
Nadine sudah bersiap di atas motor Nathan, saat motor Christian tiba di depan rumah mereka.
Chris membuka helm, dan menyapa kedua saudara kembar tersebut.
Tentu saja Nadine terkejut dengan kedatangan Chris yang mendadak, setelah hampir sepekan pemuda itu menghilang bak di telan bumi.
"Chris?" Nadine sudah turun dari motor Nathan dan mendekat ke arah Christian.
"Hai, Nad. Apa kabar?" Tanya Christian berbasa-basi.
"Hai, Chris," Nathan melambaikan tangan pada Christian dan menyapa teman serta rivalnya di lapangan tersebut.
Chris balas melambaikan tangan ke arah Nathan sembari tersenyum.
"Aku mau jemput kamu dan ngajak berangkat bareng. Itupun kalo kamu tudak keberatan," ucap Christian menyampaikan tujuannya.
"Tentu saja tidak," Nadine sedikit tergagap.
"Nath! Aku bareng sama Chris. Kamu duluan aja!" Nadine berteriak pada Nathan.
"Oke!" Jawab Nathan yang langsung melajukan motornya meninggalkan Chris dan Nadine.
"Ayo naik!" Aja Christian pada Nadine yang masih bengong.
"Eh, iya," jawab Nadine yang langsung naik ke atas motor Christian.
Tak berselang lama, Chris segera melajukan motornya meninggalkan kawasan perumahan tempat Nadine tinggal.
"Chris, kamu kemana saja seminggu ini?" Tanya Nadine setengah berteriak agar suaranya tidak terbang tertiup angin.
Namun Chris tidak menjawab pertanyaan Nadine dan malah membelokkan motornya ke arah jalan antar provinsi, bukan ke arah sekolah mereka.
"Chris, kita mau kemana?" Nadine yang merasa Christian salah arah, segera menepuk punggung pemuda tersebut dan terus-terusan melontarkan pertanyaan. Namun Christian tidak menjawab dan malah semakin menambah kecepatan laju motornya.
"Christian!" Nadine berulang kali menepuk punggung Christian. Namun pemuda itu tetap acuh dan tak menoleh sedikitpun.
Laju motor Christian semakin kencang saja. Nadine mengeratkan pegangannya pada jaket Christian. Namun di saat bersamaan, tangan Chris juga terulur dan meraih tangan Nadine, kemudian melingkarkannya di pinggang.
"Chris!" Nadine kembali menepuk punggung Christian. Namun tetap tak ada reaksi dari Christian. Pemuda itu masih terus memacu motornya.
Di sebuah persimpangan, motor Chris keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan yang lebih kecil. Nadine tahu jalan ini mengarah kemana.
Setelah melalui jalanan yang berkelok selama hampir tiga puluh menit, motor Chris memasuki sebuah kawasan objek wisata alam. Suasana masih sepi, mungkin karena ini masih pagi dan bukan hari libur.
Christian memarkirkan motornya di tempat parkir yang sudah disediakan. Pemuda itu belum bicara sepatah kata pun pada Nadine yang kini juga diam membisu.
"Kau haus?" Tanya Christian seraya menyodorkan botol minuman pada Nadine.
__ADS_1
Nadine menerima botol tersebut sambil menatap marah pada Christian.
Tentu saja Nadine marah karena Christian mengajaknya bolos sekolah hari ini.
"Kenapa kamu membawaku kesini, Chris?" Tanya Nadine dengan raut wajah kesal.
"Aku ingin menyegarkan otakku. Dan aku rasa hanya tempat ini yang cocok untuk dikunjungi," jawab Chris dengan nada santai tanpa ada rasa bersalah.
"Kau bisa kesini saat weekend dan tidak perlu membolos seperti ini," gerutu Nadine yang masih kesal.
"Saat weekend suasananya tidak akan setenang ini, Nad!" Christian merengkuh kedua pundak Nadine.
Kenapa gadis ini semakin cantik saja?
Padahal Christian baru sepekan tidak menjumpainya.
Bagaimana nanti saat Christian sudah benar-benar pindah ke Amrik dan hanya bisa menjumpai Nadine setahun dua kali?
Mungkin Chris akan semakin pangling dengan wajah ayu Nadine.
"Tapi kau tidak harus mengajakku membolos juga. Kenapa tidak pergi sendiri saja?" Gerutu Nadine sekali lagi. Gadis itu sekarang juga bersedekap kesal.
