
Nadine mengetuk pintu kelasnya yang kini tertutup.
Tak berselang lama, pintu dibuka dari dalam.
"Nadine dan Christian. Kalian darimana?" Tanya guru yang membuka pintu tadi.
"Maaf, Pak. Tadi pas berangkat sekolah, Chris jatuh dari motor. Jadi kami ke UKS dulu untuk mengobati luka Chris," jawab Nadine berdusta.
"Christian yang terluka tapi kamu ikut-ikutan ke UKS. Apa kamu istrinya?" Sergah pak guru tadi dengan nada galak.
"Huuuu!" Seisi kelas langsung menyoraki Nadine dan Christian yang kini tertunduk.
"Duduk!" Perintah pak guru selanjutnya.
"Terima kasih, Pak," jawab Nadine dan Chris serempak.
Keduanya segera masuk ke kelas dan duduk di bangku yang masih kosong.
Pak guru kembali menerangkan pelajaran. Nadine, Christian, dan siswa yang lain kembali berkonsentrasi pada pelajaran.
****
Pulang sekolah,
Christian sengaja mampir ke rumah Nadine untuk melepaskan penat dan hal-hal yang masih mengganjal di hatinya. Sekarang, pemuda itu sedang bermain basket sendirian di minicourt yang ada di halaman rumah Nadine.
Nadine sendiri hanya duduk di teras seraya memandangi Christian yang masih asyik memainkan bola basket. Kata-kata Christian saat di UKS tadi terus saja terngiang di benak Nadine.
Menikah dengan Chris setelah lulus SMA?
Benar-benar sebuah ide yang konyol.
Christian memang pemuda tampan, berhati lembut, romantis, dan tajir. Dan tidak bisa dipungkiri, kalau sebenarnya Nadine juga masih menyimpan sebuah perasaan pada Chris.
Tapi menikah muda dengan Chris, Nadine rasa bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, kalau jodoh tak akan lari kemana. Jadi, jika memang Nadine dan Christian berjodoh, keduanya pasti akan menemukan jalan untuk bersatu suatu hari nanti.
Dan soal perjodohan yang direncanakan oleh orang tua Chris, entahlah.
Mungkin saja perjodohan itu akan batal karena suatu hal, jika memang jodoh Christian adalah Nadine.
Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha mengusir pikiran-pikiran tidak penting yang mendadak hinggap di kepalanya.
"Kau kenapa, Nad?" Tanya Christian yang tiba-tiba sudah duduk di samping Nadine.
Kaos yang dikenakan Christian sudah basah karena keringat. Pemuda itu menyeka keringat yang memenuhi dahi dan wajahnya.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Nadine cepat.
__ADS_1
Christian meneguk air putih di botol minumnya hingga tandas.
"Masih memikirkan perkataanku tadi pagi?" Tebak Christian yang seakan bisa membaca pikiran Nadine.
"Perkataan yang mana? Dasar geer!" Nadine memukul bahu Christian.
Christian terkekeh.
"Yang ajakan menikah tadi. Mungkin saja kau sudah berubah pikiran sekarang," ucap Christian seraya tersenyum manis.
Oh, senyuman yang sungguh manis.
Nadine selalu bisa meleleh melihat senyuman Christian yang manis ini.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku. Menikah muda tidak pernah ada di kamus seorang Nadine. Aku baru akan menikah saat aku sudah berhasil mewujudkan semua mimpi dan cita-citaku," tukas Nadine panjang lebar.
"Kau akan menikah dengan siapa nantinya?" Tanya Christian tiba-tiba.
Nadine mengendikkan bahu.
"Dengan seorang pria baik. Yang tampan, memiliki senyuman manis dan mata yang sipit, romantis, pandai ngegombal, berhati lembut, dan menyayangiku dengan tulus," jawab Nadine sambil menatap lekat wajah Christian.
Christian tergelak,
"Memangnya ada, pria sesempurna itu di dunia ini?" Tanya Christian seraya menoleh ke arah Nadine yang duduk di sebelahnya.
Dan saat itulah Christian sadar, kalau Nadine tengah memandangi dirinya dengan lekat.
Christian kembali mengulas senyuman di bibirnya.
"Aku tidak sesempurna itu, Nad," ucap Christian merendah.
"Dan jika kau tidak mengiyakan ajakanku dari sekarang, mungkin aku akan menjadi milik orang lain dan tidak bisa lagi menjadi pangeran impian yang sempurna untukmu," imbuh Christian lagi yang langsung membuat Nadine mengalihkan pandangannya.
Gadis itu ganti menatap jauh ke arah minicourt yang kini kosong.
"Bukankah ada pepatah yang mengatakan kalau jodoh tak akan kemana. Siapa yang tahu kalau kita nantinya akan berjodoh," gumam Nadine lirih.
Namun cukup bisa di dengar dengan jelas oleh Christian.
"Lalu bagaimana jika ternyata kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh?" Tanya Christian yang langsung membuat Nadine tersenyum kecut.
"Jika kenyataannya demikian, berarti kita harus saling melupakan dan mencintai orang lain yang menjadi jodoh kita," jawab Nadine diplomatis.
"Tapi bukankah ada pepatah lain yang mengatakan kalau jodoh juga perlu diperjuangkan. Dan aku sedang memperjuangkan jodohku sekarang," timpal Christian mencari pembenaran.
Nadine tertawa kecil,
__ADS_1
"Kita bahkan masih sangat muda untuk memikirkan tentang jodoh, menikah, dan kehidupan setelah menikah," ucap Nadine sok bijak.
"Masa depan kita masih panjang," imbuh Nadine lagi masih berusaha bersikap bijak.
"Dan aku berharap, masa depanku adalah kamu, Nadine," pungkas Christian seraya bangkit berdiri.
Pemuda itu mengenakan jaketnya dan memakai tas ke punggungnya.
Nadine ikut berdiri,
"Kau akan pulang sekarang?" Tanya Nadine berbasa-basi.
Christian mendekat ke arah Nadine sebelum menjawab,
"Ya, aku akan pulang."
"Dengar! Kau boleh menolak ajakanku untuk menikah atau menjadi pacarku. Tapi tolong jangan menjauh dariku," Christian menangkup wajah Nadine dengan kedua tangannya.
"Aku ingin tetap menjadi teman dekatmu, Nad. Teman yang bisa berbagai segala hal kepadamu," sambung Christian lagi.
Nadine masih membisu.
"Kau tidak keberatan, kan? Menjadi teman baikku?" Tanya Christian lagi.
"Tentu... tentu saja tidak, Chris," jawab Nadine tergagap.
"Aku akan selalu menjadi teman baikmu, sampai kapanpun," imbuh Nadine lagi sedikit salah tingkah.
Jantung Nadine sudah berdegup kencang tak karuan. Kenapa tangan kekar Christian tak kunjung lepas dari wajah Nadine?
Christian memasang senyuman manis itu lagi.
"Terima kasih, Nadine," ucap Christian sebelum mencium kening Nadine.
Tanpa berpamitan atau mengucapkan salam, pemuda itu berbalik begitu saja dan meninggalkan Nadine yang masih berdiri mematung.
Dengan cepat, Chris menstarter motornya dan segera meluncur meninggalkan halaman rumah Nadine.
Nadine sendiri masih berdiri mematung di tempatnya semula. Apa Christian tadi baru saja mencium kening Nadine?
Ah, kenapa hati Nadine mendadak jadi sehangat ini?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