
Nathan baru kembali dari perpustakaan dan hendak ke kelasnya yang kini ada di lantai dua.
Namun saat menaiki tangga, Nathan mendengar suara ribut dari bawah tangga.
"Kamu anak kecil gak usah belagu, deh! Sok-sokan deketi Nathan. Memangnya kamu siapa?" Gertak Vero galak pada Annel yang kini meringkuk ketakutan di bawah tangga.
Nathan melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang diancam oleh Vero. Saat melihat wajah ketakutan Annel, Nathan segera menghampiri gerombolan siswi tersebut.
"Vero! Kamu apa-apaan mengancam Annel begitu?" Gertak Nathan pada Vero. Nathan yang langsung menghampiri Annel dan membantu gadis itu berdiri.
"Nathan! Aku masih sayang sama kamu. Kita jadian lagi, ya!" Vero menggamit lengan Nathan dan mulai menggoda pemuda tersebut.
Nathan langsung melepaskan gamitan Vero dengan kasar.
"Maaf, aku tidak akan memungut lagi mantan yang sudah kubuang ke tempat sampah," sinis Nathan seraya menatap jijik pada Vero.
"Ayo, Annel!" Nathan merangkul Annel dan segera mengajak gadis itu meninggalkan Vero.
"Nathan!" Vero berusaha mencegah Nathan.
Namun Nathan hanya mengabaikan gadis itu dan memilih untuk segera berlalu bersama Annel.
Nathan mengantar Annel hingga ke kelas.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Nathan khawatir.
Nathan melepas kacamata Annel dan mengusap butir bening yang ada di sudut mata gadis itu.
"Annel baik-baik saja, Kak. Annel hanya takut tadi," jawab Annel terbata.
"Udah jangan takut lagi! Kalau Vero ganggu kamu atau ngancem kamu lagi, kamu langsung bilang ya, ke aku!" Pesan Nathan seraya memberikan kembali kacamata Annel.
Annel mengangguk.
"Kak Vero itu pacarnya kak Nathan, ya?" Tanya Annel kepo.
Nathan terkekeh,
"Itu hanya masalalu. Kami udah lama putus dan aku juga udah gak ada perasaan apa-apa ke Vero," jawab Nathan bersungguh-sungguh.
"Lagipula, Vero itu juga bukan gadis baik-baik. Buat apa dipacari?" Imbuh Nathan lagi yang kembali terkekeh.
Teet teet
Bel tanda masuk sudah berbunyi.
"Baiklah, aku ke kelas dulu. Bye!" Nathan mengacak rambut Annel sebelum pergi dari hadapan gadis tersebut.
Annel hanya tersenyum dan menatap hingga Nathan menghilang di ujung lorong.
****
Jam pulang sekolah,
Nathan sedang di halaman parkir, mengambil baju ganti yang ada di jok motornya. Hari ini Nathan kembali harus berlatih bersama tim basket sekolah. Jadi Nathan memutuskan untuk tinggal saja di sekolah sampai agar tidak perlu bolak-balik.
Nathan melihat Annel yang masih celingukan di dekat pintu gerbang.
__ADS_1
Tumben sekali gadis itu belum pulang. Biasanya mama Annel selalu menjemput Annel tepat waktu.
"Annel! Belum pulang?" Sapa Nathan yang kini sudah mendekat ke arah Annel.
"Eh, Kak Nathan. Belum pulang, Kak?" Annel malah balik bertanya.
"Ada latihan sebentar lagi, makanya aku tinggal aja di sekolah sambil nunggu jam latihan," ujar Nathan menjelaskan.
Annel membulatkan bibirnya seraya manggut-manggut mengerti.
"Kamu sendiri? Mama gak jemput?" Nathan bertanya sekali lagi.
"Gak tahu ini. Mama belum datang. Biasanya gak pernah telat kalo jemput Annel," jawab Annel yang kembali celingukan menunggu kehadiran sang mama.
Ponsel di saku Annel berbunyi. Buru-buru gadis itu mengangkatnya.
"Halo, Mama! Kenapa belum datang, Ma?" Sergah Annel setelah mengangkat telepon.
"Ban motor mama bocor, Ann. Ini mama masih di bengkel dekat rumah. Kamu pulang naik ojek atau taksi aja gimana?"
"Annel kan gak pernah naik ojek, Ma! Kalo nyasar gimana?" Annel mencebik takut.
