
"Hallo guys! Aku lagi ada di sebuah kafe yang unik dan kekinian. Jadi kafe ini baru buka beberapa hari, ya. Dan lokasinya lumayan terjangkau lho. Udah gitu tempatnya asyik buat nongkrong anak muda, buat kumpul-kumpul dan foto-foto juga asyik. Banyak spot menarik yang bisa kalian pake buat selfie. Dan... liatin makanannya. Wow! Nathan sampe kayak orang kesurupan makannya."
Christian tersenyum kecut saat melihat story instagram milik Nadine. Lokasi yang menunjukkan nama kafe R&N membuat hati Christian mendadak menjadi sesak.
Perasaan baru beberapa hari yang lalu Chris melihat Nadine dan bang Rico yang begitu akrab di gedung olahraga. Dan sekarang, nama mereka berdua sudah disematkan pada sebuah kafe milik bang Rico.
Apa memang hubungan mereka sudah sejauh itu?
Christian ganti membuka profile instagram Nadine. Ada beberapa foto Nadine yang sedang tersenyum manis ke arah kamera. Christian tersenyum sendiri saat menatap foto-foto Nadine tersebut.
Sebuah DM dari Nadine masuk,
[Ciyee! Yang sekarang akrab,] -Nadine-
Nadine mengirim foto Christian dan Nathan yang sedang saling merangkul di bangku penonton kemarin.
[Dapat darimana, fotonya?] -Christian-
[Bang Rico yang ngasih file-nya. Aku kira isinya cuma foto aku, ternyata ada foto kamu yang nyelip,] -Nadine-
[Trus foto kamu mana? Kok gak dibikin feed atau story?] -Christian-
[Ngapain tanya-tanya foto aku? Udah kayak fans aja,] -Nadine-
[Aku kan fans berat kamu.] -Christian-
[Haha. Gombal! Dapat salam tuh dari Audy,] -Nadine-
[Aku maunya dapat salam dari kamu] -Christian-
[Lah, kita kan lagi chattingan sekarang. Ngapain aku kirim salam buat kamu,] -Nadine-
[Jahat! Takut ada yang marah, ya?] -Christian-
[Iya. Nanti pacar kamu marah,] -Nadine-
[Aku jomblo. Cariin pacar dong!] -Christian-
[Audy juga jomblo. Jadian gih!] -Nadine-
[Ada kandidat lain gak selain Audy? Kan gak lucu kapten basket pacaran sama kapten basket,] -Christian-
[Lucu dong. Kan bakalan jadi pasangan serasi nantinya,] -Nadine-
[Kamu gak cemburu?] -Christian-
[Kenapa harus cemburu? Aku kan teman kamu dan Audy. Aku ikut senang dong, kalau kalian beneran jadian,] -Nadine-
__ADS_1
[Hmmm. Begitu ya,] -Christian-
Nadine tidak membalas lagi.
Dan sekali lagi, Christian hanya tersenyum kecut. Apa benar Christian terlalu berharap?
Bahkan Nadine sudah tidak memiliki perasaan apapun pada dirinya, tapi kenapa Chris masih saja berharap?
Dasar perasaan konyol!
Chris menggerutu sendiri.
****
"Ingat novelnya Annelya yang kamu share dulu itu tidak?" Tanya Nadine seraya melempar bola ke arah Nathan yang kini sedang melatih tembakan tiga angkanya.
Sudah satu bulan ini, Nathan lepas dari tongkatnya dan menjalani recovery pada lututnya. Sepertinya bulan depan pemuda tersebut sudah siap untuk unjuk gigi lagi di atas court.
"Annelya? Annelya yang mana? Perasaan aku gak punya teman bernama Annelya," sahut Nathan cepat seraya memfokuskan pandangannya pada ring basket. Pemuda itu melakukan shooting tiga angka, dan...
Masuk!
"Yang kata kamu bikin novel terinspirasi dari kisah seorang Nathan itu," jelas Nadine yang kembali melempar bola pada Nathan.
Nathan mengendikkan bahunya.
Nadine hanya berdecak.
