
Setelah pesta pernikahan yang cukup mewah itu digelar, kini malam pengantin pun tiba. Setelah menghabiskan separuh malam bersama teman-temannya, hanya sekedar mengobrol dan bergurau. Wisnu pun terpaksa harus segera angkat kaki menuju kamarnya. Sebenarnya, ia benar-benar tidak ingin untuk masuk ke kamar yang sama dengan Grey, tapi melihat kondisi saat ini, tidak mungkin juga ia harus tidur di kamar hotel yang lain. Bisa-bisa, jika papanya tahu ia pasti akan dimarahi.
Wisnu membuka kamar presiden suite, yang khusus di pesankan oleh papanya, untuk malam pengantin dirinya dengan Grey.
Begitu membuka pintu kamar, aroma lembut dari bunga mawar dan melati, langsung menguar, menusuk indra penciumannya. Dilihatnya ke sekitar, tidak ada siapa-siapa di kamar. Ia pun langsung melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur.
Langkahnya sejenak terhenti, begitu ia mendengar suara kucuran air di dalam kamar mandi. “Oh, ternyata dia lagi mandi,” gumam Wisnu dalam hati.
Matanya kini beralih mengelilingi area kamar, ia mencibir, ketika melihat ratusan kelopak mawar yang bertaburan di atas tempat tidur, membentuk hati, yang mungkin sedikit membuatnya merasa geli.
“Benar-benar menjijikan!” cetusnya, tidak suka.
Lalu ia pun mengedarkan pandangannya ke arah lain, di mana lilin-lilin hias yang menyala dengan api kecil di atasnya, ikut menghiasi kamar ini. Akan tetapi, tetap saja, Wisnu sangat tidak menyukainya.
Ia mungkin bisa menyukai semua ini, bahkan bisa sangat bahagia melihatnya, jika wanita yang ia nikahi hari ini bukanlah Grey, tetapi wanita idamannya.
Wisnu mendaratkan tubuhnya di atas sofa panjang di depan ranjang. Ia melepaskan sepatu pentofelnya, diganti dengan sendal selop putih yang berbahan lembut, yang sudah disediakan pihak hotel. Lalu ia pun keluar menuju balkon, menghirup udara malam dengan begitu dalam, sambil menikmati indahnya malam di atas ketinggian kamar hotel.
Sementara Grey, di dalam kamar mandi sana, ia masih kebingungan, apakah ia harus memakai baju pengantin yang sudah disiapkan oleh pihak hotel atau tidak. Ia menilik gaun lingerin berbahan satin tipis berwarna merah yang tengah dipegang oleh kedua tangannya itu.
Lama ia memandangi baju yang cukup menggelikan baginya itu. "Apa aku harus memakai gaun seperti ini? Tapi, kalau aku memakai gaun ini, apa aku akan terlihat begitu murahan?" batinnya.
Ia menghela nafas panjang, bingung dengan pilihannya, sejenak ia melirik ke sisi westafel, di mana baju gamis serta kerudungnya tersimpan rapi di atas sana. Tapi, ia juga bingung, karena ini adalah malam pengantinnya. "Masa iya sih, di malam pengantin ini aku harus pakai gamis dan kerudungku?"
Tanpa pikir panjang, ia pun memutuskan untuk memakai lingerine itu, meski sebenarnya ia masih begitu ragu bahkan takut harus menghadapi malam pertamanya dengan suaminya saat ini. Terlabih ia belum jujur soal keperawanannya kepada Wisnu.
Tak lama kemudian, Anggreya muncul dari balik pintu kamar mandi. Grey begitu merasa semakin gugup, saat mendapati Wisnu yang sudah berada di balkon berdiri sendirian.
Jantungnya berdegup kencang, seiring dengan rasa takut dan pikiran khawatir yang tiba-tiba menyerangnya. Ia benar-benar takut untuk melakukan malam panjang ini bersama Wisnu.
Wisnu membalikkan badannya, saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang tak lain adalah suara langkah kaki istrinya. Kedua mata Wisnu sejenak dikejutkan saat melihat penampilan Grey, yang menurutnya cukup aneh.
"Apa dia memang sealim ini? Di hadapan aku saja dia masih tertutup seperti itu," gumam Wisnu, menatap Grey dengan datar.
Grey memang memakai lingerine itu, tapi karena kegugupannya, wanita itu jadi memilih untuk merangkapnya bersama gamis miliknya, jadi saat ini, Grey tengah memakai baju double.
