
Nathan baru tiba di rumah, saat nelihat Annel yang duduk di teras rumahnya sendirian.
"Annel? Sedang apa disini?" Sapa Nathan yang baru turun dari motornya.
"Kak Nathan!" Annel berlari ke arah Nathan dan memeluk Nathan. Gadis itu menangis tersedu-sedu.
Terang saja hal itu membuat Nathan semakin bingung.
"Kamu kenapa, Ann?"
"Papa..." cicit Annel masih menangis tersedu-sedu.
"Papa kamu kenapa?" Tanya Nathan bingung.
"Annel mau minta maaf atas sikap kasar papa kemarin sama kak Nathan," ucap Annel seraya menghapus airmata di kedua pipinya.
"Ya ampun. Aku udah lupain itu semua, Annel."
"Jadi kamu nangis gara-gara hal itu?" Ujar Nathan seraya terkekeh.
"Annel takutnya kak Nathan jadi marah ke Annel dan gak mau lagi jadi pacar-" Annel menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Eh, maksud Annel jadi teman Annel," lanjut Annel mengoreksi kalimat sebelumnya. Pipi gadis itu bersemu merah.
Nathan tergelak.
__ADS_1
"Emang Annel mau gitu jadi pacar aku?" Tanya Nathan tiba-tiba.
"Apa?" Kedua bola mata Annel sontak membulat. Sepertinya gadis itu nampak terkejut dengan pertanyaan dari Nathan.
"Dengar ya, Annel yang cantik," Nathan menangkup wajah Annel.
Pipi chubby gadis itu membuatnya terlihat menggemaskan.
"Saat ini, yang terpenting untuk kita adalah belajar denagn tekun dan berusaha meraih cita-cita serta membuat bangga orang tua," ucap Nathan bijak.
Annel mengangguk paham.
"Soal pacar atau cinta-cintaan itu, kita pikirin belakangan aja. Karena sekarang belum saatnya," imbuh Nathan lagi masih dengan kata-kata bijaknya.
"Apa itu artinya Annel gak boleh jadi pacar kak Nathan?" Tanya Annel dengan raut wahah polos.
"Kalau kita pacaran sekarang, kak Nathan takutnya akan banyak cuek ke Annel, trus Annel marah, ngambek, kita gak bisa temenan lagi," tutur Nathan panjang lebar.
Annel terdiam sejenak dan berusaha mencerna kata-kata Nathan.
"Jadi?" Raut wajah Annel masih menyiratkan kebingungan.
"Jadi, kita temenan aja dulu sekarang. Annel belajar dulu yang tekun, nulis novel banyak-banyak. Annel raih dulu semua mimpi-mimpi Annel biar mama dan papa bangga sama Annel," nasehat Nathan panjang lebar.
"Dan nanti saat waktunya udah tepat, kak Nathan bakalan datang ke rumah Annel bertemu langsung dengan kedua orang tua Annel, dan meminta Annel dengan baik-baik," sambung Nathan lagi yang langsung membuat bibir Annel melengkungkan sebuah senyuman.
__ADS_1
Gadis itu segera menghambur ke pelukan Nathan dan tersenyum bahagia.
"Wooy! Wah parah. Anak orang kamu peluk-peluk gitu, ketahuan papanya auto kena semprot kamu, Nath!" Nadine yang baru tiba segera melepaskan pelukan antara Nathan dan Annel.
"Apaan sih, Nad! Jangan sok tahu kalau memang gak tahu kronologjnya!" Ujar Nathan seraya menoyor kepala Nadine.
"Lah kalian berdua ngapain peluk-pelukan di sini?" Kan yang nggak tahu jadi salah paham," cecar Nadine yang masih saja bawel.
"Dasar bawel!" Gerutu Nathan yng kembali merangkul Annel.
Pemuda itu melempar tasnya secara sembarangan ke teras sebelum membimbing Annel dan mengajaknya naik ke atas motor.
"Eh, mau kemana?" Sergah Nadine menyelidik.
"Mau anterin Annel pulang lah. Dasar kepo!" Jawab Nathan seraya mencibir pada Nadine.
Setelah memastikan Annel sudah naik ke atas motor, Nathan segera melajukan motornya meninggalkan Nadine.
"Dasar bucin!" Gumam Nadine sebelum berlalu masuk ke rumahnya.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀.