Noda Pengantin

Noda Pengantin
Perlu Pembuktian


__ADS_3

“Okay, okay, baiklah, aku akan diam,” ucapnya seraya mencoba menghentikan tawanya yang masih terasa menggelitik di perutnya.


Tiba-tiba, bianglala yang sejak tadi terhenti itu kembali melaju, dengan gerakan yang cukup mengejutkan. Grey terhentak dan secara tidak sengaja ia terjatuh, wajahnya menubruk dada Wisnu, hingga kini posisi mereka berdua ada dalam radius yang cukup dekat.


Kedua mata mereka saling bertautan, seiring dengan degup jantung yang kian berdetak cepat.


Dug, deg, dug, deg.


Jantung Grey tak bisa dikendalikan, ia mengerjap dan tersadar lalu buru-buru ia memundurkan tubuhnya dan kembali duduk ke posisinya semula.


“Maaf,” ucapnya gugup lalu mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


Hingga pada akhirnya bianglala yang mereka tumpangi kini sudah sampai di bawah. Seorang petugas membukakan pintu dari bianglala tersebut lalu mempersilakan mereka untuk keluar.


Keadaan di antara keduanya kini terasa begitu canggung, entah kenapa, tetapi Grey merasa tatapan Wisnu tadi seolah membekas di memori pandangannya. Terbayang dan semakin terbayang diulang-ulang.


Setelah itu mereka berdua pun jalan-jalan mengelilingi pameran malam tersebut. Suasana malam yang indah, cuaca yang mendukung dan keramaian yang menyenangkan, membuat Grey merasa betah berada di sana. Ia berjalan ke sana ke mari mencari jajanan, mulai dari jajan kembang gula, beli surabi, beli hotdog dan jagung beledug (Popcorn).


Tidak terasa, kini jam di ponsel sudah menunjukan pukul 22.30 malam. Mereka berdua pun pulang kembali ke hotel. Grey menenteng beberapa kantung jajanan yang ia beli di tangannya.


“Mas, bisa bantuin bawain jajanan aku enggak?” pinta Grey sedikit tidak enak hati.


Wisnu memutar kedua bola matanya dengan sebal, masih dengan kedua tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana, dan tetap berjalan di depan Grey tanpa memedulikan permintaan istrinya tersebut.


“Ogah! Siapa suruh jajan banyak-banyak!” balasnya tidak peduli.


Grey langsung mendengus sambil mencebikan bibirnya merasa kesal. “Astaghfirullah Mas Wisnu, kok gitu banget sih sama istri sendiri. Dia benar-benar tega membiarkan istrinya kesusahan seperti ini,” gerutunya pelan.


***


Wisnu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Hari ini ia merasa begitu lelah. Badannya terasa capek, otot-otot di tubuh mulai melemah, apa lagi setelah berjalan beratus-ratus meter demi menemani istrinya berkeliling mencari jajanan di pameran malam. Sedangkan Grey, wanita itu tampaknya masih begitu segar bugar. Tidak terlihat lelahnya sama sekali.


“Mas, kamu mau?” tawar Grey saat ia mengeluarkan jajanan miliknya dari kantung kresek yang ia bawa.


“Malu-maluin banget, nginep di hotel bintang lima, tapi jajannya di kaki lima,” cibir Wisnu, yang bangkit dari tidurnya.


“Ya emangnya kenapa? Lagian, jajanan di pedagang kaki lima juga enak-enak kok, gak kalah rasanya sama makanan dari restoran bintang lima,” ucap Grey sambil melahap sosis bakar miliknya.


Wisnu menatapnya ilfil, seraya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan istrinya yang menurutnya jauh dari kata wanita elegant, bahkan Grey lebih terlihat seperti wanita-wanita biasa yang bisa di bilang sebagai rakyat jelata.


“Yakin gak mau?” tanya Grey, memakan hot dog dengan gaya-gaya sok lezat.


“Gak!” jawab Wisnu semakin merasa jijik.


“Oh ya, Mas, mau taruhan sama aku gak?” tawar Grey tersenyum sumringah, sambil fokus mengunyah makannnya.


“Taruhan?” Wisnu mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


“He’em. Jadi … kalau kamu bisa habisin corndog ini, aku akan mengabulkan satu permintaan untuk kamu. Tapi, kalau kamu gak bisa habisin corndog ini, kamu harus ajak aku liburan,” ucap Grey menantang.


