
Jakarta siang ini terasa sangat panas, sang mentari yang tengah bersinar di tengah langit, seolah memberi panas di atas rata-rata bagi seluruh penduduk kota.
Grey baru saja menutupkan laptop yang ada di atas meja kerjanya. Lalu bergegas bersiap untuk pergi menuju ruang general manager, karena tragedi tadi pagi, yang membuat dirinya harus bertemu kembali dengan orang paling menyebalkan baginya saat ini.
“Grey, tuh sekretarisnya pak GM udah manggil kamu, cepetan katanya,” ujar Shasha yang baru saja datang, setelah mengantarkan proposal lokarya kepada sekretarisnya Aryo.
“Iya, iya … nyebelin banget sih! Sampe nyuruh sekretarisnya segala!” gerutu Grey, mencebikkan bibirnya denga kesal.
Lalu ia pun pergi meninggalkan Shasha yang masih mematung di dekat meja kerjanya.
“Kenapa tuh anak, dipanggil GM malah meringsut begitu. Coba aja kalo aku yang dipanggil sama Pak Gm, duh … meleleh kayaknya nih hati Hayati,” ucap Shasha begitu centilnya.
Tok, tok, tok.
Yura mengetuk pintu ruang kerja general manager, yang kini sudah ditempati oleh Aryo.
Sesosok lelaki bertubuh tinggi, muncul di balik pintu yang baru saja terbuka. Dia adalah Anton, menjabat sebagai sekretaris pribadi Aryo. Tubuhnya besar, kulitnya sedikit gelap, wajahnya lebih mendominasi orang Timur, aura wajahnya tampak garang dan menakutkan, hampir seperti preman di Amerika. Karena memang wajahnya lebih mendominasi turunan Timur.
“Silakan masuk, Nona Grey. Tuan Aryo sudah menunggu, Anda,” ucap Anton melebarkan senyumannya yang ternyata, kalau dilihat manis juga.
Grey sedikit heran, ternyata orang yang ada di depannya tidak seperti yang terlihat. “Oh mungkin ini, yang dinamakan hitam manis bagai gula hitam, eh gula merah maksudnya,” gumam Grey dalam hati, lalu segera masuk.
Grey kembali memasang wajah masam yang terlihat seolah malas bertatap muka dengan Aryo. Bagaimana ia tidak malas, sedangkan lelaki yang ia temui saat ini, adalah lelaki yang sudah menodainya. Meski pun dulu, Grey sempat begitu tergila-gila padanya, tapi tidak dengan sekarang ini.
Aryo memutar kursi kerjanya, kedua kakinya menyilang bertumpu di salah satu lututnya. Ia tersenyum menyeringai saat mendapati Grey yang sudah berdiri di depannya.
“Ternyata, kamu datang juga,” ucap Aryo pelan, lalu berdiri seraya membenarkan jasnya, memancarkan aura ketampanannya.
Anggreya membuang wajah, mencibir pelan, lalu menghela kasar sambil mengembuskan nafasnya pelan. “Oke, tenanglah Grey, kamu cukup bersikap layaknya atasan dan pegawai,” batinnya. Lalu mendongak, menatap dingin kepada Aryo .
Grey melebarkan senyuman hambarnya, ia benar-benar terpaksa harus mengulas senyuman di depan Aryo, demi menjaga imagenya sebagai karyawan dan atasan.
“Maaf, ada apa ya, Pak. Memanggil saya kemari?” tanya Grey begitu formal.
Aryo langsung melebarkan kedua matanya, tak percaya. Lalu menunduk sebentar sambil berkacak pinggang. Dan tiba-tiba ia tertawa keras seolah sedang mengejek.
“Ha ha, Greya … Greya … apa harus seformal ini, kamu berbicara padaku?” tanyanya. Lalu perlahan melangkah, mendekati Grey.
__ADS_1
Grey sedikit memundurkan langkahnya tidak ingin didekati oleh Aryo. Ia terdiam tak menjawab, tak ingin menanggapi perkataan Aryo yang sekiranya bisa membuat ia naik darah.
“Bagaimana? Apa kau senang aku bisa berada di kantor yang sama denganmu?” tanya Aryo. Namun, masih tak ada jawaban dari Grey. Perempuan ini masih terdiam dengan wajahnya yang terlihat begitu dingin, tanpa ekspresi sedikit pun.
