
Beberapa bulan berlalu,
Nathan dan Nadine sudah duduk di bangku kelas dua belas sekarang.
Nathan memutuskan untuk vakum sementara waktu dari klub karena ingin fokus pada ujian. Nathan juga masih terdaftar sebagai anggota tim basket sekolahnya untuk turnamen basket antar sekolah tahun ini. Meskipun Nathan tak lagi masuk tim inti, dan hanya duduk sebagai pemain cadangan.
"Udah mau pulang?" Tanya Nathan pada Annel yang baru keluar dari kelasnya.
Keduanya memang satu sekolah. Hanya saja, Nathan kelas dua belas dan Annel masih duduk di kelas sepuluh
"Iya. Mama udah nungguin di depan. Kak Nathan mau latihan ya?" Annel balik bertanya seraya menunjuk pada Nathan yang kini sudah mengenakan jersey dan menenteng bola basket.
"Iya, buat turnamen sebentar lagi," jawab Nathan santai.
Dua remaja tersebut berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.
"Kak Nathan kan mau ujian sebentar lagi. Emang gak keganggu gitu?" Tanya Annel penasaran.
"Enggaklah! Aku kan cuma jadi pemain cadangan sekarang. Bukan lagi tim inti. Jadi ya latihannya juga menyesuaikan aja porsinya," jawab Nathan santai.
Annel mengangguk paham.
"Mudah-mudahan tahun ini sekolah kita bisa merebut kembali gelar juara yang tahun kemarin hilang ya, Kak!" Pungkas Annel yang kini menghentikan langkahnya.
Annel dan Nathan sudah tiba di persimpangan koridor sekolah. Jika berbelok ke kanan menuju pintu keluar sekolah dan jika berbelok ke kiri menuju lapangan basket.
__ADS_1
"Annel duluan, Kak Nathan. Bye!" Pamit Annel seraya melambaikan tangan ke arah Nathan. Gadis itu berbelok ke kanan dan menuju pintu keluar utama.
Nathan balas melambaikan tangan pada Annel. Setelah Annel tak terlihat lagi, Nathan segera berlari menuju lapangan basket.
Beberapa anggota tim basket sudah berkumpul di lapangan dan mulai bersiap-siap untuk melakukan latihan.
****
"Chris! Gak pulang?" Seru Nadine dari pinggir lapangan basket.
Hari sudah beranjak sore dan suasana sekolah sudah sepi. Anggota tim basket yang lain juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya ada Chris yang masih bermain sendiri di tengah lapangan.
Christian menghentikan aktivitasnya dan segera menoleh pada Nadine,
"Bentar lagi," jawab Christian yang kembali memainkan bola di tangannya.
Gadis itu menangkap bola yang baru saja ditembakkan oleh Chris.
"Sudah cukup berlatihnya, Chris!" Sergah Nadine memperingatkan.
"Turnamen satu pekan lagi, Nad. Aku ingin tampil maksimal di pertandingan terakhirku," ujar Christian yang masih berusaha merebut bola yang kini Nadine sembunyikan di balik punggung.
"Tapi kau tidak perlu memforsir tenagamu juga!" Sergah Nadine yang berlalu pergi seraya membawa bola Chris.
Christian segera mengambil tasnya dan menyusul langkah Nadine.
__ADS_1
"Kamu darimana? Kenapa jam segini masih disekolah?" Tanya Christian yang kini sudah menyamai langkah Nadine.
Dua remaja itu menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi.
"Ada tambahan pelajaran untuk ujian, dan kau baru saja membolos!" Nadine menghentikan langkahnya dan segera memberikan bola basket yang tadi ia pegang pada Christian dengan kasar.
Tampak sekali raut tidak suka di wajah Nadine.
"Aku bisa belajar sendiri atau bertanya padamu jika ada yang tidak kupahami," jawab Christian dengan wajah tanpa dosa.
Nadine memutar bola matanya.
"Sudahlah! Aku mau pulang," ucap Nadine seraya berlalu dari hadapan Christian.
"Nad! Aku antar!" Seru Christian yang kembali berlari dan menyusul langkah Nadine yang sudah hampair sampai di parkiran.
Dua remaja itu segera meninggalkan sekolah karena matahari sudah nyaris tenggelam ke peraduannya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen.