Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#3


__ADS_3

"ACL dan lututmu harus dioperasi secepatnya," ujar papa Dion dengan nada kecewa.


Nathan menghela nafas frustrasi.


Nadine yang sedari tadi mendampingi saudara kembarnya tersebut hanya bisa menepuk punggung Nathan sekedar menyalurkan kekuatan pada Nathan.


"Apa tidak bisa ditunda, Pa? Nathan harus ikut pemusatan latihan bersama timnas junior bulan depan," protes Nathan berusaha mencari celah.


Papa Dion menggeleng seraya mendelikkan matanya ke arah Nathan.


"Nathan akan ikut terapi dan Nathan yakin ini bisa sembuh tanpa operasi, Pa!" Nathan masih keras kepala.


"Kau ingin berhenti bermain basket selamanya?" Tanya papa Dion yang masih mendelik ke arah putranya tersebut.


Nathan menggeleng lemah.


"Buang saja mimpimu untuk ikut pemusatan latihan bersama timnas. Kau harus istirahat tiga bulan ke depan hingga cederamu itu benar-benar pulih!" Papa Dion menuding ke arah Nathan.


"Berapa kali papa mengingatkanmu untuk meninggalkan semua emosi dan masalahmu itu saat sudah turun di atas court! Bermainlah dengan profesional, Nathan! Jangan pernah membawa-bawa masalah pribadimu ke atas court atau saat pertandingan. Sekarang kamu rasakan sendiri akibatnya!" Cecar papa Dion yang sepertinya mulai emosi.


"Papa, sudah cukup!" Sergah Nadine cepat.


Nadine seakan tidak terima saat sang papa memarahi saudara kembarnya seperti sekarang ini.


Nathan masih tertunduk dan merasa semakin bersalah.


"Papa harap ini terakhir kalinya kamu membawa emosi tidak bergunamu itu ke atas court. Semoga kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, Nathan!" Ujar papa Dion memperingatkan.


"Skill bagusmu tidak akan berguna jika attitude mu di atas lapangan masih buruk," imbuh papa Dion lagi.


"Iya, Papa. Nathan mengerti," sahut Nathan lirih.


Nadine menepuk-nepuk punggung saudara kembarnya tersebut.


Nathan kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa bersalah serta penyesalan itu kembali memenuhi dadanya.


Andai...


Flashback satu tahun yang lalu,


Nathan berjalan santai menuju ke arah ruang olahraga. Sesuai rencana, pulang sekolah ini Nathan dan anggota tim lainnya akan melakukan pertemuan untuk membahas beberapa hal mengenai strategi dan apa-apa saja yang perlu ditingkatkan dari tim basket sekolah.


Nathan baru sampai di depan ruang olahraga, saat mendengar percakapan singkat dari beberapa anggota timnya yang sudah dulu sampai. Ada Chris juga di dalam.


Pintu ruangan yang setengah terbuka, membuat Nathan bisa sedikit melihat siapa saja yang tengah membicarakan dirinya siang itu.


"Lucu sekali, Nathan yang skill basketnya biasa saja bisa masuk ke klub basket sebesar Putra Garuda."


Chris terkekeh,


"Belum rezeki aku kayaknya masuk ke klub itu," timpal Chris yang masih terkekeh.


"Skill kamu jelas-jelas diatasnya Nathan, Chris! Udah jelas 'kan pasti ada permainan orang dalam,"


"Aku gak ngerti. Maksud kalian Nathan nyogok manajer klub, begitu?" Chris memasang wajah serius.


"Coach Dion di klub Putra Garuda, itu kan bokapnya Nathan,"


"Serius?" Chris terkejut tak percaya.


"Kok aku baru tahu sih. Hahaha. Pantas saja Coach Dion sering hadir di pertandingan sekolah kita. Aku kira beliau memang mau mencari bibit-bibit baru buat klubnya. Ternyata cuma ngekorin anaknya," imbuh Chris lagi sedikit tergelak.


Dua anggota tim yang berbicara dengan Chris ikut tergelak.

__ADS_1


Nathan yang masih berdiri di depan pintu masuk, mengepalkan tangannya demi menahan emosi yang mendadak membuncah di dadanya. Wajah pemuda itu sudah merah padam karena menahan emosi.


"Papa aku memang pelatih di klub Putra Garuda. Tapi aku juga ikut tes dan tahapan-tahapan seperti pemain lain sebelum diterima di klub itu!" Nathan berteriak dengan lantang seraya menggebrak pintu ruang olahraga.


Chris dan dua rekannya yang tadi sedang membicarakan Nathan, sontak langsung terkejut. Ketiganya seketika diam seribu bahasa.


"Dan buat kamu, Chris! Kalau kamu merasa kemampuan basketmu itu lebih hebat dari aku," Nathan menuding ke arah Christian.


"Aku tantang kamu buat one on one di lapangan sekarang!" Lanjut Nathan lagi dengan tatapan tajam ke arah Christian.


Chris tersenyum seraya mengangkat kedua tangannya,


"Aku gak pernah bilang kalau kemampuan basket aku diatas kamu, Nathan!" Bantah Chris cepat.


Chris benar-benar tidak mau mencari masalah dengan pemuda emosional di hadapannya ini.


"Tidak perlu menyangkal, Chris! Aku sudah mendengar semuanya." Nathan masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengambil satu bola basket dari atas rak.


"Aku tunggu di lapangan, Chris! Jangan jadi pengecut!" Sindir Nathan seraya meninggalkan ruangan tersebut.


Christian baru saja akan memarahi dua rekan yang tadi mengajaknya berghibah, namun dua orang itu sudah tidak terlihat batang hidungnya.


