Nadine & Nathan

Nadine & Nathan
#55


__ADS_3

Pertandingan pembuka untuk turnamen basket antar sekolah dimulai hari ini. SMA Pelita sebagai juara bertahan, menjadi tim yang akan bermain di pertandingan pembuka kali ini melawan SMA 1.


Nathan dan Nadine duduk di courtside barisan depan. Dua saudara kembar itu terlihat kompak memakai kaos warna putih.


Setelah acara pembukaan dan beberapa sambutan, akhirnya para pemain mulai memasuki court.


Nadine melambaikan tangan pada Christian yang baru saja masuk ke court. Dan Christian langsung membalas lambaian tangan dari Nadine.


"Sorakin! Biar Chris semangat," bisik Nathan menggoda Nadine.


"Berisik!" Omel Nadine yang langsung disambut Nathan dengan sebuah cibiran.


Tim dari sekolah Nathan sendiri baru akan bertanding esok hari.


Para pemain sudah bersiap di posisi masing-masing untuk lemparan bola pertama.


Sorak sorai pendukung dari kedua tim langsung menggema di dalam gedung olahraga tersebut.


Nadine dan Nathan sudah fokus menyaksikan pertandingan hari ini.


"Kak Nathan!" Sebuah tepukan dari arah belakang membuat Nathan yang sedang fokus terlonjak kaget.


Nathan segera menoleh untuk melihat siapa yang baru saja mengagetkannya.


"Hai!" Sapa Annel seraya tersenyum manis.


"Hai, Annel!" Nathan balas menyapa Annel yang datang bersama sang mama sore ini.


"Sore, Tante!" Nathan juga menyapa mama Annel dan mencium punggung tangan wanita tersebut.


Nadine ikut mencium punggung tangan mama Annel.


"Sudah lama, Nath?" Mama Annel berbasa-basi.


"Sudah sejak tadi, Tante. Pacarnya Nadine main, jadi datang agak awal," jawab Nathan seraya terkekeh dan menunjuk ke atah Nadine.


"Apaan sih! Kok bawa-bawa aku?" Gerutu Nadine seraya mencebik.


Nadine kembali fokus memperhatikan Christian yang masih bermain diatas court.

__ADS_1


Quarter pertama tinggal beberapa menit tersisa.


Nathan sudah berpindah tempat duduk menjadi di samping Annel. Sepertinya pemuda itu akan memulai misi pedekatenya pada Annel.


Priit!


Peluit tanda berakhirnya quarter pertama sudah berbunyi. Skor sementara, SMA Pelita memimpin dengan selisih poin tipis.


Para pemain sudah kembali ke bench masing-masing untuk minum dan mendengarkan arahan dari pelatih.


Lima menit kemudian, quarter kedua sudah dimulai.


Christian men-dribble bola ke daerah pertahanan lawan. Seorang pemain lawan mencoba menghalau Chris, namun gagal.


Christian melesat dengan cepat ke dekat ring.


Dan saat Christian bersiap melakukan tembakan, tiba-tiba seorang pemain mendorong Christian hingga pemuda itu jatuh tersungkur di atas lantai court.


Beberapa pemain yang hendak merebut bola tak sengaja menendang dan menginjak kaki Christian. Mendadak suasana di atas court menjadi ricuh.


Tentu saja para penonton langsung berdiri dari duduknya, untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Nadine menatap khawatir pada Christian yang kini mengerang kesakitan di tengah lapangan.


Petugas medis membawa Christian keluar dari court. Netra Nadine masih tak berhenti mengikuti arah Christian.


"Aku segera kembali," Nadine menepuk punggung Nathan dan segera berlalu keluar dari bangku courtside.


"Nad!" Suara Nathan tak sempat lagi didengar oleh Nadine. Gadis itu sudah menghilang di kerumunan penonton yang ikut-ikutan ricuh sama seperti suasana di lapangan saat ini.


Nadine memutar dan menuju ke arah ruang ganti pemain.


"Pak! Bagaimana kondisi Christian?" Tanya Nadine pada sang guru olahraga.


"Christian sudah dibawa keluarganya ke rumah sakit, Nadine," jelas guru olahraga tersebut sebelum berlalu dan kembali ke arah court.


Nadine sejenak terdiam sebelum akhirnya kembali ke bangku penonton. Namun pikiran Nadine masih tak lepas dari Christian.


****

__ADS_1


Nadine dan Nathan keluar dari gedung olahraga saat hari sudah beranjak malam.


Meskipun sempat ricuh, pertandingan antara SMA Pelita dan SMA 1 tetap berlanjut hingga akhir.


Nadine mencoba menghubungi ponsel Christian sekali lagi. Masih tetap tidak diangkat.


"Mungkin ponselnya Christian msih tertinggal di ruang loker pemain, Nad," ucap Nathan tiba-tiba.


"Ayo!" Nathan menarik tangan Nadine dan saudara kembar tersebut kembali masuk ke gedung olahraga. Namun tujuan mereka kali ini adalah ruang ganti pemain.


Suasana sudah lumayan sepi. Hanya tinggal beberapa orang yang tinggal di ruang tersebut.


"Pak!" Nadine kembali menyapa salah satu gurunya yang masih tinggal di ruangan tersebut.


"Ada apa, Nadine?" Tanya guru tersebut.


"Apa tas Christian masih tertinggal di sini?" Tanya Nadine sedikit ragu.


"Ah iya. Ini!" Pak guru menyodorkan tas Christian pada Nadine.


"Apa Christian menyuruhmu mengambilnya?" Tanya pak guru lagi.


"Iya sebenarnya begitu. Terima kasih, Pak. Akan saya antarkan pada Christian," jawab Nadine sedikit berdusta.


Pak guru hanya mengangguk.


Nadine segera keluar lagi dari ruangan tersebut dan menemui Nathan yang menunggu di luar.


"Bagaimana?" Sergah Nathan saat melihat Nadine yang baru saja keluar.


"Dapat!" Sahut Nadine seraya menunjukkan tas Christian pada Nathan.


Nadine merogoh saku tas tersebut, dan langsung menemukan ponsel Christian. Ternyata memang tidak dibawa sama empunya.


Sekarang bagaimana Nadine bisa tahu Christian dirawat dimana?


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir


__ADS_2