
Nathan sedang duduk di court basket dan men-scroll feed instagram di ponselnya.
"Meskipun penampilannya tidak sebagus sang papa, namun kemampuan Nathan Grahita dalam bermain basket patut diacungi jempol. Paling tidak, pemuda berusia tujuh belas tahun tersebut sudah berhasil membawa klub Putra Garuda menjadi juara 3x3 tahun ini. Mungkin nama besar klub juga menjadi beban tersendiri bagi Nathan, hingga akhirnya pemuda tersebut berusaha keras dan memberikan yang terbaik untuk klub. Salut untukmu, Nathan!"
Sebuah ulasan dengan foto Nathan yang sedang melakukan dunk di gelaran partai final kompetisi 3x3 pekan lalu, cukup menyita perhatian Nathan.
Pemuda itu tersenyum kecut saat membaca ulasan yang sekilas tampak memuji tersebut. Ada sebuah sindiran besar di ulasan tersebut yang membuat hati Nathan merasa geram.
Kenapa mereka masih saja membandingkan kemampuan Nathan dengan sang papa?
"Nathan!" Christian menepuk pundak Nathan dan membuat pemuda itu terlonjak kaget.
"Hai Chris, kau sudah datang?" Nathan berusaha menutupi rasa gugupnya.
"Melamun?" Tebak Christian yang kini duduk di depan Nathan.
Nathan menunjukkan ulasan tentang dirinya di layar ponsel tadi pada Christian.
Christian membacanya sejenak dan tersenyum tipis.
"Jadikan semangat saja, Nath! Jangan terlalu dipikirkan!" Nasehat Christian bijak.
"Sejujurnya, aku lebih suka dikritik pedas ketimbang diberikan pujian setinggi langit tapi ujung-ujungnya hanya dibandingkan dengan papaku," ucap Nathan mengeluarkan uneg-unegnya.
"Seolah semua prestasiku di dunia basket hanya karena bayang-bayang dan nama besar papaku,"
"Padahal aku sudah bekerja keras selama ini. Tidak pernah ada campur tangan papa dalam karierku di klub..."
"Tapi tetap saja, sebesar apapun usahaku seperti tidak ada yang melihatnya," pungkas Nathan yang kembali tersenyum kecut.
Christian menepuk punggung sahabatnya tersebut,
"Aku melihatnya, Nathan. Kau akan menjadi pemain yang lebih hebat dari coach Dion suatu hari nanti,"
"Dan saat semua itu tiba, semua orang akan bisa melihat kalau Nathan Grahita memanglah pemain yang bertalenta," ujar Christian berpikir positif.
Nathan tersenyum ke arah Christian,
"Lama-lama kau jadi seperti Nadine," ucap Nathan seraya terkekeh.
"Aku memang banyak terinspirasi dari saudara kembarmu itu," timpal Christian yang ikut terkekeh.
"Aku rasa, Nadine lebih cocok jadi seorang motivator ketimbang atlet basket," ujar Nathan mengemukakan pendapatnya.
Christian mengangguk setuju
"Tapi aku masih bertanya-tanya, bagaimana status hubungan kalian sebenarnya? Kalian berpacaran?" Tanya Nathan kepo.
Christian menggeleng,
"Kami hanya teman, Nath!" Sanggah Christian.
"Teman tapi mesra, ya?" Goda Nathan usil.
__ADS_1
"Kenapa gak kamu tembak aja si Nadine, trus kalian jadian lagi," imbuh Nathan memberikan ide.
Christian kembali menggeleng,
"Aku rasa Nadine sedikit trauma dengan status pacaran diantara kami," Christian menerawang.
"Maksudmu dia takut jika nantinya akan ada kata putus lagi diantara kalian?" Tebak Nathan menerka-nerka.
Christian mengangguk,
"Saat ini kami sama-sama nyaman sebagai teman. Jadi kami berteman saja, toh nanti kalau memang jodoh pasti ada jalan," imbuh Christian percaya diri.
Nathan bertepuk tangan pada Christian,
"Kerenlah kamu, Chris! Sudah memikirkan tentang jodoh dan pernikahan," ujar Nathan seraya tergelak.