Wisnu mendengus lalu mencibirnya. "Halah, itu mah akal-akalan kamu aja. Kamu mau liburan 'kan? Hih! Pake alasan taruhan-taruhan segala! Gak, aku enggak mau!" cetusnya begitu kasar.


"Ya udah, kalau gak mau liburan bareng gimana kalau pergi ke pengajian bareng? Pergi ke masjid di hari jum'at, dengerin ceramah Pak Ustad," ucap Grey, berharap suaminya akan mau.


"Gak!" tolaknya langsung.


"Hem, padahal kalau papa Cakra sampai tahu, Mas Wisnu pergi ke masjid buat pengajian, papa pasti bakalan bangga sama kamu, Mas," ucap Grey kembali melahap hot dog miliknya.


Wisnu terdiam, memikirkan perkataan Grey. "Benar juga yang dikatakannya, bagaimana pun juga aku 'kan harus terlihat berubah jadi baik. Kalau papa bangga kepadaku, pasti nanti aku ingin mengambil keputusan sendiri pun tidak akan ditentang lagi oleh papa," gumamnya dalam hati.


"Ya udah, mana sini corndognya!" seru Wisnu.


Grey pun mengeluarkannya dari kantung. Dan memberikannya kepada Wisnu.


Wisnu memandangi makanan yang menurutnya ini adalah makanan tidak sehat dan pasti tidak enak. Ia pun mulai menggigitnya sedikit dengan ujung giginya. Mengunyahnya pelan lalu berusaha untuk menelan makanan yang masih terasa asing di lidahnya.


“Ayo dong, abisin!” ucap Grey saat melihat suaminya seperti terpaksa menelannya.


Wisnu kembali menggigit corndog itu hingga kini, lelehan keju mozarelanya terlihat keluar memanjang. Ada wangi khas yang menguar kuat dari dalam corndog itu. Wisnu langsung membuang gigitan corn dog yang ada di mulutnya.


“Hoek … apaan nih, gak enak!” cercanya langsung membuang corndog tersebut ke tempat sampah berukuran kecil yang ada di sudut ruangan.


“Haha, kalah juga ternyata. Hm, sudah kuduga Mas Wisnu tidak mungkin bisa makan makanan seperti ini,” celetuk Grey, membuat Wisnu yang mendengarnya, langsung melayangkan tatapan tidak suka.


“Kau sengaja ya ingin menyakiti tenggorokanku dengan makanan berminyak seperti ini!” seru Wisnu yang kini tengah meneguk air mineral.


“Loh kok marah, kan kamu yang setuju dengan tantangannya. Tantangan cuma makan corndog aja gak bisa. Huh payah sekali!” ejeknya lalu berjalan mendekat ke arah Wisnu hendak mengambil botol minum yang ada di nakas.


Tapi karena kejahilan Wisnu, Grey tersandung saat Wisnu menghadang langkah kaki Grey dengan sebelah kakinya. Membuat Grey langsung terjatuh dengan kedua tangannya yang menahan di sisi nakas.


“Mas, kamu ….”


“Apa hah?!” tantang Wisnu.


“Ih, jadi suami kok jail banget sih!" Grey langsung mendorong tubuh Wisnu membuat lelaki itu sedikit shock dengan pembalasan dari istrinya.


Wisnu langsung berdiri lalu mencekal erat kedua tangan Grey.


"Berani ya kamu?!" tanyanya, menatap Grey dengan jarak wajah yang cukup dekat, berikasar 10 cm.


Grey terpaku dibuatnya, saat melihat tatap mata Wisnu yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang tidak karuan.


Grey mencoba untuk melepaskan diri dari cekalan tangan Wisnu, tapi ia kesulitan hingga pada akhirnya, Grey secara sengaja mengarahkan tangannya ke dada Wisnu, lalu jari-jarinya yang nakal sengaja ia mainkan tepat di pu*ing su-su milik Wisnu. Membuat lelaki itu terbahak karena geli. Grey dengan sengaja terus menggelitik Wisnu, dan Wisnu yang kesal pun mencoba menjauhkan tangan Grey dari tubuhnya.


“Tidak Grey, hentikan.” Wisnu terus meminta agar Grey menghentikan gelitikannya. Akan tetapi Grey yang jahil ia tidak ingin mendengar, ia terus saja menggelitik pu*ting su-su miik Wisnu. Hingga lelaki itu secara tidak sengaja mendorong tubuh Grey ke kasur, dan Grey yang reflek, ia malah menarik kaos yang digunakan Wisnu, hingga kini keduanya pun terjatuh di tepi ranjang secara bersamaan, dengan posisi Wisnu yang menghimpit tubuh Grey di atasnya.