"Iya kamu sebutin alamat lengkapnya, gak bakalan nyasar,"
"Tapi, Ma! Annel gak berani," Annel masih mencebik.
"Annel nungguin mama aja," imbuh Annel lagi.
"Lama nanti kalau kamu nungguin mama,"
Nathan yang bisa membaca situasi langsung merebut ponsel Annel,
"Hallo, Tante. Ini Nathan. Kalau Annel Nathan antar pulang aja gimana?" Nathan memberikan penawaran.
"Ngrepotin kamu gak, Nath?" Mama Annel terdengar khawatir.
"Enggak sama sekali kok, Tante. Kasian juga Annel gak berani naik ojek," Nathan terkekeh.
"Yaudah kalau memang Nathan mau anterin. Makasih banget lho sebelumnya,"
"Sama-sama, Tante, " Nathan menutup telepon dari mama Annel dan segera mengembalikan ponsel Annel.
"Ayo aku antar pulang!" Ajak Nathan seraya merangkul pundak Annel.
"Tapi, bukannya kak Nathan harus latihan?" Annel memberi alasan.
"Masih satu jam lagi, latihannya. Masih bisa kalo cuma nganter kamu pulang," ucap Nathan santai.
Nathan memakaikan helm ke kepala Annel.
"Bener gak ngrepotin?" Annel masih ragu.
"Enggak! Udah ayo!" Ajak Nathan yang sudah naik di atas motor. Annel segera menyusul naik ke motor Nathan.
Tak butuh waktu lama, dan motor Nathan sudah meninggalkan sekolah.
"Kak Nathan gak jemput kak Nadine?" Tanya Annel saat motor berhenti di lampu merah.
__ADS_1
"Nadine biasanya pulang bareng Christian. Jadi gak usah dijemput," jawab Nathan enteng.
"Kak Nadine sama kak Chris itu pacaran ya, Kak?" Tanya Annel kepo.
"Lah kamu kan dekat sama Nadine. Kenapa gak tanya langsung aja ke Nadine?" Jawab Nathan seraya terkekeh.
Nathan sudah melajukan motornya kembali karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Selang lima belas menit, Nathan dan Annel akhirnya tiba di depan rumah Annel.
"Makasih, Kak. Udah anterin Annel," ucap Annel seraya melepas helmnya.
"Sama-sama," jawab Nathan seraya tersenyum dan mengacak rambut Annel.
"Annelya!" Sebuah suara yang terdengar dari arah pintu masuk rumah Annel membuat Annel dan Nathan terlonjak kaget,
Seorang pria paruh baya yang wajahnya mirip dengan Annel datang menghampiri Nathan dan Annel. Pria tersebut menampilkan raut wajah tidak senang.
Apa ini papa Annel?
"Papa? Kapan sampai, Pa?" Annel menyapa sang papa dengan takut-takut.
"Darimana kamu? Dan ini siapa?" Tanya papa Annel masih dengan nada tidak senang.
"Saya Nathan, Om. Saya temannya Annel," Nathan segera memperkenalkan dirinya.
"Dan kamu sudah lancang mengajak putri saya kelayapan?" Tuduh papa Annel seraya menatap tajam pada Nathan
"Annel gak kelayapan, Pa! Ban motornya mama bocor, makanya kak Nathan nganterin Annel pulang, karena mama gak bisa jemput Annel," panjang lebar Annel menjelaskan pada sang papa.
"Masuk kamu!" Perintah sang papa galak.
Annel hanya mencebik dan segera masuk ke rumah.
Kini hanya tinggal Nathan dan papanya Annel yang ternyata galak.
"Jangan coba-coba mengajak Annel pacaran. Annel itu masih kecil dan dia hanya boleh fokus pada sekolahnya!" Papa Annel memperingatkan seraya menuding ke arah Nathan.
"Iya, Om. Saya mengerti. Saya pamit dulu, Om. Selamat siang," pamit Nathan seraya mengulurkan tangannya dan hendak mencium punggung tangan papa Annel.
Namun pria paruh baya tersebut menolak dan malah menepis tangan Nathan.
Papa Annel segera masuk dan meninggalkan Nathan yang melongo.
"Galak sekali," gumam Nathan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Baru saja Nathan akan pedekate sama Annel, tapi papanya sudah se-killer itu ternyata. Mungkin Nathan perlu bertanya pada papa Dion cara menaklukkan calon papa mertua yang galak.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1