"Memangnya kenapa dengan novelnya? Kok tiba-tiba kamu membahasnya?" Tanya Nathan yang sepertinya mulai penasaran.
"Aku baru selesai baca novelnya. Dan ceritanya itu bagus banget. Meskipun menurut aku gak seratus persen karakter Nathan di novel Annel itu mirip kamu," jelas Nadine panjang lebar.
"Kok bisa gak mirip? Kalau Annel terinspirasi dengan diriku bukankah seharusnya mirip?" Protes Nathan yang sepertinya merasa tak terima.
"Hahaha, mungkin pembacanya bakalan lari semua kalo dibikin mirip kamu seratus persen tokoh Nathan-nya. Kelakuan kamu ngeselin begitu," sahut Nadine seraya tertawa mengejek.
"Sialan kamu, Nad!" Nathan melempar bola ke arah kepala Nadine. Namun saudara kembarnya tersebut berhasil mengelak dengan cepat.
"Kamu juga ngeselin. Udah gitu galak dan bawel lagi," ujar Nathan lagi yang langsung disambut Nadine dengan sebuah cebikan.
"Tapi novelnya banyak yang baca lho. Popularitasnya tinggi udah gitu kayaknya menang kontes juga," imbuh Nadine yang kembali membahas tentang novel Annel.
"Boleh minta royalti berarti kalau novelnya laku keras," timpal Nathan seraya terkekeh.
"Dasar mata duitan!" Cibir Nadine seraya berjalan menuju ke arah teras.
Nadine mengambil botol minumnya dan segera meneguk isinya hingga tinggal setengah.
__ADS_1
Nathan menyusul Nadine dan ikut duduk di teras.
"Tapi aku jadi penasaran sama novelnya. Bacanya dimana sih?" Tanya Nathan penasaran.
Nadine mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi membaca novel online.
"Disini. Kamu download aplikasinya dulu. Nanti kamu cari deh yang judulnya Nathan, I Love You," jelas Nadine seraya menunjukkan layar ponselnya pada Nathan
"Serius? Dia pake nama aku di novelnya?" Tanya Nathan yang sepertinya terkejut.
"Yup! Dan yang lebih mencengangkan lagi, masa pacarnya Nathan namanya Nadine," Nadine memutar bola matanya.
"Tidaaak! Aku tidak mau punya pacar galak dan bawel sejenis dirimu!" sahut Nathan cepat dengan ekspresi wajah lebay.
"Aku juga gak mau pacaran sama kamu. Dasar lebay!" Nadine memukul bahu Nathan dan membuat pemuda tersebut sedikit meringis.
"Tapi aku suka sama karakter Nadine di novelnya Annel. Nadine yang sabar, pengertian, pintar, jujur, aku banget deh pokoknya," Nadine memuji dirinya sendiri.
"Yaelah! Dasar narsis!" Nathan menoyor kepala Nadine.
"Lihat deh! Anaknya cantik lho," Nadine menunjukkan pada Nathan beberapa foto Annel. Sepertinya itu adalah akun instagram milik Annelya.
"What? Masih SMP?" Tanya Nathan dengan raut wajah tak percaya.
"Iya, tahun ini dia lulus SMP. Hebat ya. Baru lima belas tahun, tapi udah bisa nulis novel sebagus itu" puji Nadine seraya berdecak kagum.
"Aku juga hebat. Lima belas tahun udah jadi kapten tim basket," sahut Nathan dengan nada sombong memuji dirinya sendiri.
Nadine mencibir,
"Kapten tim basket sekolah. Bukan tim basket nasional. Apanya coba yang hebat?" Cibir Nadine yang masih belum berhenti mengejek Nathan.
"Ya yang penting kan udah ada prestasi. Daripada kamu lima belas tahun gak ada prestasi apa-apa," sanggah Nathan yang ganti mengejek Nadine.
Nadine hanya mencebik dan tak menanggapi lagi.
Hari sudah beranjak gelap. Kedua saudara kembar tersebut membereskan peralatan yang dipakai berlatih dan bergegas masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀
__ADS_1