__ADS_1


Wisnu hendak bangkit, akan tetapi tubuhnya jadi kaku dan terasa sulit, ia pun mencekal kedua pergelangan tangan Grey, menggenggamnya dengan kuat hingga Grey tidak bisa apa-apa. Akan tetapi, karena Grey yang memebrontak, Wisnu hilang kendali. Kakinya yang menapak di lantai terasa begitu licin, dan hingga pada akhirnya setengah badannya lagi pun ikut terjatuh dan.


Cup, bibirnya secara tidak sengaja mendarat tepat di atas bibir Grey. Membuat keduanya saling membulatkan mata masing-masing karena terkejut.


Dug, deg, dug, deg. Jantung Wisnu berdetak kencang saat kelembutan dan kehangatan menjalar di bibirnya.


Selama beberapa detik mereka masih dalam posisi yang sama, masih dengan perasaan yang sama yaitu perasaan aneh yang membuat jantung mereka berdebar kencang.


Wisnu mengangkat kepalanya,memandang Grey dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


“Mas, bisakah kamu menjauhkan tubuhmu, ini sangat berat?” ucapnya, membuat keadaan yang mendebarkan itu berubah jadi canggung yang teramat sangat canggung.


"Sialan! Bisa-bisanya dia ngomong begitu di saat seperti ini!" batin Wisnu, merasa malu.


Kini keduanya bangun dan saling membelakangi. Grey langsung mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, lalu karena salah tingkah ia pun membenarkan kerudungnya yang miring tidak simetris.


Sementara Wisnu, lelaki itu duduk di tepi ranjang masih dengan perasaannya yang terasa tidak karuan. “Bisa-bisanya aku kepeleset dan jadi menciumnya,” gumamnya dalam hati sedikit kesal.


“Kau jadi perempuan agresif banget ya!” seru Wisnu melirik sekilas ke arah Grey.


Grey meringsutkan wajahnya tidak terima. “Apa?! Aku agresif, sudah jelas kejadian barusan karena gak sengaja, lagi pula kamu duluan yang menciumku!” ucapnya mencebikan bibir.


“Lagi pula, yang seharusnya bilang begitu itu aku. Kau yang agresif dan brutal,” lanjut Grey membuat Wisnu langsung menoleh tajam pada istrinya yang masih berdiri membelakanginya tersebut.


Wisnu langsung berdiri lalu membalikan tubuh Grey agar berhadapan kepadanya. “Apa kau bilang? Aku agresif dan brutal?”


“Iya! Kau agresif, brutal dan kasar!” seru Grey memperjelas, sambil menatapnya penuh menantang. Membuat kedua alis tajam milik Wisnu saling bertautan.


“Kau bilang seperti itu. Tapi jelas kau suka ‘kan?” tanya Wisnu, membuat Grey langsung terdiam dengan mulut yang tiba-tiba membisu malu, bahkan pipinya tiba-tiba memerah menahan rasa tidak nyaman atas pertanyaan suaminya tersebut.


“Gak!”


“Jangan bohong kau! Sudah jelas aku bisa dengar suara kamu waktu itu!”


"Loh, loh, kok jadi bahas ke kejadian waktu itu sih?" batin Grey bingung.


“Tapi aku gak suka. Permainanmu tidak menyenangkan!” ejeknya, membuat Wisnu merasa kalau kelakiannya tengah direndahkan oleh Grey.


“Benarkah?” Tanyanya menatap tajam. “Apa perlu aku buktikan sekarang juga, kalau sebenarnya kau menyukai sentuhanku hah?” bisik Wisnu. Semakin menarik tubuh Grey agar lebih mendekat padanya.


Grey merasa takut saat melihat tatapan penuh nafsu dari kedua mata Wisnu. Ia mencoba menghindarinya, namun tatapan suaminya itu seolah membuat tubuhnya terbujur kaku.


"Mas, a-aku hanya bercanda kok, hehe, a-aku tidak se-- emh ...."


Sebelum Grey menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu Wisnu membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya. Membuat Grey langsung diam membisu tak berkutik sedikit pun.


Bersambung....

__ADS_1


Haha aduh aduh...


__ADS_2