
"Mau minum?" Christian menyodorkan segelas minuman pada Nadine yang sedang berdiri menikmati alunan musik.
"Makasih, Chris," ucap Nadine cepat seraya menerima gelas berisi minuman dari tangan Christian.
"Nathan kemana?" Tanya Nadine pada Christian yang kini berdiri di sampingnya.
"Di sana, lagi ngobrol sama anak-anak Putra Garuda kayaknya," Christian menunjuk ke arah Nathan yang sedang mengobrol dengan beberapa pemuda di sudut ruangan.
Nadine hanya mengangguk.
"Kamu gak ikut gabung sama mereka?" Tanya Nadine seraya menatap ke arah wajah Christian yang hari ini terlihat begitu cool.
Christian menggeleng,
"Aku disini saja, nemenin kamu," jawab Chris seraya tersenyun manis ke arah Nadine.
Wajah Nadine langsung bersemu merah karena senyuman Christian yang begitu manis. Cepat-cepat Nadine menundukkan wajahnya karena malu.
"Kenapa?" Tanya Christian tak mengerti. Pemuda itu sepertinya busa menangkap sikap Nadine yang salah tingkah.
"Gak papa," jawab Nadine cepat.
Acara selanjutnya adalah acara lempar bunga yang akan dilakukan oleh mempelai wanita. Beberapa tamu undangan wanita yang masih lajang sudah berkumpul dan siap untuk menangkap buket bunga yang akan dilemparkan oleh Nevi.
"Kamu ikutan, gih!" Chris memaksa Nadine untuk ikut acara lempar bunga.
"Enggak, ih. Aku married masih lama. Ngapain ikutan," tolak Nadine cepat.
"Udah ikut aja. Belum tentu juga kamu yang dapat. Ayo!" Ucap Christian sedikit memaksa. Pemuda itu mendorong Nadine agar bergabung dengan para gadis yang akan berebut buket bunga yang dilempar oleh Nevi.
"Gak mau, Chris!" Nadine masih saja menolak.
"Udah kamu berdiri aja disini!" Paksa Christian seraya terkekeh.
Kedua remaja itu masih saja berdebat dan tidak menyadari kalau acara lempar bunga sudah dimulai.
Buket bunga berwarna putih yang dilempar Nevi melayang di udara hingga akhirnya mendarat tepat di tangan Nadine yanng masih berdebat dengan Christian.
"Huuuuu!" Sorakan dari para tamu undangan membuat Nadine terdiam dan baru menyadari benda yang kini ada di tangannya.
Apa?
Bagaimana ceritanya buket bunga pengantin ini sudah ada di tangan Nadine sekarang?
"Wah! wah! selamat ya Nadine! Bentar lagi nyusul married," Teriak Nevi dari atas panggung.
Nadine menatap linglung pada orang-orang di sekitarnya. Gadis itu terlihat kebingungan. Cepat-cepat Christian merangkul Nadine yang sepertinya benar-benar linglung.
"Chris! Nanti calon suaminya Nadine kamu atau bukan?" Teriak bang Rico dari atas panggung yang langsung disambut dengan gelak tawa dari para tamu undangan.
Christian tidak menjawab dan hanya menuding ke arah kedua mempelai yang masih berada di atas panggung seraya tersenyum. Pemuda itu segera membimbing Nadine yang sepertinya masih shock untuk duduk di salah satu kursi yang ada di area tersebut.
"Udah! Jangan terlalu diambil pusing!" Ujar Christian berusaha menenangkan Nadine.
"Tapi ini maksudnya apa?" Tanya Nadine dengan raut wajah polos, seraya menunjukkan buket bunga pengantin yang masih ia pegang sedari tadi.
Christian benar-benar gemas saat Nadine menampilkan raut wajah polosnya seperti ini.
__ADS_1
"Gak ada maksud apa-apa. Itu hanya bunga dari kak Nevi," jawab Christian dengan nada santai.
"Tapi tadi, yang bilang aku mau married-" Nadine belum menyelesaikan kalimatnya
"Haish! Itu hanya mitos. Lagipula kamu kan masih kelas sebelas. Emangnya kamu mau married sekarang?" Potong Christian cepat seraya terkekeh.
"Ya enggaklah! Aku kan masih pengen sekolah, kuliah, dan mewujudkan semua cita-cita aku," sahut Nadine cepat.
"Yaudah, gak usah kamu pikirin. Kamu simpen aja buket bunga ini," ucap Christian lagi memberikan saran.
"Buat kamu aja!" Nadine menyodorkan buket bunga tadi pada Christian.
"Kok dikasihin ke aku?" Tanya Christian yang tak paham.
"Ya, kali aja kamu mau married nanti setelah lulus," jawab Nadine seraya terkekeh.
"Bagaimana aku mau married, kalau calon istri aku aja masih mau meraih cita-citanya?" Christian bergumam lirih.
"Apa?" Nadine yang seperti mendengar gumaman dari Christian sontak bertanya.
"Apa? Gak ada apa-apa," sahut Christian cepat.