Grey menebarkan senyuman manisnya kepada Wisnu, namun balasan yang diberikan oleh Wisnu jauh dari ekspetasi Grey. Lelaki itu hanya diam, tanpa berekspresi sedikit pun, bahkan membalas senyumannya saja, tidak.
Wisnu berjalan mendekatinya, tanpa senyuman, tanpa sapaan, lelaki itu ternyata langsung pergi ke dalam kamar mandi begitu saja setelah mengambil terlebih dahulu baju ganti di lemari. Grey terhenyak dalam keterkejutannya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Grey berjalan mendekati meja rias, ia duduk sambil bercermin memandangi dirinya di dalam pantulan cermin tersebut.
Bibirnya terlihat mengerucut, lalu ia menghela lemah. Seraya melemaskan kedua pundaknya. “Hm, ku kira dia akan menyapaku terlebih dahulu, say hai atau apa kek gitu sama istri sendiri. Eh, taunya malah main nyelonong ngelewat gitu aja,” gerutunya pelan.
“Apa dia benar-benar enggak terima dengan pernikahan ini ya? Sikapnya benar-benar dingin dan menyebalkan!”
Anggreya pun memilih untuk merias dirinya terlebih dahulu, meski sikap Wisnu padanya masih terbilang sangat jutek, bahkan tampak garang dan terasa dingin banget kayak beruang kutub. Akan tetapi, sebagai istri yang baik, Grey harus mempersiapkan dirinya untuk malam ini. Mempercantik diri, agar jika nanti Wisnu memintanya, sedikit riasan wajah tak akan memperburuk penampilannya.
Tidak berapa lama, Wisnu keluar dari kamar mandi. Aroma gentelman benar-benar menguar kuat, di indra penciuman Grey. Apalagi saat ia membuka pintu kamar mandi, aroma sabun yang semerbak mewangi, membuat Grey langsung menoleh ke arahnya. Dilihatnya, Wisnu yang memakai kaus putih, dengan celana trening hitam panjang, membuat tampilannya seperti anime-anime keren di komik.
Apalagi saat melihat otot kekar di bahu suaminya tersebut. Grey begitu sangat terpesona, apalagi saat melihat Wisnu menyibakkan rambut basahnya ke belakang, lalu mengacaknya menggunakan handuk putih kecil yang mengalung di lehernya.
“Stop!” batinnya, Grey langsung memalingkan wajah.
Untung saja, ia langsung sadar. Kalau tidak, bisa-bisa ia kena malu karena ketahuan terpesona dengan ketampanan suaminya itu. Bahkan, kalau dilihat sekarang pipi Grey sudah bersemu kemerahan, demi menahan malu atas apa yang dilihat oleh kedua matanya.
“Jangan sampai kau terpesona, Grey,” batinnya, sambil memejamkan mata dalam-dalam.
Wisnu kembali mencibir. Sebenarnya ia mengetahui kalau Grey sedari tadi memandanginya dengan sebegitunya. Ia tahu, bahwa wanita yang tengah duduk di tepi ranjang itu, tengah terpesona melihatnya.
“Dasar! Malu-malu harimau,dia pikir aku tidak melihatnya apa!” batin Wisnu, sambil memutar bola mata dan menggeleng malas.
Sedangkan Grey, ia masih duduk dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Ia membelakangi Wisnu, yang tak ia ketahui sedang apa suaminya itu.
Keadaan semakin terasa canggung, begitu sunyi, senyap, bahkan yang terdengar hanya suara detak jam dinding saja, yang sedari tadi terus memutar waktu. Grey semakin tak enak hati. Ia sesekali meremas gamis di bagian pahanya, lalu menoleh ke belakang untuk memastikan suaminya tersebut.
Sedangkan Wisnu, ia masih asyik memainkan ponselnya, hanya sekedar melihat-lihat file laporan yang dikirmkan oleh sekretarisnya, Devan.
Kurang lebih setelah setengah jam Wisnu menghabiskan waktunya untuk melihat-lihat laporan di ponselnya. Ia pun melirik ke arah pojok kanan atas di layar ponselnya itu, yang sudah menunjukkan waktu, pukul 01.15 dini hari.
Ia pun melirik ke arah Grey, yang sedari tadi hanya duduk membelakanginya.
“Apa kau akan duduk seperti itu sampai pagi?” tanya Wisnu tiba-tiba, masih dengan nadanya yang teramat dingin.
