
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, mobil yang dikemudikan Nadine masuk ke halaman parkir dari kafe om Vian. Nathan keluar terlebih dahulu, setelah mobil terparkir dengan benar. Pemuda itu berjalan santai memakai tongkatnya masuk ke dalam kafe.
Sementara Nadine dan Christian mengekor di belakang Nathan. Suasana kafe siang ini cukup ramai. Mungkin karena ini hari Minggu.
"Nathan!" Nadine menepuk punggung saudara kembarnya.
"Itu bukannya papa?" Nadine menunjuk ke salah satu meja yang ada di sudut kafe. Ada papa Dion yang sedang mengobrol bersama om Vian.
Nathan mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Nadine.
"Iya. Itu memang papa. Gabung ke sana aja yuk!" Ajak Nathan cepat seraya mengayunkan langkahnya ke arah meja papa Dion.
"Hai, Nathan, Nadine!" Om Vian yang terlebih dahulu melihat Nathan dan Nadine yang datang langsung menyapa kedua anak kembar tersebut. Papa Dion memutar duduknya dan mengernyit saat melihat kedua anaknya,
"Kalian ngapain disini?" Tanya papa Dion seraya menatap bergantian ke arah Nathan dan Nadine.
"Minta makan gratis. Apa lagi memangnya?" jawab Nathan seraya terkekeh.
"Siang, om Vian," Nathan menyapa om Vian seraya melakukan tos. Pemuda itu langsung duduk di kursi kosong di samping Om Vian. Sedangkan Nadine dan Christian duduk di kursi kosong yang ada di samping papa Dion.
"Papa sendiri ngapain di sini? Makan siang sendiri, anaknya gak diajak." Nadine melayangkan protes.
"Papa sedang ada urusan dengan om Vian," jawab papa Dion seraya mengacak rambut Nadine.
"Kalian habis workout dimana?" Tanya om Vian seraya menunjuk ke arah Nadine dan Christian yang masih mengenakan jersey basket.
"Di minicourt di rumah Nadine, Om," jawab Christian cepat.
"Bagaimana hidung kamu, Chris? Om dengar sempat patah ya di pertandingan final itu?" Gantian papa Dion yang bertanya pada Christian.
__ADS_1
"Sudah lebih baik, Om," jawab Christian seraya tersenyum.
"Sepadanlah dengan kemenangan yang akhirnya kamu capai. Ketimbang yang lututnya cedera tapi gak dapat apa-apa," Nadine menimpali dan menepuk punggung Christian. Gadis itu seperti sedang menyindir Nathan saja.
Terang saja, Nathan yang duduk di hadapan Nadine langsung melempar sedotan ke arah saudara kembarnya tersebut. Wajah Nathan terlihat kesal,
"Nyindir!" Gerutu Nathan sebal.
Nadine dan semua yang ada di meja tersebut tertawa.
"Santai, Nathan! Kau akan segera pulih dan lebih hebat lagi setelah cedera ini," om Vian merangkul pundak Nathan dan memberikan semangat.
"Om Vian dulu pernah cedera sepertimu, dan saat sudah pulih tiba-tiba dia jadi hebat di atas court," papa Dion ikut menimpali.
"Dengerin itu, Nad!" Nathan kembali melempar sedotan ke arah Nadine. Gadis remaja itu hanya mencibir.
"Oh ya, Chris. Kamu sudah ikut seleksi beasiswa di Universitas?" Papa Dion kembali bertanya pada Christian.
Nathan dan Nadine serempak menatap ke arah Christian.
"Kenapa belum? Skill kamu luar biasa, Chris. Kamu pasti dapat beasiswa penuh," Nadine yang terlebih dahulu buka suara.
Christian mengendikkan bahu,
"Mama dan papa melarangku bermain basket lagi setelah lulus SMA nanti. Mungkin mereka akan mengirimku kuliah bisnis di luar negeri," ujar Christian seraya menunduk sedih.
Nathan menatap prihatin pada Christian. Hal paling menyakitkan dari seorang pemain basket adalah saat keluarga ternyata tidak pernah mendukung. Nathan benar-benar baru tahu kalau selama ini Christian mengalami hal tersebut.
Christian sendiri sebenarnya memang berasal dari keluarga yang berada. Kekayaan orangtua Christian sudah terkenal di seantero negeri. Mungkin alasan itu jugalah yang membuat kedua orangtua Christian akhirnya menentang anaknya menjadi atlit basket. Apalagi Chris adalah anak lelaki satu-satunya di keluarganya. Mungkin orangtua Christian hanya ingin Chris fokus pada bisnis keluarga mereka.
__ADS_1
Nadine menepuk punggung Christian sekedar menyalurkan kekuatan untuk pemuda tersebut,
"Padahal om sangat ingin merekrut kamu masuk ke klub, Chris," ujar papa Dion memecah keheningan.
"Chris sebenarnya juga ingin masuk ke klub, Om. Tapi papa masih belum memberi izin. Mungkin Chris harus mengubur dalam-dalam impian Chris untuk menjadi seorang pemain basket profesional seperti om Dion," Christian tersenyum kecut.
"Chris!" Om Vian buka suara.
Christian menatap pada pria paruh baya tersebut,
"Ikut saja seleksi beasiswa di universitas. Jika kau lolos, setidaknya kau bisa membuktikan pada kedua orangtuamu, kalau skill bermain basketmu ada manfaatnya," nasehat om Vian bijak.
"Om Vian benar, Chris. Mungkin kedua orangtuamu akan berubah pikiran setelah kamu bisa membuktikan bakatmu yang sesungguhnya," Nathan ikut menimpali.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Chris. Kamu hanya perlu mencobanya," Nadine ikut-ikutan memberi semangat.
Christian mengulas senyuman di bibirnya. Chris sungguh tak menyangka jika orang-orang yang bukan keluarganya malah mendukung Chris dengan tulus. Bahkan Nathan yang terkenal sebagai musuh abadi Christian di atas court juga mendukung dan menyrmangati Chris.
"Baiklah, aku akan mencobanya," putus Christian akhirnya. Pemuda itu juga mengangguk dengan yakin.
Dan semua yang ada di meja tersebut ikut tersenyum seraya menarik nafas lega.
Semoga ini memang keputusan yang tepat.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