
"Nathan!!" Suara Nadine menggema di seluruh kamarnya.
Dengan raut wajah marah, Nadine menghampiri Nathan yang tengah menonton televisi bersama papa Dion di ruang tengah.
"Nathan! Kamu itu ya!" Nadine memukul Nathan berulang kali menggunakan bantal sofa. Sepertinya Nadine benar-benar sebal pada Nathan.
"Nadine, Nadine! Kamu kenapa?" Papa Dion berusaha melerai Nathan dan Nadine.
Papa Dion memegangi tubuh Nadine dan mencoba menghentikan Nadine yang terus memukul Nathan bak orang kesetanan.
"Kamu kenapa sih, Nad?" Tanya Nathan heran.
Susah payah pemuda itu bangkit berdiri dan menjauhi Nadine yang masih dicekal kedua tangannya oleh papa Dion.
"Kamu itu yang kenapa. Bikin story pakai video orang, gak minta izin," gerutu Nadine dengan raut wajah mencebik dan marah.
Sesaat Nathan diam, namun kemudian pemuda itu menjadi tergelak.
"Kan udah aku tag akun kalian berdua. Anggap aja itu sebagai permintaan izin," sanggah Nathan mencari alasan.
"Apa ini? Kalian ribut hanya karena story di instagram?" Papa Dion menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria paruh baya tersebut sungguh tak mengerti dengan anak muda jaman sekarang yang suka ribut karena hal-hal sepele.
"Nathan yang mulai, Papa." Nadine mengadu.
"Memangnya story macam apa yang dibuat Nathan sampai membuatmu marah dan berteriak seperti tadi?" Papa Dion membimbing Nadine agar duduk di sofa.
Nathan sendiri sudah kembali duduk di sofa dan mencibir ke arah Nadine.
"Lihat ini!" Nadine menunjukkan sebuah video di ponselnya kepada sang papa.
Papa Dion hanya tersenyum tipis,
"Kamu pacaran sama Christian?" Tanya papa Dion dengan raut wajah serius.
"Enggak! Kita cuma temenan," jawab Nadine cepat.
"Ya sudah kalau begitu. Tinggal kamu balas saja storynya Nathan," papa Dion mengambil alih ponsel Nadine dan mengetikkan sesuatu di story instagram Nadine.
"Lihat!" Papa Dion menunjukkan sebuah story yang siap dikirim pada Nadine.
"Ih, kata-katanya terlalu alay, Papa! Seperti remaja kemarin sore saja," Nadine mencebik seraya menghapus story yang sudah dibuat oleh papa Dion.
Nathan tergelak,
"Papa mau jadi remaja lagi kayaknya, Nad," kelakar Nathan yang langsung disambut oleh delikan mata dari papa Dion.
"Ampun, Pa! Uang jajan Nathan jangan dipotong," Nathan masih tidak berhenti tertawa.
"Gak usah dipotong, tapi distop sekalian aja, Pa!" Nadine mengompori sang papa.
"Kejam kamu, Nad! Aku minta uang sama kamu nanti," timpal Nathan yang merasa tidak terima.
"Gak bakal aku kasih," Nadine memeletkan lidah ke arah Nathan.
__ADS_1
"Aku jual juga sepatu air jordan kamu," Nathan mengancam.
Nadine mengambil bantal sofa dan bersiap melemparnya ke arah Nathan. Tapi dengan cepat papa Dion mencegah anak perempuannya tersebut.
"Sudah cukup. Oke! Kalau kalian ribut terus, uang jajan kalian berdua yang akan papa potong," papa Dion mengancam kedua anaknya.
"Jangan, Papa! Nadine kan anak baik," secepat kilat Nadine memeluk dan merayu sang papa.
"Anak baik apanya? Galak dan bawel iya," Nathan hanya bergumam lirih seraya mencibir. Namun sepertinya Nadine tidak mendengar gumaman Nathan barusan.
Ting,
Ada direct messages masuk di ponsel Nadine,
[Emang kita CLBK?] -Christian-
[Abaikan! Anggap aja yang bikin story tadi adalah setan yang suka ngomporin!] -Nadine-
Nadine melirik sekilas ke arah Nathan yang kini fokus menonton tivi.
