
Priiit!
Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan sudah berbunyi. Tim 3x3 dari klub Putra Garuda unggul atas tim lawan.
Nathan dan ketiga temannya yang menjadi bagian dari tim 3x3 sudah masuk ke ruang ganti. Suasana di dalam gedung olahraga perlahan juga mulai sepi karena para penonton sudah membubarkan diri.
"Kita tungguin Nathan?" Tanya Christian pada Nadine.
Dua remaja tersebut sudah melangkah ke arah pintu keluar dari gedung olahraga bersama para pemain lain.
"Langsung ke kafe om Vian saja. Nanti Nathan menyusul kesana bareng papa," jawab Nadine yang netranya masih fokus menatap layar ponsel.
Nadine yang tidak memperhatikan langkahnya, nyaris menabrak orang lain. Namun Christian dengan sigap mencegahnya,
"Weiits! Jalan lihat ke depan, Nad!" Omel Christian seraya memegang kedua pundak Nadine.
Nadine tersenyum,
"Iya maaf," sahut Nadine yang langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Audy sama Justin mana, Chris?" Tanya Nadine yang kini celingukan.
Tadi seingat Nadine mereka keluar bersama.
"Itu! Udah sampai di parkiran," Christian menunjuk ke arah tampat parkir motor.
Audy dan Justin terlihat sedang berbincang di sana.
"Ayo!" Nadine segera menarik tangan Christian dan setengah berlari menuju ke parkiran motor. Christian menurut saja.
"Kok kalian ninggalin kami, sih?" Gerutu Nadine saat sudah tiba di dekat Audy dan Justin.
"Siapa yang ninggalin? Ini kita tungguin," sergah Audy yang langsung menyangkal.
"Ada acara gak? Ikut kumpul, yuk!" Ajak Nadine selanjutnya pada Audy dan Justin.
"Kumpul kemana? Kafe bang Rico?" Tebak Audy sok tahu.
"Bukan, kafe om aku. Nanti Nathan dan papa juga nyusul kesana," jelas Nadine cepat.
"Bolehlah, kalau ditraktir," sahut Justin seraya terkekeh.
"Gampang kalo itu. Kan ada Chris. Nanti dia yang bayarin," ujar Nadine seraya menunjuk ke arah Christian.
"Kok jadi aku?" Christian pura-pura bingung.
"Anggap aja pajak jadian," sahut Nadine seraya berlalu dari hadapan ketiga temannya tersebut dan menuju ke arah motor Christian.
"Ciyeee! Udah jadian beneran, ya!" Seru Audy yang sepertinya puas sekali.
Wajah putih Christian mendadak jadi bersemu merah. Pemuda itu segera menyusul langkah Nadine.
Nadine sudah mengenakan helm di kepalanya, saat Christian tiba.
Christian membantu memasangkan tali helm Nadine.
"Kita jadian?" Tanya Christian yang masih sedikit bingung.
"Mmmmm. Tergantung," jawab Nadine seraya menahan tawanya.
"Tergantung apa?" Tanya Christian yang kini sedang mengenakan helmnya.
"Tergantung kamu mau atau tidak," ujar Nadine seraya mendekatkan kepalanya ke arah Christian.
Terang saja hal itu langsung membuat Christian tergelak.
"Kau sedang menggodaku?" Tanya Christian seraya mengusap pipi Nadine.
"Sedikit," jawab Nadine seraya memeletkan lidahnya untuk mengejek Christian.
__ADS_1
Christian kembali tergelak.
Bim bim!
Klakson dari motor Justin terdengar memekakkan telinga.
"Buruan, wooy! Jangan pacaran disini!" Seru Audy yang duduk di jok belakang motor Justin.
"Berisik!" Gerutu Nadine kesal.
Christian sudah menstarter motornya. Nadine segera naik ke atas motor Christian. Setelah semuanya siap, Christian segera melajukan motornya menyusul motor Justin yang sudah terlebih dulu keluar dari parkiran.
****
Nathan sudah mengganti jerseynya dengan kaos lengan pendek. Pemuda tersebut keluar dari ruang ganti seraya menggendong tas di punggungnya. Saat melewati court, suasana sudah sepi. Hanya tinggal satu dua penonton yang masih berbincang dengan rekannya dan beberapa petugas kebersihan.
"Kak Nathan!" Seru seorang gadis yang berjalan mendekat ke arah Nathan.
Nathan menghentikan langkahnya dan menyapa gadis tersebut.
"Halo. Ada apa?" Tanya Nathan dengan wajah seramah mungkin.
Nathan seperti tidak asing dengan wajah gadis di hadapannya tersebut.
"Boleh minta tanda tangan?" Tanya gadis itu malu-malu.
Nathan mengulas senyuman di bibirnya.
"Tentu. Mau dimana?" Tanya Nathan yang masih memperhatikan wajah gadis berkacamata tersebut.
Nathan mencoba mengingat-ingat wajah itu. Tapi entah mengapa, otak Nathan mendadak menjadi buntu.
