Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#37


__ADS_3

Nadine baru saja pulang, saat mendapati Nathan yang tengah bermain basket sendirian di minicourt yang ada di halaman rumah mereka.


"Nathan! Tidak latihan?" Tanya Nadine to the point.


"Libur," jawab Nathan malas.


Pemuda itu kembali melakukan shooting tiga angka.


Nadine meletakkan tasnya di teras rumah dan kembali menghampiri Nathan yang sepertinya tidak sedang baik-baik saja. Sebagai saudara kembar Nathan, tentu saja Nadine adalah orang yang paling peka jika ada satu hal yang tidak beres dengan pemuda tersebut.


"Ada apa?" Tanya Nadine seraya merebut bola dari tangan Nathan.


"Berikan!" Bukannya menjawab, Nathan malah meminta kembali bolanya dengan nada galak.


"Kamu kenapa, Nath?" Tanya Nadine sekali lagi sambil menyembunyikan bola basket di punggungnya.


"Berikan bolanya!" Gertak Nathan lagi dengan nada setengah berteriak.


Nathan berusaha mengambil bola dari tangan Nadine dengan kasar. Namun Nadine kekeh mempertahankan bola tersebut.


"Berikan!" Sergah Nathan lagi seraya mendorong Nadine dengan kasar.


Nadine jatuh terduduk di atas lantai court dan bola berhasil lepas dari tangan gadis itu. Cepat-cepat Nathan mengambilnya tanpa peduli pada Nadine yang masih terduduk di atas lantai court.


Nathan kembali men-dribble bola dan melakukan gerakan lay up.


"Bisa minggir gak kamu? Mau apa aku tendang?" Sergah Nathan kasar pada Nadine yang belum beranjak bangun.


"Bantuin, beg*!" Sahut Nadine sebal. Gadis itu kini mencebik.


Nathan ikut-ikutan mendengus sebal sebelum akhirnya mengulurkan tangannya pada Nadine dan membantu gadis itu berdiri.


"Kamu kenapa sih, Nath?" Tanya Nadine sekali lagi. Saudara kembar Nathan tersebut, kini berdiri di pinggir court dan masih menanti jawaban dari Nathan.


"Gak apa-apa," jawab Nathan dengan nada malas. Nathan melakukan tembakan ke arah ring namun meleset.


"Kamu itu lagi kacau. Gak ada gunanya berlatih kayak orang kesetanan begitu. Buang-buang tenaga!" Sergah Nadine seraya bersedekap dan menatap kesal pada Nathan.


"Gak usah sok tahu!" Sahut Nathan yang kini juga menatap tajam pada Nadine.


Dua saudara kembar yang berbeda jenis kelamin tersebut saling melempar tatapan tajam, seakan tak ada yang mau mengalah.


"Bukan sok tahu. Tapi aku memang tahu" sergah Nadine cepat.


Nathan menghentikan aktivitasnya dan berjalan mendekat ke arah Nadine.


"Aku didepak dari posisi kapten tim basket sekolah," ucap Nathan pada Nadine, sebelum pemuda itu berjalan menuju teras rumah.

__ADS_1


Nathan duduk di teras rumah seraya menyelonjorkan kakinya. Pemuda tersebut meneguk air putih di botol minumnya hingga tandas.


"Bagaimana bisa? Apa ini ada hubungannya dengan turnamen 3x3 yang sebentar lagi kamu ikuti?" Tanya Nadine yang kini sudah ikut duduk di teras bersama Nathan.


Nathan mengangguk,


"Ya," jawab Nathan singkat.


"Sebenarnya aku tidak terlalu keberatan. Hanya saja aku tidak suka dengan rumor buruk tentang diriku yang kembali beredar di sekolah," imbuh Nathan lagi dengan nada lesu.


Tampak sekali raut kekecewaan di wajah Nathan.


"Rumor apa lagi? Tentang klub Putra Garuda?" Tebak Nadine cepat.


Nathan mengangguk samar.