"Bukankah kau adalah teman baikku? Kau sudah berjanji untuk selalu menjadi temanku berbagi suka dan duka," ujar Christian seraya tertawa kecil.
"Teman berbagi. Bukan teman membolos!" Sanggah Nadine yang langsung membuat Christian tergelak.
"Tapi karena kita sudah terlanjur sampai di sini..."
"Ayo kita lihat air terjunnya!" Ajak Christian yang langsung meraih lengan Nadine. Pemuda itu menggandeng tangan Nadine dan berjalan masuk ke pintu utama objek wisata tersebut.
Nadine dan Christian berjalan beriringan menyusuri jalan setapak yang berbatu yang menuju ke arah air terjun. Kiri kanan dari jalan tersebut hanyalah pepohonan yang menjulang tinggi.
Nadine menghirup nafas dalam-dalam demi merasakan sejuknya udara di kawasan ini.
"Jadi, kau kemana satu minggu kemarin?" Tanya Nadine membuka obrolan.
Christian menyingsingkan lengan jaketnya dan menunjukkan pada Nadine sebuah plester yang melekat di pergelangan tangan sebelah kiri,
"Rumah sakit," jawab Christian dengan raut wajah datar.
Nadine menghentikan langkahnya dan segera meraih tangan kiri Christian. Tampak sekali raut kekhawatiran di wajah Nadine.
"Kamu sakit, Chris?" Tanya Nadine khawatir.
"Beberapa hari yang lalu, iya. Tapi sekarang aku sudah sehat. Jadi kamu tenang saja," Christian mengacak rambut Nadine.
"Kenapa tidak memberi tahuku kalau kamu sakit dan dirawat?" Protes Nadine yang kini mencebik.
__ADS_1
"Aku hanya tidak mau membuatmu khawatir, Nad," jawab Christian seraya tersenyum manis.
Ah, lagi-lagi senyuman itu.
Nadine memang merindukan senyuman manis Chris sepekan terakhir.
"Lagipula aku sakit karena kebodohanku sendiri," imbuh Chris yang langsung membuat Nadine mengernyit bingung.
"Aku tidak mengerti," gumam Nadine bertanya-tanya.
"Sore itu, saat aku pulang dari rumahmu. Aku mogok makan selama dua hari sebagai bentuk protes pada papa yang selalu mengatur-atur hidupku," Christian mulai bercerita.
Disaat yang bersamaan, dua remaja tersebut sudah sampai di air terjun yang merupakan tujuan utama dari objek wisata alam ini.
Nadine dan Chris melepaskan sepatu yang mereka kenakan, dan duduk di batu besar yang ada di dekat air terjun tersebut.
"Lalu, apa protesmu itu membuahkan hasil? Selain kamu masuk rumah sakit?" Tanya Nadine yang sepertinya penasaran dengan kelanjutan dari cerita Christian tadi.
Christian tergelak,
"Sedikit berhasil. Setelah aku opname tiga hari di rumah sakit, aku akhirnya berhasil membuat negosiasi dengan papa," jawab Christian antusias.
"Papa tetap akan mengirimku ke Amrik setelah kelulusan nanti, karena semua biaya pendaftaran untuk aku kuliah disana sudah dibayar lunas. Dan semua fasilitas untukku juga sudah siap," lanjut Christian yang kembali memulai ceritanya.
"Tapi soal perjodohan itu, papa akan membatalkannya. Dengan syarat aku harus kuliah dengan sungguh-sungguh di Amrik. Dan papa tidak akan ikut campur lagi soal gadis yang akan aku pilih sebagai pendamping hidup kelak," pungkas Christian seraya melirik ke arah Nadine.
Nadine tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Jadi, apa itu artinya kau tetap akan memilih gadis kemarin itu sebagai masa depanmu?" Tanya Nadine yang berusaha menahan tawanya.
"Tentu saja. Aku bukan cowok plin plan," jawab Christian tegas seraya melingkarkan lengannya di punggung Nadine.
Nadine menyandarkan kepalanya di dada Christian.
"Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu lagi, Chris! Jangan menyiksa dirimu sendiri," nasehat Nadine yang kini menggenggam erat tangan Chris.
"Tidak akan. Itu pertama kali dan terakhir kalinya aku melakukan sebuah hal bodoh," jawab Chris cepat seraya terkekeh.
Nadine ikut terkekeh.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