
Nadine terkejut, saat motor sport berwarna hitam itu berhenti tepat di hadapannya. Tentu saja Nadine hafal siapa pemilik motor tersebut.
"Lagi nunggu jemputan?" Tanya Christian seraya membuka kaca helmnya.
Nadine menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Christian,
"Lagi nungguin ojek. Bentar lagi juga dapat," jawab Nadine berusaha cuek.
"Aku antar pulang," tawar Christian cepat.
Nadine menggeleng tak kalah cepat,
"Gak usah! Takutnya nanti ada yang marah," jawab Nadine sedikit gugup. Gadis itu membuang pandangannya ke arah jalan di depannya dan enggan menatap wajah Christian.
Christian membuka helm yang ia kenakan dan mengernyitkan dahinya,
"Pacar kamu?" Tebak Christian menerka-nerka.
Nadine tertawa kecil,
"Bukan! Tapi pacarmu," sahut Nadine seraya menunjuk Christian dengan jari telunjuknya.
"Pacarku? Aku sedang tidak punya pacar," jawab Chris santai.
"Yakin? Bukannya kamu pacaran sama Audy?" Sangkal Nadine cepat.
Christian tergelak. Mata sipit pemuda itu semakin tak terlihat saja.
"Siapa yang bilang aku pacaran sama Audy?" Ujar Chris yang masih berusaha meredam tawanya.
Nadine tertawa kecil,
"Bukannya itu memang udah jadi perbincangan satu sekolah ya? Anak-anak membicarakan kalian berdua di sepanjang koridor setiap pagi," Nadine tersenyum kecut.
"Tapi kami tidak pernah pacaran, Nad! Kami hanya berteman," ucap Christian sungguh-sungguh.
Nadine mengendikkan bahunya,
"Kalian mau pacaran atau enggak juga bukan urusan aku, kok," timpal Nadine cepat, seakan tidak peduli.
"Jadi bagaimana? Mau aku antar pulang? Hari sudah gelap, memang kamu gak takut naik ojek?" Christian menakut-nakuti.
"Jalan masih ramai. Kenapa harus takut?" Nadine mengendikkan dagunya ke jalanan di depan sekolah mereka yang masih padat oleh lalu-lalang kendaraan.
Christian tersenyum tipis. Benar-benar gadis yang keras kepala.
"Jadi, kau yakin tidak mau kuantar pulang?" Tawar Christian sekali lagi.
__ADS_1
Nadine menggeleng dengan sungguh-sungguh,
"Aku akan naik taksi saja," jawab Nadine seraya melambaikan tangan pada taksi yang melintas.
Sebuah taksi berwarna biru berhenti di belakang motor Christian.
"Bye, Christian!" Nadine melambaikan tangan pada Christian sebelum masuk ke taksi yang tadi ia berhentikan.
Christian balas melambaikan tangan pada Nadine sebelum gadis tersebut masuk ke dalam taksi.
Taksi yang ditumpangi Nadine segera melaju meninggalkan sekolah. Sedangkan Christian masih menunggu di tempat semula hingga taksi Nadine tak terlihat lagi.
Christian mengambil ponselnya yang ada di saku jaket. Aplikasi instagram tentu saja yang menjadi tujuan pemuda tujuh belas tahun tersebut. Christian mengetik sebuah status di storynya,
"Pernah gak sih, kalian di cemburuin padahal tidak ada niat membuat cemburu?"
Send!
Christian menyimpan kembali ponselnya, lalu mengenakan helm fullfacenya. Pemuda itupun segera melajukan motornya meninggalkan kawasan sekolah.
****
Nadine membuka pintu kamar Nathan tanpa mengetuk.
Dan si pemilik kamar yang sedang mendrible bola basket plastik itupun, langsung gelagapan karena tertangkap basah tengah melompat-lompat di kamar padahal kakinya belum pulih.
"Kamu ngapain?" Tanya Nadine galak.
"Sssttt. Diam! Jangan ember!" Gertak Nathan seraya memberi isyarat pada Nadine agar gadis itu tidak melapor pada sang papa.
"Pap..." Nadine yang baru saja akan berteriak memanggil sang papa langsung dibekap mulutnya oleh Nathan.