Nadine hanya bisa menatap prihatin pada saudara kembarnya tersebit.


"Rasanya sungguh menyakitkan, saat kau sudah berusaha dengan keras demi bergabung dengan klub impianmu. Tapi orang lain tidak pernah melihat usahamu itu dan hanya menilai dari sisi yang paling buruk," gumam Nathan dengan nada penuh kekecewaan.


Nadine menepuk punggung Nathan.


"Apa kau tidak ingin pindah ke klub lain?" Tanya Nadine dengan nada serius.


"Apa?" Nathan mengernyit tak mengerti.


Nathan tersenyum kecut,


"Aku tidak bisa melakukan itu, Nad! Aku sudah terikat dan tanda tangan kontrak dengan tim Putra Garuda junior dua tahun kedepan," sahut Nathan cepat.


Nadine hanya menghela nafas.


"Kau benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu," Nadine menepuk dahinya sendiri.


Nathan masih tertunduk seraya memutar-mutar bola basket di hadapannya.


"Aku memang tidak sehebat papa, tapi aku selalu berusaha untuk meningkatkan skill basketku. Tapi entah kenapa tidak ada yang melihat hal itu," ucap Nathan lagi masih dengan nada yang kurang bersemangat.


"Kau itu hebat, Nath!" Nadine kembali menepuk punggung Nathan.


"Aku rasa kau hanya belum bisa mengelola emosimu dan masih kurang percaya diri," ujar Nadine yang mulai berteori.


"Namun seiring berjalannya waktu, aku yakin kalau kau akan lebih banyak belajar lagi dan menjadi pemain basket profesional yang lebih hebat dari papa," tutur Nadine optimis.


Nathan menatap ke arah saudara kembarnya tersebut.


"Menurutmu begitu?" Tanya Nathan yang sepertinya masih ragu.

__ADS_1


Nadine mengangguk dengan yakin.


"Tetaplah menjadi dirimu sendiri! Dan berusahalah untuk cuek dengan kabar-kabar burung yang tidak penting itu," nasehat Nadine bijak.


Nathan tertawa kecil.


"Tunggu! Kita seumuran. Tapi kenapa pemikiranmu selalu lebih dewasa ketimbang diriku?" Tanya Nathan tak mengerti.


Nadine mengendikkan bahu,


"Mungkin karena seorang gadis lebih cepat dewasa psikisnya ketimbang kalian para pria yang suka sekali bersikap kekanak-kanakan," ujar Nadine seraya terkekeh.


"Kami senang dimanja. Lalu apa masalahnya?" Sahut Nathan mencari pembenaran.


"Tidak akan jadi masalah jika kalian bermanja-manjaan di saat dan di tempat yang tepat," timpal Nadine seraya mencibir.


"Tempat yang tepat? Bisakah kau memberikan contoh?" Tanya Nathan pura-pura polos.


"Aku tidak akan memberikan contoh karena aku yakin kau sudah paham!" Nadine menuding ke arah Nathan.


Terang saja hal itu langsung membuat Nathan tergelak.


"Apa Christian juga suka bermanja-manjaan jika bersamamu?" Goda Nathan seraya menaik-turunkan alisnya.


"Kenapa membawa-bawa Christian? Kita sedang membahas dirimu dan krisis kepercayaan dirimu itu," sergah Nadine yang sepertinya sedikit salah tingkah.


Nathan semakin terbahak.


"Wajahmu merah," ujar Nathan yang masih terbahak seraya menunjuk ke arah wajah Nadine.


"Ini karena efek sinar matahari. Tidak ada hubungannya dengan Christian," sanggah Nadine cepat.


"Kau yakin?" Nathan masih belum berhenti menggoda Nadine.


"Sudahlah! Aku akan masuk dan mandi," ucap Nadine seraya bangkit berdiri.


Nadine menyambar tasnya yang ada di kursi teras dan segera masuk ke rumah meninggalkan Nathan yang masih tertawa di teras.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀

__ADS_1


__ADS_2