Sial!


Apa mereka kabur sekarang?


Chris melepas seragamnya dan kini hanya menyisakan sebuah kaos lengan pendek. Mungkin Chris akan menerima tantangan dari Nathan. Namun Chris benar-benar tidak mau membuat ini semua menjadi berlarut-larut.


Setelah bertanding one on one dengan Nathan, Chris akan minta maaf dan berdamai dengan kapten tim basket itu. Meskipun dalam hati Chris merasa sebal pada pemuda emosional tersebut.


****


Chris berjalan sedikit tergesa menuju lapangan. Pundak kanannya menggendong tas dan tangan kirinya memegang satu bola basket berwarna oranye.


Saat tiba di lapangan basket sekolah, Chris lumayan terkejut. Sudah banyak siswa yang hadir untuk menonton pertandingan one on one antara Christian dan Nathan.


Apa Nathan yang melakukannya?


Kenapa pemuda itu kurang kerjaan sekali.


Namun saat menyapukan pandangannya ke sisi lapangan basket, Chris bisa melihat dua orang yang tadi berghibah dengannya di ruang olahraga, kini ikut berdiri di pinggir lapangan bersama siswa lain.


Dua orang itu sedang sibuk dengan ponsel mereka.


Ya, ya, ya,


Seharusnya Chris tidak perlu bicara atau berurusan dengan dua siswa brengsek itu.


Pasti mereka yang sudah menyebarkan berita tentang pertandingan ini ke seantero sekolah.


Sekarang Chris yang akan menanggung akibatnya.


Nathan yang kini hanya mengenakan kaos putih polos sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Pemuda itu melirik sebentar ke arah Chris sebelum kembali melanjutkan pemanasannya.


Chris memilih melakukan pemanasan di sisi lapangan lain, setelah melemparkan tasnya secara sembarangan ke pinggir lapangan.


Sorak-sorai dari para siswa yang menonton pertandingan langsung menggema di seluruh halaman sekolah. Mayoritas yang hadir adalah siswi perempuan yang selalu berteriak lebay saat tim basket putra bermain atau berlatih basket di lapangan seperti ini.


Apa mereka tidak pernah melihat cowok tampan bermain basket?


Dasar norak!


Seorang murid yang Chris tahu itu adalah ketua OSIS di sekolah ini, akan menjadi wasit sore ini.

__ADS_1


Bukankah ini adil?


Priiiit,


Peluit sudah berbunyi


Chris dan Nathan langsung saling berebut bola dan saling hadang.


Dua pemain basket terbaik di sekolah tersebut menggunakan dengan maksimal skill yang mereka miliki.


Chris si gesit dan lincah, serta Nathan si master spin yang beberapa kali berhasil mengecoh Chris dengan gerakan memutarnya tersebut.


Tembakan tiga poin Chris sore ini terus saja meleset. Berbeda dengan Nathan yang sepertinya sedang on fire. Nathan terus saja mencetak poin meskipun menembak dari segala posisi.


Sekarang Chris merasa menyesal karena sudah meremehkan kemampuan seorang Nathan. Pemuda ini benar-benar memiliki kemampuan bermain basket yang luar biasa.


Skor Christian sudah tertinggal jauh dari Nathan.


Sorak-sorai dari para siswa yanga menonton seperti tak ada habisnya. Mereka bergantian meneriakkan nama Chris dan Nathan.


Hingga akhirnya sang ketua OSIS meniup peluit panjang sebagai akhir pertandingan.


Skor Christian hanya separuh dari skor yang berhasil di cetak oleh Nathan.


Chris merebahkan tubuh lelahnya diatas lantai lapangan basket. Benar-benar pertandingan yang menguras tenaga.


Para siswa sudah membubarkan diri.


Kini hanya tersisa Chris dan Nathan di lapangan basket tersebut.


Langit pun sudah menampakkan semburat oranyenya. Pertanda malam akan datang menjelang tak lama lagi.


"Aku tidak pernah meragukan skill bermain basketmu itu, Nathan! Kau hanya salah paham saat di ruang olahraga tadi," Chris mencoba untuk menjelaskan sekali lagi pada Nathan.


Namun kapten tim basket itu hanya tersenyum mengejek ke arah Chris,


"Rumor sudah terlanjur menyebar, Chris. Besok pagi seantero sekolah akan mulai membahas tentang Nathan yang masuk klub basket profesional karena nama besar sang papa," Nathan tersenyum kecut.


"Persetan dengan rumor. Kau bisa mengabaikannya, Nathan! Sore ini, kau sudah membuktikan pada semua orang kalau kau memang punya skill yang bagus dalam bermain basket," sergah Chris cepat dengan nada sedikit emosi.


Pemuda itu kini sudah duduk di tengah lapangan seraya meluruskan kedua kakinya.


Chris masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya sebelum meninggalkan sekolah ini.


Nathan masih tersenyum kecut,


"Sayangnya itu tidak mudah dilakukan. Sebuah rumor yang sudah terlanjur menyebar di sekolah ini akan terus menjadi berita hangat sampai ada rumor lain yang menutupinya." Nathan beranjak dari duduknya


Wajah pemuda itu masih dipenuhi oleh peluh. Nathan menyambar tasnya yang ada di belakang tiang ring basket.


Pemuda itu pun berlalu meninggalkan lapangan basket tanpa pamit pada Christian.


Dasar kapten sombong!


Christian sendiri baru meninggalkan sekolah saat langit sudah berubah menjadi hitam.


Persetan dengan segala rumor yang akan merebak di sekolah besok.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀


__ADS_2