihkan topik pembicaraan.


Nadine tersenyum mendengar pertanyaan dari Annel.


"Belum. Dia udah hampir setahun jomblo. Kamu mau jadi pacarnya Nathan?" Sahut Nadine yang kini terkekeh.


Wajah Annel sontak bersemu merah.


"Kak Nathan mana mau sama aku yang gendut begini," jawab Annel seraya menunduk dan menyembunyikan wajah merahnya.


"Kamu itu gak gendut. Tapi nge-gemesin, Ann!" Nadine mencubit pipi chubby Annel.


Sudah sejak tadi Nadine gemas melihatnya.


"Kak Nadine!" Protes Annel seraya mencebik.


Bukannya merasa bersalah, Nadine malah semakin tergelak dan masih tak berhenti menggoda Annel.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2