Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#30


__ADS_3

Christian dan Nathan sedang workout bersama di minicourt yang ada di depan rumah Nathan. Dua pemuda yang pernah berseteru tersebut kini tampak akrab.


Sebuah motor berhenti di depan rumah Nathan.


Nadine yang membonceng di jok belakang motor tersebut segera turun dan melepaskan helmnya.


"Makasih, Bang! Udah nganterin sampai rumah," ucap Nadine berbasa-basi.


"Sama-sama. Makasih juga karena udah bantuin proyek Abang. Salam ya, buat Nathan dan coach Dion," balas bang Rico cepat.


Pria itu kembali mengenakan helmnya.


"Oke!" Sahut Nadine seraya mengacungkan jempolnya.


Bang Rico menghidupkan kembali motornya.


"Hati-hati, Bang!" Pesan Nadine yang hanya di sambut dengan sebuah anggukan dari bang Rico.


Pria itu segera melaukan motornya meninggalkan rumah Nadine.


Nadine berbalik dan berjalan santai masuk ke halaman rumahnya.


"Ciyee! Yang sekarang akrab!" Ledek Nadine pada Christian dan Nathan yang masih asyik melakukan one on one.


"Ciyee! Yang habis jadi artis terkenal!" Balas Nathan seraya mencibir ke arah Nadine.


"Artis kompleks kali!" Sahut Nadine asal.


Gadis itu melempar tasnya sembarangan dan langsung ikut bergabung ke tengah court.


Nadine merebut bola basket yang ada di tangan Nathan.


"Pemanasan dulu, woy! Kalo kaki kamu kram, aku gak mau nolongin," ujar Nathan seraya bersedekap kesal.


Nadine hanya cuek dan segera men-dribble bola ke arah ring. Namun Christian dengan sigap menghadang Nadine dan melakukan block pada tembakan Nadine.


"Auuw" Nadine mengaduh dan nyaris jatuh terjerembab ke atas lantai court setelah melakukan lay up.


Namun Christian dengan sigap menangkap tubuh Nadine dan mereka berdua jatuh bersamaan ke atas lantai court yang keras.


Nathan yang menyaksikan adegan tersebut hanya meringis membayangkan rasa sakit yang bakal dirasakan oleh Nadine dan Christian.


"Kamu gak papa, Nad?" Tanya Christian khawatir. Pemuda itu masih merangkulkan tangannya ke tubuh Nadine.


"Kaki aku kram," cicit Nadine yang masih meringis kesakitan.


Nathan sudah mendekat ke arah Christian dan Nadine.


"Ciyee! Romantis banget kalian berdua!" Ledek Nathan yang langsung membuat wajah Nadine bersemu merah.


Buru-buru Christian menyingkirkan tangannya yang melingkar di tubuh Nadine.


Nathan mengulurkan tangannya ke arah Christian untuk membantu pemuda itu bangun dan berdiri.


Nadine berusaha bangun sendiri seraya meringis menahan nyeri di kakinya.


"Dibilangin ngeyel!" Gerutu Nathan yang kini berjongkok di hadapan Nadine.

__ADS_1


Pemuda itu membantu meluruskan kaki Nadine yang kram.


"Auuw! Pelan-pelan, Nathan!"


"Kamu kasar sekali!" Gerutu Nadine seraya menatap kesal pada Nathan.


"Galak!" Gumam Nathan yang tak kalah kesal.


"Biar aku saja, Nathan," tawar Christian cepat seraya mengambil alih.


Christian memegang kaki Nadine dengan lembut dan membantu meluruskannya perlahan.


Nadine masih meringis menahan nyeri.


"Masih sakit?" Tanya Christian seraya menatap pada wajah Nadine yang kembali bersemu merah.


Nadine balik menatap Christian. Pandangan keduanya bertemu.


"Sedikit," jawab Nadine lirih.


"Unch! Sweet banget kalian berdua," ledek Nathan yang kini tergelak.


Nadine mendelikkan matanya ke arah Nathan. Namun Nathan tetap cuek dan pura-pura tak peduli.


Nadine meraih bola basket yang kebetulan ada di dekatnya. Gadis itu melemparkan bola ke arah kepala Nathan yang kini berjalan menuju ke arah teras.


"Auuw!" Keluh Nathan seraya berbalik dan menatap kesal pada Nadine.


Nadine hanya tersenyum mengejek melihat wajah kesal Nathan.