[Hmmm, berarti kamu gak mau ya CLBK sama aku?] -Christian-
[Emang CLBK apaan?] -Nadine-
[Cinta lama belum kelar] -Christian-
[Emang yang belum kelar diantara kita apanya?] -Nadine-
[Perasaan aku ke kamu] -Christian-
"Woy! Kamu stress ya, Nad?" Tegur Nathan yang heran melihat Nadine senyum-senyum sendiri sedari tadi.
"Kepo!" Nadine mencibir.
"Pasti lagi chat sama Chris. Udahlah! Kalo emang masih saling suka jadian lagi aja!" Nathan mengompori.
"Sok tahu kamu!" Nadine melempar bantal sofa ke arah Nathan.
"Jadian lagi? Emang Nadine pernah pacaran sama Chris?" Papa Dion ikut-ikutan kepo.
"Gak ada, Pa! Nadine dan Chris hanya teman," sahut Nadine cepat.
"Bohong dia, Pa!" Timpal Nathan seraya terkekeh.
"Udah diam! Gak usah ngomporin!" Nadine memukul kaki Nathan.
"Auuuw!" Nathan menjerit sekuat tenaga.
Sontak saja, papa Dion terkejut dengan tingkah Nadine yang barbar.
"Kaki kamu sakit, Nathan?" Tanya papa Dion khawatir.
"Sakit sekali, Papa! Nathan rasa kaki Nathan patah lagi," jawab Nathan seraya menujukkan ekspresi lebay menggelikan.
__ADS_1
"Lebay! Tapi baguslah kalau beneran patah. Gak usah main basket lagi," cibir Nadine seraya beranjak dari duduknya.
"Jelek sekali doa kamu, Nad!" Nathan merasa tak terima.
Nadine tak menyahut dan hanya memeletkan lidahnya ke arah Nathan. Gadis itu masuk ke kamarnya dan menghilang dengan cepat.
"Anak gadis papa itu galak dan barbar," keluh Nathan seraya mengusap kakinya yang masih sedikit nyeri karena pukulan keras dari Nadine.
Papa Dion terkekeh,
"Kamu itu yang suka usil sama Nadine," ujar papa Dion yang malah membela Nadine.
"Tu, kan! Papa selalu membela Nadine," protes Nathan merasa tidak terima.
Papa Dion kembali terkekeh,
"Papa tidak membela siapa- siapa, Nathan. Kalian berdua sama-sama anak papa," ujar papa Dion yang kini sudah berpindah ke samping Nathan. Pria paruh baya tersebut merangkul pundak Nathan.
"Kau sendiri, tidak mencari pacar?" Tanya papa Dion mengalihkan pembicaraan.
Ck,
Nathan berdecak.
"Gak penting, Pa. Punya pacar itu cuma bikin ribet," jawab Nathan dengan nada malas.
Sejak putus dari Veronica, Nathan memang sudah enggan menjalin hubungan atau pacaran-pacaran tak jelas dengan gadis lain. Bukan karena Nathan belum bisa move on dari Vero. Namun Nathan merasa kalau berpacaran hanya akan menghambat karier basket Nathan di masa depan.
Saat ini, Nathan memilih untuk fokus pada recovery cederanya dan melatih teknik-teknik bermain basketnya agar lebih baik lagi. Nathan yakin kalau jodoh dan cinta akan datang di waktu yang tepat. Lagipula, usia Nathan sekarang juga masih terlalu muda untuk memikirkan tentang hubungan yang serius.
Papa Dion terkekeh mendengar jawaban Nathan yang terdengar sedikit ketus,
"Baiklah, baiklah. Jika memang pacaran tak penting untukmu, papa setuju denganmu," ujar papa Dion seraya menepuk punggung Nathan.
"Tapi papa dulu pacaran sama mama sejak duduk di bangku SMA. Gak konsisten banget sih, Pa," ledek Nathan yang sontak membuat papa Dion menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tapi kan, karier basket papa tetap cemerlang. Dan tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran seorang pacar," sahut papa Dion dengan nada sombong.
"Tapi kalau ada gadis secantik dan sebaik mama, sih. Nathan juga pasti langsung mau jadi pacarnya," timpal Nathan seraya terkekeh.
"Tidak ada! Yang seperti mama kamu ya cuma mama kamu. Dan itu sudah menjadi milik papa. Jadi jangan terlalu berharap," ujar papa Dion seraya bersedekap.
Nathan hanya mencibir dan tidak menyahut lagi.
Papanya ini memang cinta mati sekali pada sang mama.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