"Tapi tadi aku kayak dengar kamu bicara sesuatu," ujar Nadine dengan dahi mengernyit bingung.
"Gak ada. Kamu salah dengar mungkin," jawab Christian seraya tertawa kecil.
"Udah! Ini kami bawa dan kamu simpan saja buket bunganya. Kalo aku yang bawa kan gak lucu. Masa cowok bawa-bawa buket bunga," ucap Christian lagi seraya terkekeh.
Christian kembali memberikan buket bunga tadi kepada Nadine.
Nadine ikut terkekeh dan mengambil kembali buket bunga yang disodorkan oleh Christian.
"Ngawur!" Nadine langsung memukul kepala Nathan dengan buket bunga yang ada di tangannya.
"Ish! Masih aja barbar, padahal penampilan udah perfect bak bidadari turun dari kahyangan," gerutu Nathan seraya meneguk air minum di gelas yang ada di hadapannya.
"Udah dapat cewek baru belum, Nath?" Goda Christian pada Nathan yang kini sedang duduk di hadapannya.
"Gak ada yang menarik disini. Lagian aku sedang malas pacaran. Kalian aja gih yang jadian!" Jawab Nathan yang malah balik menggoda Chris dan Nadine.
"Apaan sih! Dari kemarin pada nyuruh jadian mulu sebenarnya kenapa sih?" Gerutu Nadine kesal.
"Lah kalian berdua itu juga aneh. Bilangnya cuma temenan. Bilangnya cuma sahabatan. Tapi pulang pergi sekolah bareng. Udah gitu kemana-mana rangkulan bak orang pacaran. Kenapa gak jadian lagi aja kalo emang kalian masih saling suka," cerocos Nathan panjang lebar yang langsung membuat Christian tersenyum tipis.
Sangat berbeda dengan Nadine yang kini mencebik kesal.
"Semua akan jadian pada waktunya," sahut Christian santai seraya merangkulkan lengannya pada Nadine yang masih duduk di sebelahnya.
"Ini lagi! Yang mau jadian emangnya siapa?" Nadine memukul dada Christian.
"Halah! Gak usah sok-sokan jual mahal, Nad! Kamu sendiri masih ada perasaan sama Chris, kan?" Seloroh Nathan yang langsung membuat Nadine terdiam.
Wajah gadis tujuh belas tahun tersebut bersemu merah.
Christian tergelak,
"Benar itu, Nad?" Tanya Christian yang masih tergelak.
__ADS_1
"Tu, udah dikasih kode sama Chris. Mau diajak jadian lagi. Jadian gih!" Timpal Nathan mengompori.
"Gak ada! Kalian berdua kenapa, sih?" Sangkal Nadine yang pura-pura kesal.
Namun tentu saja, gadis itu tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kini sudah semerah tomat.
Nathan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Nadine. Sedangkan Christian hanya tersenyum simpul melihat wajah Nadine yang terus saja memerah.
"Udahlah! Aku mau ambil makanan," pungkas Nadine seraya beranjak dari duduknya.
Christian dan Nathan masih tertawa kecil.
Nadine sudah berlalu menuju ke arah meja prasmanan.
"Dasar cewek! Sukanya jual mahal," gumam Nathan yang langsung disambut Chris dengan sebuah tawa kecil.
"Jadi gimana, Chris? Kamu udah ikut tes seleksi di Universitas?" Tanya Nathan mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, sudah," jawab Chris seraya mengangguk.
"Mungkin satu sampai dua minggu lagi hasilnya baru keluar," imbuh Christian lagi.
"Baguslah. Semoga lolos! Tapi aku yakin pasti lolos lah," sahut Nathan optimis.
"Bisa aja kamu! Tetep aja kan saingannya kemarin itu lumayan banyak," ucap Christian merendah.
"Tapi gak ada yang skill basketnya sekeren kamu," puji Nathan sekali lagi.
Christian hanya tertawa kecil.
"Tapi kamu masih hutang satu pertandingan one on one sama aku. Semoga kamu gak lupa," ujar Christian lagi.
"Hoho. Aku gak lupa. Tapi belum ada waktu aja. Kemarin aja ngerjain tugas sekolah sampai dibantuin sama Nadine," jawab Nathan terkekeh.
"Jadwal latihan padat, ya?" Tebak Christian cepat.
"Ya, begitulah. Udah macam kerja rodi pokoknya. Pulang sekolah harus langsung latihan sampe sore. Kalo weekend kadang latihan sampai malam," ujar Nathan menjelaskan.
Christian mengangguk mengerti.
"Aku kapan bisa kayak gitu," kelakar Christian seraya tertawa kecil.
"Secepatnya," sahut Nathan cepat.
"Setelah masuk Universitas, aku yakin bakal banyak klub-klub besar yang meminangmu," imbuh Nathan lagi dengan nada optimis.
"Semoga," gumam Christian lirih.
Meskipun dalam hati Christian masih saja ragu.
Akankah Christian berhasil menjadi seorang pebasket profesional suatu hari nanti?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 🏀