Christian tersipu malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udahlah! Ayo kita latihan!" Aja Christian mengalihkan pembicaraan.
Pemuda itu beranjak berdiri dan segera mengambil bola basket. Nathan ikut beranjak dan segera melakukan pemanasan ringan sebelum mulai berlatih.
"Bentar lagi bakalan LDR dong," ujar Nathan yang kini sedang men-dribble bola.
Chris berdiri di depan Nathan dan berusaha menghalau langkah pemuda tersebut.
"Siapa?" Tanya Christian memasang wajah polos.
"Kamu dan Nadine. Memangnya sejak tadi kita membicarakan siapa?" Sahut Nathan seraya memutar tubuhnya.
Tembakan masuk!
Christian berdecak kesal, karena fokusnya sedikit teralihkan saat Nathan mengajaknya mengobrol.
"Kau curang!" Gerutu Christian yang kini ganti mengambil bola.
"Curang dimananya?" Tanya Nathan tanpa dosa.
"Kau terus saja mengajakku mengobrol. Fokusku hilang," keluh Christian yang kini men-dribble bola ke arah ring.
Nathan menghalau dengan cepat. Namun Chris berhasil mengelak, dan melewati Nathan.
Namun saat Chris hendak melakukan tembakan, Chris baru sadar jika bolanya sudah berpindah ke tangan Nathan.
Hey!
Sejak kapan bola itu direbut Nathan?
Bukankah tadi Chris masih men-dribblenya?
Nathan tergelak melihat ekspresi wajah Christian yang bingung. Pemuda itu kembali melakukan shooting dari luar garis.
Masuk lagi!
__ADS_1
"Fokus, Chris! Nadine masih memasak di dalam. Perlu kupanggilkan?" Goda Nathan pada Christian yang kini kembali memegang bola.
"Jangan curang begitu!" Gerutu Christian merasa sebal.
Pemuda itu segera men-dribble bola dengan cepat ke arah ring dan melakukan lay up.
Masuk!
"Hahaha!" Nathan tergelak seraya merebahkan tubuhnya diatas lantai court.
"Aku sungguh tidak tahu, kalau seorang Nadine bisa membuat Christian kehilangan fokus," seru Nathan setengah berteriak.
"Diamlah!" Christian memukul bahu Nathan dan ikut merebahkan tubuhnya di lantai court.
"Kamu gak mau ngucapin makasih gitu ke aku, Chris?" Tanya Nathan seraya memandang langit yang hari ini berawan.
"Makasih buat apa?" Tanya Christian tak mengerti.
"Makasih karena aku udah bikin kamu pindah ke SMA Pelita dan jadi bisa kenal sama Nadine. Coba waktu itu kamu gak mutusin buat pindah, gak mungkin kan kamu kenal sama Nadine Putri Grahita," jawab Nathan dengan nada sok.
Christian terkekeh,
"Dasar!"
"Kenapa kalian tidak berlatih dan malah tiduran di court begini?" Nadine sudah berdiri seraya berkacak pinggang dihadapan dua pria tersebut.
"Lihat, Chris! Bidadarimu sudah datang," ujar Nathan seraya tergelak.
Christian langsung bangun dan duduk seraya menatap ke arah Nadine yang sore ini mengenakan kaos longgar dan celana selutut. Rambut gadis itu dicepol ala kadarnya.
"Bidadari nyasar di court?" Timpal Nadine yang ikut tergelak.
"Kamu cantik, Nad!" Gumam Christian masih menatap ke arah Nadine.
"Gombal!" Nadine melempar bola basket ke arah Christian.
Pemuda itu menangkapnya dengan sigap.
"Mau main?" Tanya Christian yang kini sudah beranjak berdiri.
"Ayo!" Jawab Nadine bersemangat.
Christian melemparkan bola ke arah Nadine dan dua remaja tersebut bertanding one on one di minicourt.
Nathan memilih untuk menepi dan menjadi penonton saja.
Hingga langit beranjak gelap, ketiga remaja tersebut masih asyik bermain basket di halaman rumah.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like dan komen.