
Nathan dan Nadine sedang menonton televisi di ruang tengah, saat papa Dion tiba di rumah.
"Nathan!" Sapa papa Dion seraya mengulurkan sebuah amplop putih pada Nathan.
"Apa ini, Pa?" Tanya Nathan tak mengerti.
"Buka saja!" Ucap papa Dion seraya menghenyakkan dirinya di sofa di samping Nadine.
Pria paruh baya tersebut merangkul pundak sang putri.
Nathan membuka amplop putih yang tadi diangsurkan papa Dion dan segera membaca isi dari surat di dalamnya. Dahi Nathan terlihat mengernyit dan ekspresi wajahnya terlihat tak percaya.
"Ini beneran, Pa?" Tanya Nathan dengan wajah yang ganti berbinar senang.
"Papa juga tidak percaya awalnya. Tapi itu memang benar. Selamat, Nathan!" Ucap papa Dion seraya tersenyum bangga.
"Ada apa sih, Pa?" Tanya Nadine kepo. Gadis itu segera merebut surat yang masih ada di tangan Nathan dan ikut membacanya.
Tak berselang lama, Nadine bersiul karena ternyata Nathan mendapat panggilan dari tim Putra Garuda untuk ikut seleksi pemain yang akan mengikuti turnamen basket 3x3 antar klub profesional.
"Papa harap kamu berlatih sungguh-sungguh satu minggu ini!" Papa Dion menepuk punggung Nathan.
"Nathan akan berlatih dengan keras, Pa!" Jawab Nathan dengan raut wajah bersungguh-sungguh.
"Pastikan kalo kamu lolos, gak ada campur tangan papa di dalamnya," timpal Nadine seolah menyindir.
"Memangnya kapan aku merengek pada papa agar lolos seleksi di klub? Aku kan berusaha sendiri selama ini," sangkal Nathan cepat yang seakan tidak terima dengan kata-kata Nadine barusan.
"Iya, iya! Selow aja kali! Gak usah nge-gas gitu," sahut Nadine tanpa merasa bersalah.
"Sudah cukup, oke!" Papa Dion berusaha menengahi perseteruan diantara kedua anak kembarnya tersebut.
"Papa tidak akan membantu ataupun ikut campur pada karier Nathan di klub, Nadine! Jadi berhenti membuat spekulasi seperti tadi!" Pesan papa Dion seraya menatap tajam ke arah Nadine.
"Iya, Pa! Nadine kan hanya bercanda," sanggah Nadine yang seakan masih mencari pembenaran.
"Sudah! Papa sedang tidak mau berdebat!" Sergah papa Dion cepat seraya mengangkat tangannya.
Nadine langsung diam dan tidak menyahut lagi. Berbeda dengan Nathan yang kini menahan tawanya.
__ADS_1
"Papa akan mandi dulu. Kalian mau makan malam apa?" Tanya papa Dion seraya beranjak dari duduknya.
"Terserah papa saja," sahut Nadine lirih. Sepertinya gadis itu sedikit merajuk.
"Kau bisa memasak nasi goreng untuk makan malam, Nathan?" Tanya papa Dion pada Nathan yang sedang memainkan ponselnya.
"Kenapa harus Nathan, Pa? Kenapa bukan Nadine saja?" Protes Nathan yang merasa keberatan.
"Aku udah masak kemarin. Gantian dong!" Sergah Nadine cepat seraya berlalu pergi dari ruangan tersebut. Gadis itu masuk ke kamar dan membanting pintu.
"Dia baper papa marahin tadi," gumam Nathan sedikit terkikik.
Papa Dion hanya geleng-geleng kepala.
"Besok juga sudah hilang marahnya. Kamu buruan masak sana!" Perintah papa Dion yang juga berlalu masuk ke kamarnya.
"Iya, Pa!" Sahut Nathan dengan nada malas. Namun pemuda itu tetap beranjak menuju dapur dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.
****
"Nadine!" Papa Dion mengetuk pintu kamar Nadine sekali lagi.
"Nadine! Buka pintunya, Nad! Kamu tidak mau makan malam?" Ketuk papa Dion lagi yang masih berusaha membujuk sang putri.
"Udahlah, Pa! Gak usah dipaksa kalo anaknya gak mau makan malam. Nanti kalo lapar juga pasti keluar kamar dan mencari-cari makanan," sahut Nathan yang sudah menyelesaikan makan malamnya. Pemuda itu berjalan menuju kamarnya yang berseberangan dengan kamar Nadine.
"Apa Nadine sedang ada masalah belakangan ini?" Tanya papa Dion seraya menghampiri Nathan. Tampak sekali raut kekhawatiran di wajah pria paruh baya tersebut.
Nathan mengendikkan bahu.
"Dia sedang sibuk pemotretan bareng Christian belakangan ini. Sibuk endorse sana sini juga. Mungkin pikirannya suntuk," tebak Nathan menerka-nerka.
Papa Dion hanya manggut-manggut.
"Atau bisa juga anaknya lagi PMS. Nadine kan suka gitu kalo PMS. Marah-marah gak jelas. Gak PMS aja dia udah galak dan bawel, apalagi kalo lagi PMS semakin mengerikan," tebak Nathan lagi memaparkan teorinya.
"Aku dengar itu!" Gertakan dari Nadine yang menggebrak pintu kamar Nathan membuat Nathan dan papa Dion terlonjak kaget.
Sejak kapan gadis itu ada disitu?
__ADS_1
"Siapa memangnya yang marah dan ngambek? Aku kan ketiduran gara-gara nungguin kamu masak gak selesai-selesai!" Sergah Nadine lagi seraya menuding ke arah Nathan.
Nathan hanya mencibir dan papa Dion menahan tawanya.
Papa Dion beranjak berdiri dan menghampiri sang putri.
"Ayo makan malam bareng papa!" Ajak papa Dion seraya merangkul Nadine.
Nadine hanya mengangguk dan segera melangkah menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur bersama papa Dion.
"Dasar galak!" Gerutu Nathan setelah Nadine tak terlihat lagi. Pemuda itu meraih buku yang ada di atas meja belajarnya. Nathan akan mulai mengerjakan tugas dan mempelajari materi untuk besok pagi sebelum pergi tidur.
****
Di ruang makan,
"Kegiatanmu padat belakangan ini?" Tanya papa Dion membuka obrolan.
"Hanya latihan bersama tim sekolah dan kadang pemotretan kalo ada produk baru yang launching," jawab Nadine seraya menyuapkan nasi goreng buatan Nathan ke dalam mulutnya.
"Hambar. Si Nathan bisa masak gak sih sebenarnya," gerutu Nadine seraya beranjak menuju meja dapur untuk mengambil garam.
Papa Dion hanya terkekeh,
"Mungkin lupa nambahin garam tadi pas masak," ujar papa Dion yang ikut menaburkan garam di atas nasi gorengnya.
"Padahal biasanya nasi goreng buatan Nathan rasanya enak," gumam Nadine yang lanjut menyuapkan nasi goreng lagi ke mulutnya.
Papa Dion masih terkekeh dan ikut melanjutkan makan malamnya yang tertunda.
Papa dan anak tersebut mengobrol ringan sambil menikmati makan malam sederhana mereka.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