"Barbar banget sih kamu, Nad! Kalo otak aku geser atau aku jadi gegar otak gimana?" Gerutu Nathan sebal.


Christian yang menyaksikan perseteruan antara Nathan dan Nadine hanya menahan tawanya.


"Ayo! Aku bantu berdiri," Christian mengalungkan lengan Nadine ke lehernya dan membimbing gadis itu menuju teras.


Matahari sudah kembali ke peraduannya. Dan langit perlahan berubah menjadi gelap. Ketiga remaja tersebut masih mengobrol di teras seraya melepaskan penat setelah workout yang mereka lakukan.


****


Nathan baru selesai mengerjakan tugas sekolah. Pemuda itu meraih ponselnya yang ada di atas nakas dan segera membuka wall instagram miliknya.


Story pertama yang Nathan lihat adalah milik Nadine.


"Panjang banget story-nya. Udah macam titik-titik sandi morse saja," gerutu Nathan sambil terus melihat story instagram Nadine.


Isinya hanya video-video saat Nadine melakukan pemotretan di kafe milik bang Rico. Karena bosan, Nathan memilih untuk mempercepatnya. Namun di story terakhir Nadine, Nathan tiba-tiba menjadi kepo.


Ada screenshot sebuah naskah novel di story tersebut dan sebuah caption,


"Novel yang bagus dan menginspirasi. Aku baru selesai membacanya, guys.


Percaya gak sih? Novel sebagus ini ternyata ditulis oleh gadis berusia 15 tahun @annelya.


Karyamu luar biasa, Annel!"


Nathan yang kepo segera membuka profil Annelya yang di mention oleh Nadine. Profile di-private.

__ADS_1


"Yaelah! Sombong amat ni anak kecil," gumam Nathan kesal.


Namun di bagian bawah, Nathan melihat nama Nadine yang ternyata menjadi follower dari Annel.


Apa mereka akrab?


Nathan bangkit dari duduknya dan segera menuju ke kamar Nadine yang ada di seberang kamarnya. Nathan membuka pintu kamar Nadine perlahan. Suasana di dalam sudah sepi.


Apa Nadine sudah tidur?


Saat Nathan membuka daun pintu sedikit lebar, terlihat Nadine yang memang sudah tidur nyenyak di atas ranjangnya.


"Yess! Kesempatan," gumam Nathan senang.


Nathan berjalan mengendap-endap dan mengambil ponsel Nadine yang sedang di-charge di atas nakas. Pemuda itu membawa keluar ponsel Nadine dan duduk di sofa ruang tengah.


Papa Dion belum pulang meskipun jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepertinya ada latihan malam lagi bersama tim Putra Garuda.


Nathan mengetikkan tanggal lahir papa Dion di kolom sandi. Tak butuh waktu lama dan ponsel Nadine langsung terbuka.


Dengan cepat Nathan membuka aplikasi instagram dan mengetikkan nama Annel di pencarian profil.


Dapat!


Nathan melihat-lihat feed instagram Annel dari ponsel Nadine. Hanya ada lima belas foto di profil instagram tersebut. Follower-nya juga hanya ada dua ratus.


"Apa ini akun baru?" Gumam Nathan yang merasa semakin penasaran.


Nathan melihat foto pertama yang diunggah oleh Annel untuk mencari tahu kapan akun ini dibuat.


Dua tahun yang lalu?


"Ni cewek gaptek atau bagaimana? Instagram udah dua tahun masa fotonya cuma lima belas biji," Nathan bergumam sendiri seraya terkekeh.


Pemuda itu melihat satu persatu foto yang diunggah Annel. Kebanyakan hanya foto tentang buku dan pemandangan. Foto Annel sendiri hanya ada tiga biji.


Satu foto terbaru adalah foto Annel yang sedang tersenyum manis seraya memakai seragam sekolah. Sepertinya foto tersebut diambil di tengah lapangan basket sekolah Annel. Caption yang tertulis,


"Pengen gitu bisa jadi pemain basket. Apalah daya, men-dribble bola saja bolanya malah lari duluan,"


Nathan tergelak membaca caption tersebut.


"Apaan bola lari duluan. Emangnya bola basket punya kaki?" Gumam Nathan yang masih tergelak.


Pemuda itu masih lanjut menelusuri profile instagram Annel.


"Nathan! Belum tidur?" Suara papa Dion yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Nathan membuat Nathan terlonjak kaget hingga jantungnya nyaris meloncat dari tempatnya.


"Papa?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2