Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#6


__ADS_3

Nadine celingukan di depan gerbang sekolahnya.


Gadis itu berulang kali melihat arloji di tangannya untuk melihat jam.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Nadine. Kaca samping mobil diturunkan dan terlihat Christian yang duduk di pintu pengemudi,


"Hai, belum pulang?" Sapa Chris ramah.


Nadine mengulas senyum di bibirnya,


"Masih nunggu jemputan," jawab Nadine masih tersenyum.


"Aku antar mau?" Tawar Chris berbasa-basi.


Nadine menggeleng cepat,


"Tidak terima kasih, Chris," tolak Nadine halus.


Chris hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Baiklah. Aku duluan. Bye!" Chris melambaikan tangan pada Nadine dan segera menaikkan kembali kaca samping mobilnya.


Nadine membalas lambaian tangan Chris sebelum mobil Chris berlalu dari hadapannya.


Sepuluh menit berlalu dan akhirnya Nathan tiba di sekolah Nadine.


Nadine bersedekap kesal pada saudara kembarnya tersebut.


"Kau terlambat lima belas menit, Nathan!" Ujar Nadine kesal.


"Sorry, aku harus mengantar Vero dulu," Nathan mencari alasan.


Nadine memakai helm yang disodorkan oleh Nathan dan segera naik ke atas motor saudara kembarnya tersebut.


"Pacarmu itu kan anak orang kaya, kenapa tidak naik mobil sendiri atau membawa sopir pribadi misalnya," keluh Nadine yang kini sudah naik di atas motor Nathan.


Nathan tidak menjawab dan pemuda itu memilih untuk segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Selang lima belas menit, motor Nathan masuk ke halaman parkir sebuah kafe.


"Kita numpang makan siang di sini saja. Aku sudah lapar," keluh Nathan sesaat setelah memarkirkan motornya.


Ini adalah kafe milik Om Vian yang merupakan sahabat dekat papa Dion. Nathan dan Nadine juga sering nongkrong serta makan siang di kafe ini saat pulang sekolah.


Tentu saja papa Dion yang akan membayarnya nanti saat tagihan sudah menumpuk. Meskipun sebenarnya masih menjadi sebuah misteri apa papa Dion benar-benar membayar semua tagihannya atau Nathan dan Nadine hanya makan gratis selama ini?


Nadine segera masuk ke kafe dan Nathan mengekor di belakang saudaranya tersebut.


Seperti biasa, mereka mengambil tempat yang ada di sudut kafe.


Nadine mengeluarkan beberapa buku dari tasnya setelah memesan menu. Gadis itu akan sekalian mengerjakan tugas sekolahnya di kafe ini.


Berbeda dengan Nathan yang masih sibuk memainkan ponselnya.


Nathan tidak bisa mengerjakan tugas saat perutnya keroncongan. Jadi Nathan akan makan siang dulu baru nanti ia mengerjakan tugas sekolahnya.


"Ada anak baru di sekolah kamu?" Tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


Pemuda itu masih sibuk men-scroll feed instagram miliknya untuk melihat berita hangat hari ini.


"Ya, namanya Christian pindahan dari SMA Harapan. Apa dia temanmu?" Jawab Nadine seraya menatap pada saudaranya tersebut.


Nathan mengendikkan bahu,

__ADS_1


"Aku tidak mengenalnya," jawab Nathan berbohong.


Nadine tertawa garing,


"Lucu sekali, mengingat kau adalah kapten tim basket dan aku dengar Chris juga anggota tim basket. Tidak mungkin kau tidak mengenalnya," sahut Nadine pedas.


"Iya aku hanya mengenalnya sebagai anggota tim basketku. Tapi aku tidak satu kelas dengannya dan aku juga tidak dekat dengannya." sekali lagi Nathan berbohong.


Nadine hanya memutar bola matanya dan lanjut mengerjakan tugas di bukunya.


Pesanan sudah datang.


Nathan yang sudah kelaparan segera meraih piringnya dan melahap makanannya dengan cepat.


Berbeda dengan Nadine yang makan sambil mengerjakan tugasnya.


Dasar gadis aneh!


Tak butuh waktu lama, dan makanan di piring Nathan sudah tandas tak bersisa.


"Aku kenyang," seru Nathan norak.


Untunglah pengunjung kafe tidak terlalu banyak. Jadi tidak ada yang memperhatikan tingkah norak Nathan barusan.


Hanya Nadine yang menatap kesal pada saudara kembarnya tersebut.


Kadang Nadine merasa aneh memiliki saudara kembar yang suka bersikap memalukan seperti ini. Apa benar mereka dulu pernah berbagi tempat di rahim sang mama? Kenapa sifat mereka bisa berbeda jauh seperti ini?


"Kerjakan tugasmu jangan lupa! Aku tidak mau membantumu kalau kau lupa mengerjakan peer," ujar Nadine mengingatkan.


Nathan mencibir,


"Memangnya kapan aku minta bantuanmu untuk mengerjakan peerku?" Sahut Nathan seraya mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.


