Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#62


__ADS_3

Satu pekan berlalu,


Nadine sedang workout sendiri di minicourt, saat mobil Christian berhenti tepat di depan rumahnya.


Gadis itu segera menghentikan aktivitasnya dan mendekat ke arah pagar untuk menghampiri Christian.


"Hai! Kau berangkat hari ini?" Tanya Nadine seraya memindai penampilan Christian sore ini, pemuda itu sudah terlihat rapi dan siap pergi.


"Ya, masih sekitar tiga jam lagi," Christian melirik arloji di tangannya sebelum berjalan masuk ke halaman rumah Nadine.


"Kau tidak ingin mengantarku ke bandara?" Tanya Christian yang kini sudah memegang bola basket di tangannya.


"Tidak!" Jawab Nadine terkekeh.


"Jahat sekali," cebik Christian yang kini men-dribble bola dan menembakkannya ke arah ring.


"Lawan aku!" Christian melemparkan bola pada Nadine, memberi kode untuk bertanding one on one.


Nadine segera menerima bola yang dilempar oleh Christian dan men-dribble-nya ke arah ring. Christian menghalau Nadine yang hendak melakukan shooting, namun gagal. Nadine berhasil menyelip dan melakukan lay up.


Masuk!


"Kakimu baru pulih, Chris! Aku khawatir-" Nadine belum menyelesaikan kalimatnya saat bola di tangannya kembali direbut oleh Christian.


"Chris!" Nadine berjalan ke pinggir lapangan dan enggan melanjutkan permainan. Gadis itu bersedekap sekaligus mencebik.


Christian segera menyusul Nadine ke pinggir lapangan seraya masih menenteng bola basket di tangannya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Christian yang kembali memainkan bola basket di tangannya.


"Aku tidak mau cedera di kakimu semakin parah. Kau baru pulih. Seharusnya kau belum boleh bermain," cecar Nadine masih mencebik kesal.


Christian tergelak,


"Aku tidak akan bisa lagi bermain basket bersamamu beberapa bulan ke depan. Jadi sebelum berangkat, aku ingin melawanmu dulu, agar aku bisa menyimpannya di dalam memori otakku," ujar Christian yang kini sudah merengkuh kedua bahu Nadine dan menempelkan keningnya ke kening Nadine.


Nadine hanya diam dan menatap ke arah manik mata Christian.

__ADS_1


Christian semakin mendekatkan wajahnya pada Nadine, dan kini jarak keduanya semakin dekat. Hanya tinggal beberapa centi lagi, bibir Christian siap menempel di bibir Nadine. Namun secepat kilat Nadine mengangkat tangannya dan menghalangi bibir Christian.


"Tidak semudah itu, Chris!" Gumam Nadine seraya tertawa kecil.


Christian menghela nafas frustasi, dan sudah melepaskan kedua lengannya dari pundak Nadine. Meskipun gagal mendapatkan ciuman dari Nadine, tapi entah mengapa Christian merasa lega. Setidaknya Christian berhasil membuktikan kalau Nadine adalah gadis baik-baik yang memiliki prinsip.


"Ayo, Nadine! Kita bermain sekali lagi," ajak Christian sedikit memaksa.


Nadine hanya menghela nafas sejenak dan segera menangkap bola yang dilemparkan oleh Christian. Dua remaja tersebut kembali melakukan pertandingan one on one.


Matahari sudah bergulir ke arah barat, saat Christian dan Nadine mengakhiri permainan mereka. Keduanya duduk sebentar di atas court seraya meneguk air minum.


"Kau akan berangkat sebentar lagi?" Tanya Nadine seraya menatap ke wajah Christian yang selalu terlihat cool.


"Ya. Apa kau akan merindukanku setelah ini?" Tanya Christian sedikit terkekeh.


"Kita masih bisa video call. Kenapa aku harus rindu?" Sahut Nadine seraya memainkan tali sepatunya.


"Tapi kau tidak bisa menyentuhku seperti ini," Christian meraih tangan Nadine dan menggenggamnya erat.


Christian memeluk Nadine sebagai tanda perpisahan,


"Jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatan, jangan telat makan, dan jangan jatuh cinta pada cowok lain selain aku," pesan Christian sedikit terkekeh.


"Maaf. Pesan yang terakhir apa boleh di langgar?" Tanya Nadine berusaha menahan tawanya agar tak meledak.


"Tidak boleh!" Jawab Christian tegas.


"Aku akan langsung pulang, dan menikahimu kalau mengetahui kau punya seorang pacar baru," imbuh Christian lagi masih denagn nada tegas.


"Hmmmm. Kalau nggak ketahuan nggak papa berarti, ya?" Gumam Nadine yang masih bisa di dengar oleh Christian.


"Tetap tidak boleh!" Ulang Christian dengan nada tegas.


Nadine baru akan menjawab, namun tanpa diduga tanpa dinyana, Christian tiba-tiba sudah menangkup wajah Nadine dan mencium bibirnya dengan lembut tapi dalam.


Nadine hanya diam mematung dan merasa bingung tentu saja. Tapi Nadine tidak melawan dan membiarkannya saja.

__ADS_1


Jadi seperti ini rasanya dicium oleh seorang cowok?


Ini benar-benar pertama kalinya bagi Nadine dicium oleh lawan jenis.


"Kau milikku dan hanya akan menjadi milikku. Jadi tidak boleh ada cowok lain di hatimu," ujar Christian yang sudah melepaskan ciumannya pada Nadine.


Pemuda itu mengklaim secara sepihak kalau Nadine adalah miliknya. Dan Nadine masih berdiri melongo, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Sejak kapan kau jadi posesif begitu kepadaku?" Tanya Nadine yang akhirnya buka suara.


Christian tersenyum tipis, dan membuka pintu mobilnya.


"Sejak kau resmi menjadi calon istriku," jawab Christian seraya masuk ke dalam mobil.


Pemuda itu menurunkan kaca samping.


"Baiklah, terserah kau saja." Nadine mendekatkan kepalanya ke arah jendela mobil Christian.


"Jaga kesehatan di sana, belajar yang rajin, jangan tebar-tebaf pesona." Nadine menjeda kalimatnya sejenak dan Christian hanya tergelak di dalam mobil.


"Dan, telpon aku jika kau merindukanku," pungkas Nadine seraya mencubit pipi Christian.


"Nad!" Christian melayangkan protes.


"Oke, Bye! Hati-hati! Safe flight!" Nadine melambaikan tangan ke arah Christian. Dan tak butuh waktu lama, mobil Christian segera melaju meninggalkan rumah Nadine.


Nadine terus memandang hingga mobil itu berbelok di ujung jalan dan tak terlihat lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀

__ADS_1


__ADS_2