Noda Pengantin

Noda Pengantin
Pernikahan Part 1


__ADS_3

Pagi harinya, suasana di ballroom hotel tampak begitu indah, nuansa mewah penuh dengan hiasan dan dekorasi berwarna gold, bertema kerajaan Eropa, membuat siapa saja yang memandang pasti akan takjub. Kursi pelaminan di atas singgasana, terlihat begitu besar, layaknya tempat duduk untuk Raja dan Ratu.


Tidak lupa, background pelaminan yang dipenuhi tumbuhan hidup dengan berbagai macam bunga indah nan mahal yang khusus disediakan oleh pihak wedding organizer demi memuaskan  pihak Aronsky yang sudah memesan.


Di sebuah kamar, Grey terlihat begitu gundah karena sebentar lagi ia akan resmi menikah dengan anak sulung dari keluarga Aronsky. Saat ini, Grey tengah dirias oleh seorang MUA artis yang cukup terkenal, ditemani dengan dua orang wanita yang duduk di sampingnya, mereka berdua tengah sibuk menghias kuku-kuku Grey, agar penampilan Grey semakin terlihat maksimal.


"Tuan Wisnu beruntung sekali menpdatkan calon pengantin yang cantik dan solehah seperti, Mbak Grey. Udah cantik, baik, solehah lagi," ucap perias kuku yang merasa bangga bisa merias calon menantu dari keluarga Aronsky. Karena keluarga Aronsky sangat terkenal di kalangan masyarakat, bahkan tidak jarang orang-orang merasa begitu bangga jika sudah berhubungan atau bekenalan baik dengan keluarga Aronsky.


Grey hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya, meski di dalam hatinya ia merasa begitu tersentil dengan kata solehah yang ucapankan perias kuku itu. "Kamu salah, Mbak. Penampilanku ini hanyalah sebuah kewajiban yang harus aku tunaikan. Bahkan aku sendiri merasa begitu jijik dengan diriku yang sudah kotor ini. Kenapa kamu harus menganggap aku wanita solehah, padahal kata solehah sangat tidak pantas untuk wanita ternoda sepertiku," batinnya meringis.


Sedangkan di kamar yang lain, Wisnu sudah bersiap, tampil dengan sebegitu rapinya. Ia mengenakan tuksedo hitam dengan dasi pita yang melingkar di lehernya. Ketampanan Wisnu benar-benar meningkat berkali-kali lipat, bahkan tampak sangat keren dari biasanya, hanya saja ada satu hal yang masih tidak enak dilihat darinya. Yaitu, ekspresi wajahnya yang seolah menandakan bahwa ia begitu tertekan dan tak bahagia dengan pernikahannya ini.

__ADS_1


“Kak Wisnu,” panggil Viona begitu ia memasuki ruang kamar saudaranya tersebut.


Wisnu yang tengah berdiri di depan jendela balkon, ia memutar badannya. Lalu tersenyum hambar begitu tahu kalau yang datang adalah adiknya.


Gadis yang mengenakan gaun selutut berwarna peach itu, medekat ke arah Wisnu, seraya mengembangkan senyuman manisnya.


“Wah ... Kak Wisnu makin perfect aja. Selamat ya Kak, sebentar lagi Kakak akan menempuh hidup baru,” ucapnya, sejenak memberikan pelukan kepada Wisnu.


“Kak Wisnu kok kayak enggak seneng?” tanya Viona saat ia melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah Wisnu yang terlihat begitu sendu.


Wisnu menghela pasrah. “Mau seneng gimana, pernikahan ini bukan keinginan Kakak. Lagi pula, siapa juga yang mau menikahi wanita seperti dia."

__ADS_1


Viona sejenak terdiam. “Iya juga sih, kelihatan banget ya kalau calon istri Kakak ini, mata duitan, sampe mau-maunya dia dijadikan alat penebus hutang omnya kepada Papa,” ujar Viona, yang memang kurang setuju kalau Wisnu harus menikah dengan Grey si gadis kampungan itu.


.


.


.


Bersambung...


Hai readers tersayang, mohon kritik dan sarannya ya, sekaligus ramaikan juga kolom komentarnya, biar author makin semangat up ceritanya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2