
Nathan menscroll akun instagram miliknya, seraya menunggu Nadine datang menjemputnya.
Ada satu direct messages yang memberi tahu Nathan kalau ada yang menandai dirinya di sebuah story. Nathan memeriksanya.
Apa ini?
Ada foto Nathan dan sebuah teks seperti potongan dari sebuah cerita di bagian atas dan bawah foto Nathan.
Nathan mendadak tertarik dengan story tersebut, segera Nathan mengirimkan dirdct messages pada si pembuat story yang bernama Annel tersebut.
"Apa ini?" -Nathan-
"Eh, kak Nathan. Maaf aku pinjam fotonya buat cast di novel aku. Aku terinspirasi sama kak Nathan soalnya," -Annel-
"Maksudnya?" -Nathan-
"Jadi aku itu lagi bikin novel di salah satu platform menulis online. Cast utamanya itu seorang pemain basket. Dan karakter tokohnya aku bikin mirip kak Nathan. Maaf kalau udah lancang dan gak izin dulu," -Annel-
"Oh, begitu. Aku jadi terharu. Aku masih remah-remah rengginang padahal," -Nathan-
"Kata siapa! Kak Nathan itu keren banget kalau di atas court. Makanya aku ngefans," -Annel-
"Mana novelnya? Aku boleh baca gak?" -Nathan-
Annel mengirimkan sebuah link pada Nathan.
"Makasih, ya!" -Nathan-
"Sama-sama, kak Nathan. Novelnya lagi aku ikutkan kontes juga. Semoga menang," -Annel-
Bim bim,
Suara klakson yang memekakkan telinga membuat Nathan mendongakkan pandangannya dari layar ponsel.
Mobil Nadine sudah berhenti tepat di depan Nathan.
"Nathan! Kamu lagi ngapain? Senyam-senyum kayak orang gila," Nadine yang baru saja menurunkan kaca jendela mobil langsung mengomel pada Nathan.
"Berisik! Pencet klaksonnya gak usah lebay begitu juga kali!" Gerutu Nathan seraya membuka pintu mobil.
Nathan melempar tongkatnya dengan kasar ke jok belakang mobil sebelum duduk di jok di sebelah Nadine.
"Lagian, kamu juga senyum-senyum sendiri sambil main ponsel. Aku udah datang dari tadi, malah dicueki," gerutu Nadine yang mulai menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah mereka.
"Kamu mau baca novel gak? Kata penulisnya terinpirasi dari kisahku," Nathan menunjukkan sebuah halaman novel yang ia buka dari link yang diberikan Annel tadi kepada Nadine.
Nadine mencibir,
__ADS_1
"Emang apa istimewanya sih, seorang Nathan. Sampai ada yang mengangkat kisah tidak jelasnya ke dalam sebuah novel," ledek Nadine seraya terkekeh.
"Aku keren saat diatas court," jawab Nathan sombong.
Nadine mencibir sekali lagi,
"Kirim linknya ke akunku coba! Aku baca nanti pas senggang, biar bisa aku kritik pedas," ujar Nadine yang masih fokus ke jalanan macet di hadapannya.
Tumben sekali hari ini macet. Nadine berulangkali melihat arloji di tangannya.
"Ada apa sih, Nad? Kok gelisah begitu?" Tanya Nathan penasaran.
"Jam empat ada latihan di sekolah. Peer banyak, dan kita belum sampai di rumah. Udah hampir jam dua lagi," keluh Nadine seraya mendengus kasar.
"Yaelah! Kenapa tadi gak nginep aja di sekolah?" Sahut Nathan terkekeh.
"Trus kamu pulangnya bagaimana, kalau aku nunggu latihan di sekolah? Merepotkan saja," timpal Nadine menggerutu.
"Kayak gak ada taksi aja. Aku bukan anak miskin yang gak kuat bayar taksi," sahut Nathan ketus.