"Diem! Gak usah ember bisa gak, sih!" Gerutu Nathan geram.
"Lepasin, ih!" Nadine meronta dan memaksa Nathan melepaskan bekapan tangannya di mulut Nadine.
"Aku cuma iseng. Gak usah lapor ke papa!" Sergah Nathan dengan nada galak.
Nadine hanya mencibir seraya menatap marah pada Nathan. Gadis itu duduk di kursi yang ada di depan meja belajar Nathan.
"Udah sampai bab ini belum? Aku kok bingung," Nadine menunjukkan bab di buku pelajaran yang membuatnya tidak mengerti.
Nathan melihat sekilas pada bab yang ditunjuk Nadine,
"Itu udah minggu kemarin. Telat banget sih sekolah kamu," ledek Nathan seraya terkekeh. Pemuda itu mengeluarkan buku catatan dari dalam tas sekolahnya.
"Yang mana yang bikin kamu bingung? Biar aku ajari," ujar Nathan sombong seraya menepuk dadanya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Nadine malah langsung menyambar dengan kasar buku catatan Nathan. Gadis itu membaca tiap halamannya dengan seksama.
"Tulisan kamu gak bisa dibagusin sedikit apa? Benar-benar bikin mata aku sakit," keluh Nadine sambil masih terus membaca catatan Nathan.
"Kalo mata kamu sakit ya gak usah dilanjutin yang baca, nona Nadine," sahut Nathan ketus. Nathan hendak mengambil kembali buku catatannya, namun Nadine berhasil mengelak dengan cepat.
"Catatanmu lengkap. Aku pinjam dulu buat aku salin. Nanti aku balikin. Bye Nathan!" Nadine ngacir begitu saja dari kamar Nathan seraya membawa bukunya dan buku catatan Nathan.
Nathan mengambil kembali bola basket plastiknya dan berniat melatih shootingnya kembali, namun suara Nadine yang berteriak di luar kamarnya membuat Nathan harus mengumpat berulang kali.
"Papa! Nathan workout di kamar pake bola plastik," Nadine melapor pada papa Dion tentang kelakuan Nathan di dalam kamar. Terang saja papa Dion yang mendapat laporan dari Nadine segera menghampiri sang putra ke kamar.
Sedangkan Nadine tanpa rasa bersalah langsung melenggang masuk ke kamarnya dan menyalin catatan dari buku Nathan.
"Dasar ember!" Gerutu Nathan sebal.
"Nathan! Benar apa yang dikatakan Nadine?" Tanya papa Dion yang kini sudah berdiri di ambang pintu kamar Nathan seraya menatap tajam ke arah anak laki-lakinya tersebut.
"Gak ada, Pa! Nathan hanya sedang melatih tembakan," Nathan berusaha mengelak.
"Kamu masih mau bermain bola basket di atas court, kan?" Tanya papa Dion tegas.
"Ya iya, masih mau, Pa!" Jawab Nathan cepat.
"Kalau begitu jangan bandel!" Sergah papa Dion yang kembali geram.
Papa Dion mengambil obeng dari laci nakas di samping tempat tidur Nathan. Pria paruh baya tersebut mencopot ring basket yang tergantung di belakang pintu kamar Nathan.
"Yah, Pa! Jangan di lepas! Masih mau Nathan pake berlatih," Nathan melayangkan protes. Tapi sepertinya tidak mempan. Papa Dion tetap lanjut melepas ring basket tersebut.
"Bola?" Papa Dion menengadahkan tangannya meminta bola plastik yang disembunyikan Nathan di bawah selimut.
Nathan mencebik. Namun remaja tujuh belas tahun tersebut akhirnya tetap memberikan bola plastiknya pada sang papa.
"Akan papa pasang di ruang tengah. Kamu bisa melatih tembakanmu di ruang tengah. Jadi papa juga bisa mengawasimu," tegas papa Dion seraya berlalu dari kamar Nathan dan membawa ring serta bola plastik milik Nathan.
Nathan hanya bisa menggerutu dalam hati seraya memaki-maki Nadine yang mulutnya ember dan tukang melapor tersebut.
"Dasar Nadine! Udah galak, ember pula," gerutu Nathan kembali sebal.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