Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#54


__ADS_3

Nadine membuka pintu kamar Nathan tanpa mengetuk.


Terlihat Nathan yang sedang duduk di depan meja belajarnya sembari memainkan oena di tangannya.


"Kamu ikut turnamen antar sekolah, Nath?" Tanya Nadine yang kini sudah mendaratkan bokongnya di atas ranjang Nathan.


"Aku masuk tim cadangan," jawab Nathan yang sudah kembali mengerjakan tugas sekolah di hadapannya.


"Sekelas pemain Putra Garuda cuma dijadikan cadangan, parah juga sekolah kamu," cibir Nadine sedikit terkekeh.


"Itu namanya regenerasi pemain, Nad! Kalo aku terus yang dijadiin tim utama, nanti pas aku lulus, tim jadi kocar-kacir karena yang muda-muda gak diberdayakan," ujar Nathan dengan nada sok bijak.


"Iya, iya! Aku paham. Gak usah sok ngajarin," sahut Nadine mengibaskan tangannya pada Nathan.


"Chris masih jadi kapten tim?" Gantian Nathan yang bertanya pada Nadine.


"Masih, dan aku sedikit khawatir pada Chris," jawab Nadine ang wajahnya terlihat khawatir.


"Khawatir kenapa memangnya?" Nathan memutar kursinya dan kini menatap ke arah saudara kembarnya tersebut.


"Chris berlatih keras beberapa hari terakhir karena menurutnya ini adalah turnamen terakhirnya. Aku takut aja nanti pas turnamen fisik Chris malah menurun," ujar Nadine yang masih terlihat khawatir.


"Kasihan juga si Chris. Bakat sebesar itu harus dikubur dalam hanya karena mendapat tentangan dari sang papa," gumam Nathan menimpali kata-kata Nadine.


"Kamu ajak Christian refreshing dulu, gih! Turnamen seminggu lagi, kalau latihan terlalu keras malah nanti Chris gak bisa tampil maksimal di turnamen," Nathan memberi saran.


"Kamu aja yang ngajak. Kan kalian sama-sama cowok," Nadine malah ganti menyuruh Nathan.


"Kamu pacarnya. Pasti lebih paham," timpal Nathan menolak.


"Ish! Udah disuruh malah gantian nyuruh," cebik Nadine yang mulai kesal.


Nathan tergelak.


"Yaudah kamu support terus saja si Christian. Biar gak down semangatnya," ucap Nathan akhirnya.


"Tadinya aku mau nyuruh tim sekolah kamu buat ngalah dan ngasih gelar juara lagi ke sekolah aku, eh kamu udah bukan kapten," kelakar Nadine seraya tertawa.


"Enak aja! Ini sekolah aku lagi kerja keras buat balikin gelar juara, malah disuruh ngalah," sergah Nathan yang hendak menoyor kepala Nadine. Namun gadis itu sudah mengelak dengan cepat.


"Hahaha, bercanda doang. Gak usah diambil serius gitu!" Cibir Nadine sedikit terkekeh.


Nathan tak menanggapi.


Nadine mengambil novel Annel yang ada di atas tempat tidur Nathan.


"Jadi gimana, pedekate kamu ke Annel udah berhasil belum?" Nadine mengalihkan topik pembicaraan.


"Papanya Annel galak. Aku rasa ini tidak akan semulus bayanganku," sahut Nathan dengan nada lesu.

__ADS_1


"Udah ketemu memng sama papanya Annel?" Tanya Nadine kepo.


"Udah kemarin. Masa dikira papanya, aku bawa Annel kelayapan. Padahal aku kan cuma nganterin Annel pulang," sergah Nathan sedikit emosi.


"Muka kamu muka-muka fakboy. Makanya papanya Annel curiga," seloroh Nadine yang kini tergelak.


"Sialan kamu, Nad!" Nathan melemparkan penanya ke arah Nadine.


"Aku kan cowok baik-baik," sanggah Nathan membela diri.


"Baik hati dan jaga image pas pedekate doang. Nanti udah jadian paling si Annel kamu ajak mesum juga kayak Vero," Nadine masih tak berhenti meledek Nathan.


"Udahlah! Gak usah bawa-bawa Vero lagi. Kesel aku sama tu cewek," sahut Nathan yang kini menampakkan wajah sebal.


"Hmmmm, masih sakit hati ceritanya gara-gara diselingkuhi," tebak Nadine sok tahu.


"Gak ada! Aku sebel sama Vero bukan gara-gara itu,"


"Trus?"