Aryo mengulum lidahnya, sedikit kesal karena Grey tidak meresponnya. Ia berjalan mengelilingi wanita berkerudung hitam yang ada di depannya, pelan dan sangat pelan ia berjalan. Lalu ia berhenti tepat di depan Grey. Aryo sedikit membungkukkan punggungnya, agar wajahnya bisa sejajar dengan Grey, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga kanan Grey, kemudian berbisik. “Apa kabar calon anakku di rahmimu? Apa dia tumbuh dengan cepat?” tanyanya begitu pelan dengan sedikit hembusan nafas yang membuat Grey merasa geli.
Grey yang tidak tahan, ia mengepalkan kedua tangannya yang menggantung di udara dengan begitu erat, hingga urat-uratnya timbul merentang.
“Cukup, Aryo!” serunya menajamkan kedua matanya menatap kedua netra milik Aryo. Benci, marah dan luka, semua terpancar di kedua manik matanya.
Grey sejenak menoleh ke arah Anton yang masih setia berdiri di dekat pintu, dan dengan polosnya Anton menganggukan kepalanya sambil menyengir lebar.
Aryo terperanjat sedikit terkejut dengan reaksi Grey. “Wah … ternyata calon ibu dari anakku masih tak berubah ya, gampang ngambek,” ucapnya gemas, sengaja membuat Grey semakin kesal.
Amarah di dada Grey terasa semakin menguap ke kepala. “Jaga ucapanmu, Aryo!” seru Grey pelan, tapi penuh penekanan. Ia sengaja memelankan suaranya karena merasa tidak enak dengan Anton yang berada di belakangnya.
“Hm, sepertinya pacarnya bosku ini malu, dan tidak ingin mengakui hubungannya dengan Tuan Aryo,” batin Anton, menduga-duga. “Padahal Tuan Aryo ‘kan ganteng,” lanjutnya dalam hati.
Karena dari cerita yang Anton dengar tadi pagi, Aryo mengatakan bahwa wanita yang ia tegur tadi pagi di lift adalah pacarnya. Dan Anton dengan mudahnya mempercayai kalau wanita yang ada di depannya saat ini, itu adalah pacar bosnya.
Aryo semakin merasa gemas melihat Grey yang tengah meluapkan amarah padanya. Dan dengan tidak tahu dirinya, Aryo malah menanggapinya dengan lelucon.
Kedua tangan Grey semakin mengepal erat, ada gemuruh yang tengah ia rasakan di dadanya. Gemuruh emosi yang semakin membuatnya geram kepada lelaki yang ada di depannya.
Grey menoleh ke belakang, menatap sinis ke arah Anton. Namun, dengan wajah polos tak berdosa,lagi-lagi sekretaris bertubuh besar itu malah melayangkan senyuman lebar kepada Grey. Membuat Grey hanya bisa berdecak kesal, karena sekretaris itu tidak peka.
“Kenapa, apa kau merasa terganggu olehnya?” tanya Aryo, sejenak melirik ke arah Anton.
Anton yang mendengar ucapan bosnya ia langsung sadar diri, dan seketika ia langsung menunjuk telunjukknya ke dadanya sendiri, dengan ekspresi wajah yang merasa tak berdosa.
Aryo memiringkan kepalanya ke kiri, dengan pelan penuh penekanan. Memberi kode kepada Anton, agar lelaki itu keluar dari ruangannya. Dan dengan cepat, Anton pun mengangguk kemudian pergi keluar dari ruangan tersebut, dan mebiarkan bosnya itu berduaan dengan wanita yang ia kira adalah kekasihnya Aryo.
Grey mendesah pelan, berkacak pinggang lalu mendongak melayangkan tatapan tajam ke arah Aryo, yang berdiri dengan jarak yang cukup dekat dengannya.
“Cukup Aryo! Aku ingin menyudahi semua ini!” ucapnya seolah merasa begitu lelah.