Gadis tadi mengeluarkan sebuah bola basket kecil dari dalam tasnya dan sebuah spidol. "Disini, Kak" katanya seraya memberikan spidol pada Nathan.
Nathan segera menandatangani bola basket gadis tersebut.
"Satu lagi," ujar gadis itu saat Nathan sudah selesai membubuhkan tanda tanganya di atas bola basket.
"Tanda tangani juga buku yang ini ya, Kak!" Ujar gadis tersebut seraya menyodorkan sebuah buku pada Nathan.
Nathan melihat sejenak ke buku yang kini ada di tangannya. Rupanya itu adalah sebuah novel.
Tunggu!
Kenapa novel ini judulnya...
'Kamu download dulu aplikasinya, trus kamu cari deh novel yang judulnya Nathan, I Love You'
'Serius? Dia pake nama aku di novelnya?'
'Iya'
Percakapan Nathan dengan Nadine beberapa bulan yang lalu kembali terngiang di kepala Nathan.
Kenapa judul novel ini sama dengan judul novel milik...
"Annel?" Tebak Nathan seraya menatap pada gadis di hadapannya tersebut.
Nathan memperhatikan sekali lagi wajah chubby dari gadis berkacamata itu.
"Kamu Annel, kan?" Tanya Nathan sekali lagi yang benar-benar ingin memastikan.
"Hehe. Kak Nathan tahu, ya?" Jawab Annel malu-malu. Kedua pipi gadis itu sudah berubah menjadi merah sekarang.
"Iya, aku ingat sama judul novel kamu ini," ujar Nathan seraya menunjuk ke arah novel milik Annel.
"Ini udah ada yang versi cetak ya?" Tanya Nathan sekali lagi.
"Iya, Kak. Baru satu bulan yang lalu naik cetak, karena aku menang kompetisi," jelas Annel yang masih tertunduk malu.
__ADS_1
"Bisa beli dimana?" Tanya Nathan lagi berbasa-basi.
"Itu buat kak Nathan aja, kalau kak Nathan mau. Annel masih ada kok," Annel mengeluarkan satu novel lagi dari dalam tasnya.
"Beneran? Ini buat aku?" Tanya Nathan dengan raut wajah tak percaya.
Annel segera mengangguk.
"Tapi tolong tanda tangani yang punya aku ya, Kak!" Pinta Annel seraya menyodorkan novel yang baru ia keluarkan.
"Iya," jawab Nathan seraya membuka halaman pertama dari novel tersebut. Nathan menuliskan sesuatu di halaman tersebut sebelum membubuhkan tanda tangannya.
"Sudah!" Ujar Nathan seraya mengembalikan novel tadi pada Annel.
Annel membaca sejenak tulisan dari Nathan.
'Terima kasih, Annelya. Novel yang luar biasa dan mengispirasi. Nathan Grahita'
Annel tersenyum senang setelah membaca pesan dari Nathan.
"Terima kasih banyak, Kak Nathan," ucap Annel yang masih tersenyum manis pada Nathan.
"Eh, yang ini belum ada tanda tangan kamu, Ann!" Seru Nathan seraya menunjukkan novel yang tadi diberikan oleh Annel.
"Hah?" Annel menatap bingung pada Nathan.
"Kan kamu penulisnya, kasihlah tanda tangan kamu di sini," ujar Nathan menjelaskan.
Annel membulatkan bibirnya dan segera membubuhkan tanda tangannya di novel Nathan.
"Sudah, Kak!" Ujar Annel seraya mengembalikan novel yang sudah ia tandatangani pada Nathan.
"Nathan!" Suara papa Dion yang sudah ada di dekat pintu keluar, membuat Nathan menoleh.
"Iya, Pa! Bentar!" Sahut Nathan yang kembali menatap ke arah Annel.
"Makasih, ya! Buat novelnya," ujar Nathan berbasa-basi pada Annel.
"Sama-sama, Kak! Titip salam buat kak Nadine, ya!" Jawab Annel yang kembali tertunduk malu.
Nathan mengangguk
"Yaudah, aku balik dulu. Eh kamu balik sama siapa?" Tanya Nathan lagi yang terlihat khawatir.
"Bareng mama, udah diparkiran tapi," jawab Annel lagi.
Nathan mengangguk paham.
"Bye Annel!" Nathan melambaikan tangan ke arah Annel dan segera berbalik menuju pintu keluar.
Namun baru beberapa langkah Nathan berbalik lagi, dan kembali menghampiri Annel.
"Boleh pinjam spidol kamu?" Tanya Nathan yang langsung membuat Annel mengernyit tak mengerti.
Namun gadis itu segera menyodorkan spidolnya pada Nathan.
Nathan meraih tangan Annel dan menuliskan sesuatu di telapak tangan gadis tersebut. Rupanya itu adalah sebuah nomor ponsel.
"Chat aku!" Pesan Nathan seraya mengembalikan spidol Annel.
Annel tersenyum tak percaya dan berulang kali menatap nomor ponsel Nathan di tangannya.
Nathan sendiri sudah berlalu keluar dari gedung olahraga tersebut menyusul sang papa yang sudah menunggunya sedari tadi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