"Saat kau harus berlatih hingga malam, lalu saat kau harus ikut pertandingan basket antar sekolah. Jika kau lupa, aku yang membantumu mengerjakan semua peermu itu," timpal Nadine dengan nada ketus.


Nadine terkikik,


"Aku tidak keberatan membantu mengerjakan peermu lagi jika bayarannya sebuah sepatu," timpal Nadine masih terkikik.


"Tidak, terima kasih! Aku masih sanggup mengerjakan peerku sendiri," sahut Nathan cepat.


Pemuda itu kembali mengerjakan tugas di bukunya.


Sesaat suasana menjadi hening karena Nadine dan Nathan sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


"Temenin aku latihan sebentar ya! Di court dekat sini," pinta Nathan seraya membereskan buku-bukunya dari atas meja kafe.


Nathan dan Nadine sudah selesai mengerjakan tugas sekolah. Makanan dan minuman yang tadi mereka pesan juga sudah tandas tak tersisa.


"Aku tidak bawa baju ganti, Nathan!" Sahut Nadine merasa malas.


"Aku bawa dua. Kau bisa memakai kausku!" Nathan mengeluarkan sebuah kaus yang masih terlipat rapi dari dalam tasnya dan melemparkannya pada Nadine.


Nadine menangkapnya dengan cepat dan mencium sebentar aroma kaus itu untuk memastikan kalau itu benar-benar kaus baru dan belum dipakai oleh Nathan.


"Aku akan ganti baju sebentar. Tunggu saja di parkiran dan bawakan tasku!" Nadine melempar tasnya pada Nathan sebelum berlalu menuju toilet kafe.


Nathan pun keluar dari kafe tersebut dan menunggu Nadine di tempat parkir.


Setelah Nadine kembali dari toilet kafe, dua saudara kembar itupun segera menuju ke lapangan basket kecil yang ada di dekat taman kota.


"Kenapa tidak latihan di sekolah saja?" Tanya Nadine seraya melempar bola pada Nathan. Dua saudara kembar itu bermain basket bersama.

__ADS_1


"Males," jawab Nathan singkat.


Pemuda itu kembali menembakkan bola ke arah ring.


Masuk!


Gantian Nadine yang mendribble bola dan ganti menembakkan bola ke ring basket.


Meleset!


Nathan tertawa mengejek,


"Kau tidak pernah berlatih?" Ejek Nathan yang masih tertawa.


Nadine hanya mencibir, dan mencoba menghalangi langkah Nathan yang akan kembali melakukan tembakan tiga angka.


Nathan melakukan spin, namun Nadine bisa membaca dengan cepat pergerakan saudara kembarnya tersebut dan langsung merebut bola dari Nathan.


Dengan satu lay up, Nadine berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Sekarang gadis itu ganti tersenyum mengejek ke arah Nathan.


"Kenapa Chris memilih pindah ke SMA Pelita. Aku lihat permainannya bagus. Sepertinya anak itu punya bakat istimewa," Nadine masih berusaha merebut bola dari tangan Nathan.


"Entahlah, aku juga kurang tahu. Dia pemain kesayangan pelatih padahal waktu di tim basket Harapan," sahut Nathan pura-pura tidak tahu.


Jelas-jelas Chris pindah karena perseteruannya dengan Nathan ditambah rumor-rumor yang menyudutkan Chris.


"Tapi Chris lumayan ganteng. Mungkin aku akan menjadikannya pacar jika dia mau," timpal Nadine seraya terkekeh.


Bola yang sedang ditembakkan oleh Nathan langsung melayang tak tahu rimbanya.


Nathan mendadak kehilangan konsentrasi setelah mendengar kata-kata Nadine barusan.


"Chris gak bakal mau sama cewek galak sepertimu," cibir Nathan seraya memungut bola yang keluar dari lapangan.


Nadine merebut bola dengan cepat dari tangan Nathan dan melemparnya dengan keras ke arah kepala saudara kembarnya tersebut.


"Auuw! Sakit tahu!" Keluh Nathan yang merasa tak terima di lempar bola oleh Nadine.


Namun Nadine hanya nyengir kuda dan tidak merasa bersalah.


Ponsel Nadine yang ada di tas berbunyi,


Buru-buru gadis itu mengangkatnya setelah tahu sang papa menelpon. Nadine berbicara sebentar dengan papa Dion di telpon sebelum kembali mendekati Nathan.


"Papa sudah sampai rumah. Ayo kita pulang!" Ajak Nadien pada Nathan yang masih mencoba melakukan tembakan tiga angka.


Matahari memang sudah bergulir ke arah barat dan kini nyaris terbenam.


Nathan mengambil botol minuman dari tasnya dan meneguk isinya hingga tandas.


"Ayo!" Ajak Nathan seraya membawa tasnya ke pundak.


Nadine memungut bola yang masih ada di tengah lapangan dan segera mengikuti langkah saudara kembarnya tersebut menuju tempat parkir.


Hari sudah menjelang malam saat dua remaja itu meninggalkan taman kota dan pulang ke rumah mereka.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2