"Aku sebel sama Vero gara-gara kemarin itu Vero nglabrak Annel dan sok-sokan caper lagi sama aku," cerita Nathan yang masih terlihat sebal.


Nadine tergelak,


"Vero belum move on berarti dari kamu," sahut Nadine yang kembali sok tahu.


"Nyesel lah dia udah mutusin seorang Nathan," ujar Nathan dengan nada pongah.


"Kalian belum tidur? Ini sudah jam sembilan," papa Dion yang kini berdiri di ambang pintu kamar Nathan menegur kedua anaknya yang masih mengobrol.


"Bentar lagi, Pa. Masih ngobrol," sahut Nadine cepat.


Nathan sudah kembali mengerjakan tugasnya.


Papa Dion masuk ke kamar Nathan dan ikut duduk di atas ranjang Nathan di samping Nadine.


"Pa!"


"Papa dulu pas pedekate sama mama diomelin sama papanya mama gak?" Tanya Nadine dengan raut wajah serius.


Papa Dion tampak berpikir sejenak,


"Enggak. Kan waktu itu papa belum kenal sama opa kalian," jawab papa Dion sedikit terkekeh.


"Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu?" Tanya papa Dion penasaran.


"Nathan habis diomelin papanya Annel, gara-gara mau pedekate sama Annel," cerita Nadine sedikit terkekeh.


"Ember kamu, Nad! Kayak gitu aja pake diceritain ke papa," protes Nathan yang merasa tak terima dirinya dijadikan bahan bercandaan oleh Nadine.

__ADS_1


Bukannya merasa bersalah, Nadine malah semakin tergelak.


"Katanya gak mau mikirin pacar dulu dan ingin fokus ke basket?" Papa Dion menatap ke arah Nathan.


"Nathan gak mikirin pacar, Pa!" Sanggah Nathan cepat.


"Kalau menurut papa, papanya Annel itu hanya melindungi putrinya. Biar fokus dulu sekolah dan gak mikirin tentang pacar atau hal-hal semacamnya. Makanya dia tidak suka pas ada cowok yang mendekati putrinya," ucap papa Dion berspekulasi.


"Tapi Papa kok gak se-protektif itu sama Nadine? Nadine kan juga putri papa?" Sahut Nathan sedikit protes.


"Aku kan gak pernah aneh-aneh," bukan papa Dion melainkan Nadine yang menjawab pertanyaan Nathan dengan asal.


"Papa protektif kok sama Nadine. Hanya saja, papa memilih untuk mengawasi Nadine dari jauh. Nadine juga selalu bertanggung jawab dengan kepercayaan yang papa berikan," ujar papa Dion panjang lebar.


"Tu, dengerin! Aku itu bertanggung jawab dan tahu diri. Meskipun papa gak ada, aku tetep minta izin papa kalo mau pulang terlambat atau main kemana," timpal Nadine dengan nada sombong.


Nathan hanya mencibir.


"Sudah malam, cepat tidur agar besok tidak kesiangan!" Papa Dion mengusap kepala Nadine.


"Siap, Papa!" Jawab Nadine seraya beranjak berdiri. Gadis itu segera keluar dari kamar Nathan dan masuk ke kamarnya sendiri.


"Kamu juga istirahat, Nath! Udah malam ini," papa Dion ganti menyuruh Nathan.


"Bentar, Pa! Dikit lagi selesai tugasnya Nathan," jawab Nathan yang kembali berkutat dengan tugas-tugas sekolahnya.


"Memangnya benar kata Nadine? Kau mau ngajak Annel pacaran?" Papa Dion kembali bertanya pada Nathan.


"Tadinya cuma mau iseng, Pa. Hehehe. Anaknya lucu dan polos gitu. Kan bikin gemes," jawab nathan cengengesan.


"Kalau hanya iseng, lebih baik gak usah, Nath! Biarkan Annel belajar dulu. Kamu juga lebih baik fokus saja ke basket dan pendidikan kamu. Nanti kalau kamu sudah mapan, baru kamu lamar Annel," nasehat papa Dion.


"Yaelah, Pa. Nathan saja belum genap delapan belas tahun masak udah mikir lamaran aja," sergah Nathan terkekeh.


"Papa bicara tentang masa depan. Yang pasti kalau kamu sendiri masih labil dan belum menemukan tujuan hidup, tidak usahlah mikirin pacar," nasehat papa Dion sekali lagi.


"Iya, iya, Nathan paham, Pa." Jawab Nathan akhirnya seraya mengangguk mengerti.


"Cepat tidur!" Pesan papa Dion sebelum beranjak dan keluar dari kamar Nathan.


Nathan hanya mengangguk dan tidak menyahut lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2