
Nathan membuka pintu kamar Nadine dengan kasar, hingga membuat sang empunya kamar terlonjak kaget,
"Kamu jadian sama Chris?" Tanya Nathan seraya nenunjukkan foto dua tangan yang saling menggenggam di wall instagram miliknya. Itu adalah postingan Nadine beberapa jam yang lalu. Ada akun milik Chris yang di tag oleh Nadine dalam feed tersebut.
"Kenapa memangnya? Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu beberapa bulan lalu, kalau aku akan menjadikan Chris pacarku. Chris tampan, dia menyukaiku, dan kami menjalin hubungan baik sejak dia pindah ke sekolahku," jelas Nadine panjang lebar.
"Chris itu laki-laki brengsek, Nadine!" Ujar Nathan seraya duduk di ranjang milik Nadine.
Dua saudara kembar itu kini duduk bersebelahan.
"Chris laki-laki baik," Nadine masih bersikeras.
"Chris mencium bibir Vero saat di perpustakaan. Dan Chris juga yang memulai rumor kalau aku masuk klub Putra Garuda karena papa adalah coach di sana. Satu sekolah membicarakan rumor itu selama satu semester kemarin. Bukankah itu mengesalkan?" Tukas Nathan yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Nadine.
Pemuda itu menatap ke arah langit-langit kamar Nadine.
"Kau bercanda?" Nadine masih tidak percaya.
"Kau tidak pernah menceritakan itu semua kepadaku," protes Nadine sekali lagi.
"Aku kira itu bukan hal penting. Dan aku juga tidak menyangka kalau kau benar-benar menjalin hubungan yang serius dengan Chris," timpal Nathan dengan nada kecewa.
"Jadi, apa itu semua yang membuat Chris pindah sekolah?" Tebak Nadine cepat.
"Setelah kejadian di perpustakaan itu, rumor baru beredar dan semuanya mulai menyudutkan Chris. Aku rasa Chris sedikit tertekan dan itu mempengaruhi performanya di lapangan," Nathan menghela nafas.
"Di pertandingan terakhir performa Christian lumayan kacau sampai pelatih memarahinya habis-habisan," lanjut Nathan menyelesaikan ceritanya.
"Aku tidak tahu kalau Christian selabil itu. Sayang sekali mengingat skill bermain basketnya yang luar biasa," timpal Nadine dengan nada kecewa.
Nathan hanya mengendikkan bahu,
"Apa Chris tahu kita bersaudara?" Tanya Nathan lagi.
Nadine menggeleng.
Selama ini, tidak banyak yang tahu memang kalau Nathan dan Nadine bersaudara. Selain karena sekolah keduanya berbeda, baik Nathan maupun Nadine tidak pernah saling tag di akun sosmed mereka saat membuat feed atau story.
Nadine dan Nathan juga termasuk jarang membuat status di sosmed meskipun follower mereka lumayan banyak.
"Dia selalu mengantarku pulang sebulan terakhir. Tapi kan kamu selalu ke mess Putra Garuda sepulang sekolah. Jadi mana pernah dia lihat kamu di rumah," ujar Nadine lagi.
"Kalian sudah lama jadian?" Tanya Nathan penasaran.
"Baru sekitar dua bulan. Tapi kalau benar Chris yang menyebarkan rumor buruk tentang dirimu itu, mungkin aku akan mengakhiri hubunganku bersama Chris," putus Nadine cepat.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak mau ikut campur, Nad," Nathan mengangkat kedua tangannya.
Nadine berpikir sejenak.
"Menurutmu bagaimana reaksi Christian saat dia tahu kalau kita bersaudara?" Tanya Nadine tiba-tiba.
Nathan mengernyitkan kedua alisnya seakan tak paham.
"Aku punya ide." Cetus Nadine selanjutnya yang membuat Nathan semakin tak mengerti.
****
Keesokan paginya,
Nathan yang sudah mengenakan seragam lengkap sedang memainkan bola basket di halaman rumahnya.
Ada lapangan basket kecil di halaman rumah yang cukup luas tersebut yang biasa dipakai oleh Nathan dan Nadine untuk berlatih.
Baru saja Nathan akan menembakkan bola ke dalam ring, saat terdengar suara deru motor yang berhenti tepat di depan rumahnya.
Tentu saja Nathan hafal siapa pemuda di atas motor yang mengenakan jaket LA Lakers tersebut meskipun ia memakai helm full face.
Chris membuka kaca helmnya dan terkejut saat mendapati Nathan yang sedang bermain basket di halaman rumah Nadine.
Apa mereka bertetangga?
"Pagi, Nathan," Chris menjawab sapaan Nathan dengan canggung.
"Nadine, pacar kamu sudah datang!" Nathan setengah berteriak memanggil Nadine yang masih berada di dalam rumah dan sedang bersiap-siap. Namun netra pemuda itu masih menatap tajam pada Chris.
Sepertinya api permusuhan di antara keduanya belum reda.
Nathan masih belum bisa melupakan kejadian saat Chris dengan lancang mencium bibir Vero, meskipun sudah beberapa bulan berlalu sejak kejadian tersebut.
Nadine berlari-lari kecil keluar dari rumah.
"Hai, Chris! Maaf membuatmu menunggu," Nadine berbasa-basi pada pacarnya tersebut.
Chris memaksa untuk tersenyum pada Nadine dan mengabaikan tatapan tajam dari Nathan.
"Oh, ya. Kamu sudah ketemu Nathan?" Nadine menarik tangan Nathan agar mendekat ke arah Chris yang masih nangkring di atas motornya
Chris mengangguk sedikit ragu.
Kenapa Nadine terlihat sangat akrab dengan Nathan?
__ADS_1
Tunggu?
Wajah mereka berdua kenapa bisa mirip?
Jangan-jangan...
"Nathan saudara kembarku, Chris. Kamu pasti mengenalnya? Dia kapten tim basket di SMA Harapan," ujar Nadine cepat yang langsung membuat Chris kaget bukan kepalang.
Mereka saudara kembar?
Pacar Chris adalah saudara kembar dari orang yang membencinya?
Apa ini sebuah lelucon.
Chris tertawa canggung,
"Kau tidak pernah menceritakannya kepadaku, Nad," ujar Chris yang masih berusaha menutupi rasa kagetnya.
"Iya, aku lupa. Maaf," balas Nadine dengan raut wajah bersalah.
Nathan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya,
"Aku rasa sudah cukup perkenalannya. Aku harus berangkat sekarang," Nathan menyambar tasnya yang ada di kursi teras dan memakainya degan cepat.
Pemuda itu mengenakan helm dan segera naik ke atas motornya yang terparkir di halaman.
Nathan menstarter motornya,
"Cepatlah berangkat, Nadine! Atau kau juga akan terlambat," ujar Nathan sebelum melajukan motornya meninggalkan halaman rumah.
Nathan masih sempat melempar tatapan tajam permusuhan pada Chris yang mematung.
"Nathan benar, Chris. Sebaiknya kita berangkat sekarang," tepukan dari Nadine langsung membuyarkan semua lamunan Chris.
Pemuda itu hanya mengangguk dan segera menstarter motornya.
Setelah memastikan Nadine sudah naik ke atas motornya, Christian segera melajukan motornya menuju ke arah sekolah.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