Grey menoleh, ia sedikit terkejut saat mendengar suaminya bersuara. “Hah? T-tidak, a-aku akan tidur kok,” jawabnya sambil sedikit tersenyum canggung ke arah Wisnu.
“Ehem.” Wisnu berdehem cukup keras, seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak akan menyentuh Grey.
Grey yang tidak tahu kode tersebut, ia hanya bergumam. "Kenapa dia berdehem sekeras itu?"
__ADS_1
“Tidurlah, sudah malam. Besok pagi kita harus segera berkemas untuk pergi dari sini,” ucap Wisnu, langsung menarik selimut yang ada di ujung kakinya, dan menutupkannya hingga ke dada, lalu ia pun berbaring.
Grey sejenak terdiam. Ia berfikir. “Kenapa dia tidak mengajakku untuk melakukan hubungan di malam pertama? Apa dia capek? Emh, atau memang dia juga belum siap sepertiku?” batinnya. Masih memandangi Wisnu yang tengah terlelap dengan tubuh yang terlentang lurus menghadap langit-langit kamar.
Grey pun sedikit tersenyum. “Baguslah kalau dia tidak mau melakukannya malam ini, aku jadi sedikit lebih tenang,” batinnya.
“Apa kau akan tidur dengan posisi seperti itu?”
Tiba-tiba, suara Wisnu kembali mengejutkan Grey. “Hah? Ti-tidak, a-aku akan tidur berbaring kok,” jawabnya, langsung membaringkan tubuhnya di tepi ranjang, juga membelakangi Wisnu.
Anggreya menggigit kuku ibu jarinya, merasa malu karena ditegor terus oleh Wisnu. “Duh ... aku kira dia sudah tidur, ternyata belum,” gumamnya dalam hati.
“Hey.” Tiba-tiba suara Wisnu kembali terdengar memanggilya.
Grey hendak membalikkan badannya. Namun, terlebih dahulu Wisnu melarangnya.
“Tak perlu menghadap ke arahku, akan lebih baik jika kita tidur dengan posisi saling membelakangi,” ujarnya. Membuat Grey mengerutkan dahinya, karena merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan suaminya.
“Kau tahu bukan, pernikahan kita ini karena keterpaksaan?” tanya Wisnu.
“Em, iya,” jawab Grey.
“Aku harap, kau tak perlu meminta nafkah batin kepadaku. Dan aku pun tak akan meminta nafkah batin padamu. Jadi, untuk malam ini dan seterusnya, aku tidak akan menyentuhmu,” jelas Wisnu pelan, setelah beberapa kali ia meyakinkan diri untuk mengungkapkan semua ini pada Grey di malam pengantinnya ini.
Grey cukup tercenung mendengarnya. Entah ia harus senang atau sedih, ia tak bisa menjawab, pikirannya seolah tertutup oleh awan gelap, yang membuat benaknya terasa kosong. Tapi, yang ia tahu saat ini, bahwa dengan apa yang dikatakan oleh Wisnu barusan, itu menandakan bahwa Wisnu memang tak menginginkannya.
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak keberatan jika hanya sementara waktu,” jawab Grey pelan.
Wisnu langsung menoleh ke arah Grey, ia mengerutkan kedua alisnya. Tak mengerti atas jawaban yang diberikan oleh Grey. “Sementara waktu? Apa maksudnya?” batinnya.
Wisnu hendak menanyakannya kembali, tetapi rasa malasnya terlalu besar. Ia terlalu enggan untuk memperpanjang obrolannya dengan Grey. Hingga akhirnya ia lebih memilih untuk tidak memedulikannya, dan lebih baik tidur.
"Tidak apa-apa, Mas. Tapi aku berharap, kedepannya kau mau mengakui pernikahan ini dan mau mengakui keberadaanku," gumam Grey dalam hati.
Karena bagaimana pun, menurut Grey pernikahan atas dasar perjodohan, bukanlah sekedar permainan. Ia tetap akan berusaha mencintai dan membuat Wisnu mencintainya. Karena bagaimana pun, pernikahan ini sudah dipilihnya, meski ia tidak tahu rumah tangga semacam apa yang akan ia jalani dengan Wisnu kedepannya, terlebih jika suatu hari nanti, Wisnu mengetahui aibnya.
Bersambung....
Lanjut lagi enggak nih?
__ADS_1