
Hari ke hari berlalu terasa begitu cepat. Grey baru saja menyelesaikan presentasinya di hadapan Aryo dan beberapa kliennyanya.
“Baiklah, jika sudah tidak ada yang mau ditanyakan, saya akhiri persentasi kali ini, terima kasih,” ucap Grey dengan sopan, lalu kembali duduk di kursinya yang tidak jauh dari Aryo.
Setelah itu, Aryo pun kembali melanjutkan meeting ini, dengan memberi pujian kepada Grey, lalu melanjutkannya dengan membahas beberapa profit yang akan saling menguntungkan mereka semua. Dan setelah acara meeting selesai, Aryo pun bergegas pamit terlebih dahulu, tidak lupa mengajak Grey agar ikut dengannya.
Sesampainya di ruangannya, Grey menyimpan terlebih dahulu beberapa berkas serta nametag miliknya di atas meja. Ia menarik nafasnya sambil tersenyum merasa begitu lega.
“Alhamdulillah, akhirnya semua urusan dan pekerjaanku sudah selesai juga, aku sudah tidak mempunyai kewajiban lagi di sini, sekarang aku sudah bisa bebas,” gumamnya penuh semangat.
“Apa kau sesenang itu bisa resign dari kantor ini?” tanya seseorang yang mengejutkan Grey dari belakang.
Grey langsung menoleh, melihat Aryo yang tengah bersender di ambang pintu, sambil menatap sendu ke arahnya.
“Pak Aryo!” pekiknya pelan.
Aryo melangkah pelan, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang, melihat beberapa kardus yang sudah tersusun rapi, dan berkas-berkas yang sudah ditumpuk untuk dikemas.
“Hm, sepertinya keputusanmu ini memang ada benarnya juga. Selain karena aku kasihan akan janin yang tengah kamu kandung, aku membiarkanmu resign dari kantor ini juga karena perintah papa,” ungkapnya pelan, lalu menatap Grey dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Papa?” tanya Grey merasa heran. Aryo mengangguk membenarkan.
“Hm, papa yang memintaku agar mengizinkan kamu untuk resign dari kantor ini. Papa terlalu khawatir padamu,” ucapnya.
Grey tersenyum malu mendengarnya, ia tidak menyangka kalau mertuanya itu akan sangat perhatian padanya.
“Benarkah?”
“Ya, tapi kemungkinan untuk seminggu pertama kamu pasti akan menikmati semuanya, tapi percayalah di minggu kedua dan ketiga kamu pasti akan merindukan kesibukanmu ini,” ucap Aryo dengan serius.
Grey mengangguk paham. “Tentu, aku sudah mempertimbangkan semuanya, dan aku pun sudah siap menanggung semua konsekuensinya,” balas Grey sedikit jutek. “Tidak apa-apa, jika aku harus kesepian di rumah juga,” lanjutnya.
“Tapi tenang saja, aku akan sering-sering menengokmu kok, kalau perlu aku bisa menjadi teman ngobrol kamu,” ucap Aryo dengan tidak tahu dirinya berbicara seperti itu.
Dan ucapan itu pun kembali terdengar sangat memuakkan bagi Grey, wanita itu langsung membuang muka, lalu mengambil tas miliknya hendak pergi dari sana. Namun, lagi-lagi tangan Aryo mencekalnya, dan menghentikan langkah kaki Grey.
“Kau mau kemana Grey?” tanya Aryo.
Grey menatap sinis ke arah tangan Aryo yang tengah mencekal pergelangan tangannya. “Lepaskan! Aku mau keruang Shasha,” ucapnya.
Aryo pun melepaskannya dan Grey pun pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu.
Sementara itu, di AF Group, Taka baru saja menyelesaikan meetingnya bersama beberapa kliennya, Devan datang membawakan proposal untuk pengajuan acara lokarya yang akan diadakan minggu depan.
“Jadinya berapa orang yang akan ikut?” tanya Wisnu.
“Total semuanya ada 19 orang, Tuan.”
“Hm, baiklah. Tapi, aku tidak bisa menjanjikan akan datang di acara itu,” ucap Wisnu.
“Loh, kenapa, Tuan? Bukankah Anda bilang, lokarya kali ini sangat penting?” Devan keheranan.
__ADS_1
Wisnu kembali berpikir, karena sebenarnya ia sudah membuat janji dengan Aurel kalau ia akan menemani gadis itu untuk pergi ke Bogor minggu depan.
“Emh, saya akan pikirkan kembali. Tapi, jika saya tidak bisa hadir, kamu dan Angel wajib hadir di sana,” ucapnya dengan tegas, Devan hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Baik, Tuan.”
Tidak lama dari itu, ponsel Wisnu tiba-tiba berdering, menandakan ada sebuah telepon masuk ke ponselnya. Ternyata itu adalah dari papanya.
“Hallo, Pa.”
“Wisnu, kamu lagi di mana sekarang?” suara Cakra di balik ponsel.
“Di kantor, memangnya kenapa, Pa?” tanya Wisnu sedikit khawatir.
“Ini ... Papa lupa mengabarimu, kalau malam ini kita diundang oleh tuan Albert di acara pesta keluarganya. Jadi, tolong kosongkan jadwalmu malam ini. Dan pulanglah lebih cepat dari biasanya.”
“T-tapi, Pa aku kan ada—”
“Tidak ada tapi-tapi, kita harus hadir di acara itu, dia itu salah satu investor terpenting di perusahaan kita. Papa tunggu kamu di rumah tante Dewi, dan jangan lupa ajak Grey untuk ikut bersama kita.”
“Grey harus ikut?” tanya Wisnu seolah menolak.