“Memangnya apa yang mesti kita sudahi, hah?” tanya Aryo, seolah tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Grey berdecak kesal, seraya menjejakan sebelah kakinya dengan keras ke lantai. “Cukup! Tidak perlu berlagak tidak tahu seperti itu, Aryo! Sebenarnya apa sih yang kamu mau dariku hah?! Apa tidak cukup kau meriksakku saat itu hah?! Dan sekarang kau ….” Grey tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia menggeleng pelan, membuang wajah, merasa jijik demi mengingat selintas bayangan antara dirinya dengan Aryo waktu itu. Bayangan yang lagi-lagi membuat dirinya merasa sangat kotor.
Ia menarik napasnya pelan. “Sudahlah, cukup sampai hari ini saja aku bekerja di sini. Silakan kau nikmati masa-masa jabatanmu sebagai general manager di perusahaan ini!” tegasnya, kemudian berbalik hendak pergi meninggalkan Aryo.
Namun, lagi-lagi, tangan Aryo lebih cepat menarik pergelangan tangan Grey, membuat Grey terjengkang ke belakang, karena kekuatan Aryo yang menariknya terlalu kencang. Dan dengan cepat pula, Aryo menahan tubuh Grey, menopang pinggangnya dengan sebelah tangannya, hingga saat ini posisi mereka seperti orang yang tengah berpelukan. Dengan tangan Grey yang tiba-tiba sudah bertumpu di kedua bahu Aryo.
Kedua netra mereka saling bertautan, memandang dengan perasaan dalam, satu sama lain. Di antara kedua bola mata itu, terlintas bayang-bayang seperti putaran film. Bayangan antara mereka berdua saat masih dilanda cinta.
Di dalam pikiran Aryo, ia terbayang saat mereka tengah berada di jembatan merah, berdua di bawah rintiknya hujan, Grey yang waktu itu belum berhijab, memandang dan memeluknya persis seperti posisi mereka saat ini.
Sedangkan di dalam pikiran Grey, ia teringat saat hari di mana om dan tantenya meminta mereka untuk putus. Grey mengatakannya sambil berlinang air mata, dan Aryo memeluknya dengan penuh hangat serta menatapnya begitu sendu, sama halnya dengan tatapan mereka saat ini.
“Tidak! Sadar Grey, dia hanya masa lalumu,” batinnya, langsung terperanjat, mengedipkan kedua matanya, lalu melangkah mundur menjauhkan tubuhnya dari Aryo dengan cepat.
Grey langsung berbalik, memeluk tubuhnya sendiri sambil mengusap kedua lengannya sendiri lalu bergegas keluar dari ruang kerja milik Aryo.
Aryo memandangi pintu yang baru saja tertutup itu, kedua matanya kini terlihat begitu sayu. Ada rasa penyesalan yang bergejolak di hatinya.
Ia memejamkan matanya begitu dalam. Mengingat sedalam apa perasaannya kepada Grey. “Andai saja aku mengungkapkan semua identitasku, aku pasti tak akan kehilanganmu, Grey. Tapi … kenapa Grey? Kenapa orang yang kau nikahi harus saudaraku sendiri?” batinnya, masih menatap kosong ke arah pintu. Lalu, ia mengembuskan pelan nafasnya.
Karena jujur saja, Aryo tahu kalau wanita yang dijodohkan dengan Wisnu itu adalah mantan pacarnya adalah satu empat hari sebelum pernikahan mereka terjadi. Dan saat tahu kalau Wisnu akan menikah dengan Grey ia pun buru-buru pulang ke Indonesia. Hingga pada akhirnya semua kejadian itu pun terjadi.
Selagi tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba kepala Anton muncul dari balik pintu, dengan ekspresi wajahnya yang absurd, ia menyengir menampilkan deretan giginya yang rapi dan putih, seraya bertanya, “Tuan, apa saya boleh masuk sekarang?” Membuat pikiran Aryo yang tengah kalut itu langsung membuyar begitu melihat wajah dan mendengar suara Anton yang besar.
Aryo menggeleng pelan, lalu tersenyum kecut. “Terserah,” ucapnya dengan malas, lalu saat Anton dengan semangat masuk ke dalam ruangan tersebut, Aryo dengan santainya malah keluar, melewati Anton begitu saja.
"Loh?" Anton sejenak melongo, dan dengan cepat Anton pun berbalik, mengejar langkah bosnya yang terasa begitu cepat.
“Tuan tunggu, Tuan. Anda mau ke mana, Tuan?” tanya Anton mempercepat langkahnya membuntuti Aryo.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Lanjut lagi gak nih?