
Nadine terlihat gelisah sepanjang pagi karena belum mendapat kabar tentang Christian. Gadis itu hanya mengaduk-aduk sarapannya dan tidak menyantapnya sedikitpun.
"Ada masalah apa?" Tanya papa Dion bingung.
"Christian kemarin cedera saat bertanding. Dan belum ada kabar apapun hingga kini," Nathan yang menjawab pertanyaan papa Dion.
"Bagaimana bisa? Apa kau tidak bertanya pada pihak sekolah?" Cecar papa Dion seraya menatap bergantian pada Nathan dan Nadine.
"Keluarganya yang membawa Christian ke rumah sakit. Pihak sekolah juga tidak tahu-menahu Christian dibawa ke rumah sakit mana. Ponsel dan tas Christian juga masih di ruang loker dan tidak ikut dibawa," ujar Nadine menjelaskan.
Papa Dion hanya mengangguk seakan mengerti dengan kekhawatiran sang putri.
Sesaat suasana di ruang makan itu menjadi hening. Nathan sudah menyelesaikan sarapannya. Sangat berbeda dengan piring Nadine yang masih penuh dan terlihat berantakan, karena gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya sedari tadi.
Papa Dion melirik arloji di tangannya,
"Sebaiknya kalian segera berangkat," saran papa Dion karena ini sudah pukul setengah tujuh.
Nathan menyambar tasnya. Nadine beranjak dari duduknya dengan malas.
"Papa akan membawakanmu bekal, Nad!" Papa Dion sudah ke dapur dan mencari-cari kotak bekal.
"Tidak usah, Pa! Nanti Nadine makan di kantin saja kalau sudah mood," sela Nadine yang langsung membuat papa Dion menghentikan aktivitasnya.
"Kamu harus makan, Nadine! Papa tidak mau kamu sakit hanya karena malas makan," ucap papa Dion tegas.
"Iya, nanti Nadine makan di kantin," jawab Nadine seraya memakai tas di punggungnya.
Nathan dan Nadine bergantian mencium punggung tangan papa Dion. Setelah berpamitan, kedua remaja tersebut segera keluar menuju teras. Nathan dan Nadine akan berangkat bersama ke sekolah.
"Barangnya Christian kamu bawa gak?" Tanya Nathan seraya menstarter motornya.
__ADS_1
"Ponselnya saja. Tasnya aku tinggal di rumah," jawab Nadine yang sudah selesai memakai helmnya.
Namun baru saja Nadine akan naik ke atas motor Nathan, ponsel Nadine berbunyi.
Nadine segera mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ada sebuah nomor asing yang menelpon Nadine.
"Siapa ini?" Nadine bergumam dalam hati
****
Christian mengerjapkan matanya berulang kali. Pemandangan pertama yang dilihat oleh pemuda itu adalah langit-langit berwarna putih dan sebuah tiang infus dengan botol infus yang tergantung di sana.
Rasa nyeri di kaki kanan Christian kembali terasa menyiksa. Meskipun sudah tak sesakit kemarin, tapi tetap saja rasa sakitnya cukup bisa membuat Christian meringis kesakitan.
Seorang pria berbadan tegap dan berpakaian serba hitam, terlihat berdiri tak jauh dari ranjang tempat Christian berbaring.
"Ssst!" Chris memanggil pria yang Chris yakini sebagai bodyguard sang papa tersebut.
"Anda sudah bangun, Tuan Muda," bodyguard tadi mendekat ke arah ranjang Christian.
Sang mama pasti belum pulang shopping dari luar negeri dan sang papa pastilah sedang meeting bersama rekan bisnisnya sekarang. Jadi, kenapa Christian malah menanyakan keberadaan orang tua yang tidak pernah peduli kepadanya.
"Ponsel!" Christian menengadahkan tangannya pada sang bodyguard.
"Berikan ponselmu!" Perintah Christian sekali lagi.
Bodyguard tadi hanya mengangguk dan segera memberikan ponselnya pada Christian.
Dengan cepat, Chris menekan nomor Nadine.
"Hallo! Ini siapa, ya?" Sambut Nadine di seberang sana.
__ADS_1
"Hallo, Nad. Aku Christian,"
"Chris! Astaga, kamu dimana sekarang?" pekik Nadine dari seberang sana. Sepertinya Nadine merasa lega karena mendengar suara dan kabar Christian
"Aku masih di rumah sakit Mitra Keluarga," jawab Christian seraya menatap pada kakinya yang kini di gips.
"Aku akan kesana nanti pulang sekolah. Ponsel dan tasmu masih aku bawa. Nanti aku antar sekalian," ucap Nadine yang langsung membuat Christian tersenyum.
"Baiklah aku tunggu. Bye Nadine!" Pungkas Christian mengakhiri panggilannya.
****
"Chris telpon?" Tebak Nathan yang sudah mematikan mesin motornya.
"Iya. Dia ada di rumah sakit Mitra Keluarga," jawab Nadine seraya naik ke atas motor Nathan.
"Nanti pulang sekolah aku akan langsung kesana," imbuh Nadine lagi.
Nathan kembali menyalakan mesin motornya.
"Jangan lupa minta izin papa! Aku ada latihan bareng tim jadi gak bisa anter," pesan Nathan mengingatkan.
"Iya. Buruan berangkat! Kesiangan ini!" Nadine menepuk punggung Nathan.
Nathan tak menjawab dan segera melajukan motornya menuju ke arah sekolah. Sudah hampir pukul tujuh sekarang.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih readers yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 🏀