"Trus habis itu kamu nanti bakal ngadu ke papa dan bilang kalau Nadine gak tanggung jawab, gak mau jemput, bla bla bla. Kamu pikir aku gak hafal sama sifat licikmu itu?" Sergah Nadine ikut-ikutan ketus.
Nathan tergelak,
"Ya sudah, supir cantik. Nikmati saja kemacetan ini. Peer masih bisa kamu kerjakan nanti malam. Gak usah sok-sokan jadi pelajar yang perfect!" Ujar Nathan seraya menumpukan kedua tangannya di belakang kepala.
Nadine memilih memukul-mukul stir di tangannya untuk meluapkan kekesalan di hatinya.
****
"Ya ampun. Sudah setengah tiga," keluh Nadine seraya membuka sabuk pengamannya.
"Nanti berangkat latihan naik ojek saja, Nad! Anti macet," saran Nathan seraya membuka pintu mobil.
Pemuda itu keluar begitu saja dari mobil tanpa mengambil tongkatnya yang ada di jok belakang mobil.
"Nathan! Tongkat kamu!" Nadine mengingatkan,
"Udahlah! Kakiku udah baik-baik saja," Nathan berjalan terpincang masuk ke teras rumah.
"Dasar bandel! Kalau ada papa, habis kamu dimarahin," Nadine menyusul Nathan dengan cepat dan memberikan tongkat pada saudara kembarnya tersebut.
"Kan ada kamu yang selalu belain aku," Nathan menaik-turunkan alisnya.
Nadine hanya berdecak dan masuk ke rumah dengan cepat mendahului Nathan. Gadis itu sepertinya sedang terburu-buru.
****
__ADS_1
Jam empat tepat, Nadine sudah tiba di sekolahnya dengan naik ojek, sesuai saran dari Nathan.
Nadine langsung menuju ke lapangan basket dan bergabung dengan anggota tim yang lain.
Beberapa anggota tim basket putra terlihat juga sedang berlatih di sisi lain lapangan basket tersebut. Christian tidak ada.
'Huh, syukurlah,' Nadine bergumam lega.
Entah mengapa Nadine sedikit risih belakangan ini saat ada Christian di dekatnya. Belum lagi saat Christian mengawasi tim basket putri yang sedang berlatih, pandangan Christian seperti tidak lepas dari Nadine.
Apa Nadine kepedean?
Mungkin iya, tapi feeling Nadine selalu mengatakan kalau Christian memang tengah mengawasinya. Entahlah, Nadine tidak mau terlalu peduli.
"Nadine!" Seorang anggota tim basket putri menepuk punggung Nadine. Membuat lamunan gadis remaja itu buyar seketika. Rupanya pelatih sudah datang. Bergegas Nadine bergabung dengan anggota tim yang lain dan melakukan pemanasan.
Pertandingan tinggal menghitung hari, Nadine akan berlatih keras agar bisa membawa sekolahnya menjadi juara liga basket antar sekolah, sama dengan tim basket putra kemarin.
****
Matahari sudah nyaris tenggelam ke dalam peraduannya saat tim basket putri menyelesaikan latihan mereka.
Nadine meraih ponselnya dan menghubungi sang papa. Mungkin papa Dion bisa menjemput Nadine sore ini.
Cukup lama Nadine menunggu papa Dion menjawab panggilannya,
"Ada apa, Nadine?"
"Papa dimana? Sudah pulang belum?" Tanya Nadine cepat.
"Papa masih latihan bersama tim. Mungkin papa pulang sedikit malam."
"Yah!" Nadine berdecak kecewa.
"Ada apa memangnya?" Nada bicara papa Dion terdengar khawatir.
"Tidak apa-apa, kok Pa. Yaudah papa nanti pulangnya hati-hati!" pesan Nadine seraya menutup panggilannya.
Huh, sepertinya Nadine harus kembali naik ojek.
Nadine baru saja akan mencari ojek, saat sebuah motor yangan sangat Nadine kenal berhenti tepat di depannya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