Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#23


__ADS_3

"Mau keluar bareng, Chris?" Tepukan dari Nathan segera membuyarkan lamunan Christian tentang Nadine.


"Eh, kamu duluan saja, Nathan. Aku masih ingin duduk disini," sahut Christian cepat sedikit gelagapan.


"Baiklah, kalau begitu. Aku duluan," pamit Nathan seraya pergi meninggalkan bangku courtside.


Papa Dion yang sedang berbicara di telepon mengikuti langkah Nathan dan melambaikan tangan pada Christian.


Setelah kepergian Nathan dan papa Dion, Christian pindah ke atas tribune dan duduk termenung di salah satu bangku tribune seraya menatap pada court basket yang sekarang sudah kosong. Pemuda itu segera larut dalam lamunan hingga sebuah tepukan membuat Christian kaget dan jantungnya nyaris menggelinding dari rongganya.


"Chris! Masih disini?" Tanya Audy seraya duduk di sebelah Christian.


Astaga!


Sejak kapan kapten tim basket putri ini ada disini? Bukankah seharusnya gadis ini masih berada di ruang ganti.


Christian bergumam dalam hati.


"Iya, nih. Lagi menikmati kesepian di dalam gedung olahraga," jawab Christian seraya terkekeh.


"Aku kira lagi nungguin Nadine," timpal Audy yang ikut terkekeh.


Christian hanya tertawa sumbang.


"Nadine sudah dijemput oleh papanya di depan," sahut Christian cepat.


"Aku pikir kalian jadian lagi," ucap Audy yang langsung membuat Christian menoleh ke arah gadis tersebut.


"Memangnya apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Tanya Christian cepat.


"Kalian terlihat dekat belakang ini," jawab Audy seraya memainkan kedua jari telunjuknya.


"Apa kau cemburu?" Tanya Christian terkekeh.


Audy tak langsung menjawab dan malah ikut terkekeh.


"Memangnya aku siapa? Kenapa juga aku harus cemburu?" sahut Audy seraya mengendikkan bahunya.


"Ya, mungkin saja kau menaruh perasaan kepadaku. Aku kan pria tampan di SMA Pelita," jawab Christian seraya menumpukan kedua tangannya di belakan kepalanya. Pemuda tersebut menyandarkan tubuhnya di bangku tribune yang tidak terlalu besar tersebut.


"Dasar geer!" Audy meninju bahu Christian.


"Aku bukan geer. Aku bicara kenyataan," sanggah Christian cepat sembari beranjak dari duduknya.


Audy hanya mencibir.

__ADS_1


"Kau pulang bersama siapa?" Tanya Christian lagi pada Audy.


Audy mengendikkan bahunya,


"Aku tidak membawa kendaraan. Jadi aku mungkin akan mencari tumpangan," Audy menaik-turunkan alisnya searya memasang wajah manis ke arah Christian.


"Sudah kuduga. Baiklah! Ayo aku antar pulang!" Christian merangkul pundak Audy dan kedua kapten tim basket itupun melangkah keluar meninggalkan gedung olahraga.


Matahari sudah hampir terbenam di cakrawala, menyisakan semburat oranye yang memancar memenuhi langit sore.


****


Nadine baru saja masuk ke mobil sang papa dan memasang sabuk pengaman, saat gadis itu melihat Christian yang juga meninggalkan gedung olahraga menaiki motornya dan membonceng Audy.


"Christian pacaran sama Audy?" Tanya Nathan dari jok belakang. Sepertinya saudara kembar Nadine tersebut juga memperhatikan Christian yang naik motor bersama Audy.


Nadine hanya mengendikkan bahunya,


"Rumor yang beredar di sekolah sih, begitu. Aku rasa mereka memang berpacaran," jawab Nadine lirih.


"Papa harus latihan malam bersama tim. Mungkin besok pagi papa baru pulang. Kalian tidak apa-apa Papa tinggal? " tanya papa Dion memotong pembicaraan Nathan dan Nadine.


"Tidak apa-apa. Tapi kami lapar, Pa!" Sahut Nathan dari jok belakang.


Pria paruh baya tersebut mulai melajukan mobilnya meninggalkan gedung olahraga.


"Tagihan di kafe om Vian bulan kemarin sudah papa bayar?" Tanya Nadine cepat dengan raut wajah serius.


"Sudah. Dan om Vian menolaknya. Jadi papa ambil lagi uang papa," jawab papa Dion dengan nada santai.


Nathan yang duduk di bangku belakang sontak tergelak.


"Apa itu artinya kami hanya makan gratis sebulan kemarin?" Tanya Nathan yang masih belum berhenti tertawa.


"Bukan hanya bulan kemarin, bulan ini dan bulan selanjutnya kalian bisa makan gratis terus di kafe om Vian," ujar papa Dion yang masih fokus pada jalan padat di depannya.


Saat ini sedang jam pulang kantor, jadi wajar jika lalu lintas sedikit tersendat.


"Papa akan membuat kafe om Vian bangkrut," sergah Nadine seraya bersedekap.


"Jangan salahkan papa! Om Vian yang bersikeras dan terus menolak setiap kali papa membayar tagihan," sangkal papa Dion membela diri.


Nadine hanya memutar bola matanya.


"Sudahlah, Nad! Kalau memang om Vian bersikeras, kenapa kamu harus sewot?" Timpal Nathan yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya.

__ADS_1


"Ya, kan aku jadinya sungkan, Nathan," ujar Nadine yang masih mencebik.


"Kalian itu sudah dianggap om Vian sebagai anaknya. Jadi tidak perlu diambil pusing soal makan gratis di kafe om Vian," tukas papa Dion menengahi perdebatan di antara Nathan dan Nadine.


Nadine hanya berdecak.


"Berarti kalau Nathan anaknya om Vian, boleh dong Nathan ngajak teman-teman nongkrong gratis di kafe om Vian," ujar Nathan berandai-andai.


"Tahu diri dikit bisa gak sih? Udah bagus dikasih makan gratis setiap hari, masih saja mau memanfaatkan situasi," Nadine berbalik dan mendelik ke arah Nathan.


Nathan mencebik,


"Kan aku hanya berandai-andai. Kamu galak sekali, Nad!" Keluh Nathan yang masih mencebik.


Papa Dion hanya terkekeh mendengar perdebatan kefua anak kembarnya.


Mobil papa Dion sudah tiba di depan gedung mess tim basket Putra Garuda.


"Ingat, jangan kelayapan setelah dari kafe! Langsung pulang, kerjakan tugas dan jangan tidur larut malam," papa Dion berpesan pada kedua anaknya sebelum turun dari mobil.


"Siap, Papa!" Jawab Nathan dan Nadine serempak.


"Dan jangan lupa untuk mengunci pintu da jendela sebelum tidur. Papa pulang besok pagi," papa Dion sudah mdmbuka sabuk pengamannya dan bersiap turun.


Pria paruh baya itu membuka pintu mobil.


"Dan segera telpon papa kalau ada hal darurat," pungkas papa Dion sebelum benar-benar turun dari mobilnya.


Nathan segera berpindah ke kursi kemudi untuk menggantikan posisi papa Dion.


"Hati-hati menyetir, Nathan! Jangan ngebut!" Pesan papa Dion pada Nathan yang kini sudah duduk di kursi pengemudi.


"Siap, Papa! Kami pergi dulu," sahut Nathan cepat.


"Bye, Papa!" Nadine melambaikan tangan pada papa Dion sesaat sebelum Nathan melajukan mobil papa Dion meninggalkan gedung mess.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2