“Iya, ajak istrimu itu, karena kita harus pergi lengkap sekeluarga, Aryo juga akan ikut.”
Wisnu hanya bisa berpasrah diri. “Hm, baiklah,” ucapnya lalu mematikan ponselnya setelah Cakra mengakhiri obrolannya.
“Argh! Malas sekali aku harus ajak-ajak dia!” gumamnya mengusap wajahnya sambil mendengus kasar, karena bagaimana pun ia tidak ingin orang-orang tahu kalau Grey adalah istrinya, apalagi di acara pesta nanti pasti akan ada segelintir orang yang menanyakan soal istri Winsu, karena bagaimana pun ada beberapa kolega kerjanya yang tahu kalau Wisnu sudah mempunyai istri.
***
Malam pun tiba, Wisnu baru saja pulang setelah adzan magrib berkumandang. Pria itu masuk ke dalam kamarnya, melihat Grey yang tengah melakukan ibadah solat magrib di dekat sofa sana.
Wisnu pun menaruh tas kerja dan melepaskan jas yang dipakainya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat magrib.
“رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار ’’ ucap Grey begitu mengakhiri doanya.
Lalu menoleh ke arah Wisnu yang tengah duduk ada di tahyat akhir.
“Assalamu’alaikum warahmatullah.” Wisnu menolehkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri dan setelahnya mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
Grey tersenyum getir memandangi suaminya tersebut. Ada getar di hati yang tiba-tiba menyesakkan dada. Tatkala sekelebat bayangan tergambar di benaknya.
Seandainya saja dirinya bisa solat berjamaah dengan suaminya itu, tentu itu akan menjadi salah satu kebahagiaan bagi Grey dan menjadi pewujud salah satu mimpinya ketika menjalin rumah tangga. Namun, bayangan itu seketika hilang saat Grey kembali menyadari bahwa hubungan antara dirinya dengan suaminya saat ini tidaklah baik-baik saja.
Wisnu yang terasa semakin jauh dari jangkauannya pun sikapnya yang semakin hari semakin dingin padanya. Apalagi saat dia tahu kalau Grey tengah hamil, sikapnya benar-benar berubah 180 derajat.
"Andai saja, hubungan aku dengan Mas Wisnu membaik, pasti kita solat pun tidak akan masing-masing seperti sekarang ini," batin Grey, begitu miris.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Wisnu sedikit sinis, saat ia baru saja selesai berdoa dan mendapati Grey yang masih memerhatikannya dari ujung sana.
Lamunan Grey langsung membuyar. “Hah? E-enggak, maaf kalau buat kamu enggak nyaman,” ucap Grey langsung berdiri dan melipat sejadahnya.
__ADS_1
“Siap-siap, malam ini kita akan menghadiri pesta keluarga,” ucap Wisnu berdiri dari duduknya lalu menyimpan sejadah miliknya di tepi sofa dekat pintu.
“Hah, pesta? Pesta keluarga siapa?” tanya Grey sedikit bengong.
“Temannya papa. Papa minta agar kita semua bisa hadir ke sana, jadi bersiaplah sekarang juga, kita berangkat jam 8 malam,” ucap Wisnu lalu membuka pintu hendak pergi keluar dari kamarnya.
Namun, langakah Wisnu terhenti saat istrinya itu kembali memanggilnya. “Mas Wisnu mau ke mana?” tanya Grey agak ragu.
Wisnu membuang nafas. “Aku akan ke kamar mama, untuk memberitahu soal ini,” ucapnya tanpa menoleh ke belakang.
“Oh begitu.”
Dan, brak! Pintu pun tertutup keras, membuat Grey sedikit terkejut mendengarnya, lalu menggelengkan kepalanya mencoba memaklumi sifat dingin suaminya tersebut.
___
“Aryo ikut juga?” tanya Shindy.
“Ya, kata papa sih Bu Dewi sama Aryo juga akan ikut.”
“Hm, begitu ya.” Wisnu mengangguk mengiyakan.
Shindy masih memerhatikan mimik wajah dari anak sulungnya itu, sepertinya anaknya itu tidak senang dengan rencana kali ini.
“Kamu kenapa? Kok wajahnya murung gitu, lagi banyak masalah kerjaan ya?” tanya Shindy mencoba menebak.
Wisnu menatap wajah mamanya tersebut, lalu menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. “Enggak kok, Ma. Kerjaan lancar, hanya saja rasanya sangat malas sekali jika malam ini aku harus hadir di acara itu,” keluh Wisnu.
“Loh ... kok begitu, harusnya kamu senang dong, kita diundang secara khusus sama keluaraga mereka. Itu tandanya mereka sangat menghormati dan menghargai kita. Udah jangan loyo males-malesan begini, kamu siap-siap gih!” titah Shindy memberi semangat kepada anak sulungnya tersebut.
Wisnu kembali menarik nafasnya panjang, lalu mengembuskannya pasrah. “Hm, baiklah.” Ia pun melangkah menuju pintu kamar yang sejak tadi terbuka lebar.
“Oh ya, Nu ....”
“Apa?” tanya Wisnu berbalik.
“Kamu sama Grey nanti di sana tolong lebih akur ya, jangan menjaga jarak seperti orang enggak kenal. Bagaimana pun kamu dan dia kan suami istri, harus terlihat harmonis,” ucap Shindy tersenyum singkat.
“Hm, baiklah,” jawab Wisnu dengan malas, lalu keluar dari kamar mamanya.
“Ternyata begini ya rasanya hidup di panggung sandiwara,” gumam Wisnu menaiki anak tangga.
.
.
.
Bersambung....
Lanjut gak nih?
__ADS_1