Noda Pengantin

Noda Pengantin
Tidak Memedulikan


__ADS_3

~Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, tetapi aku berharap, kamu bisa menjaga perasaanku~ Anggreya Mikayla.


```


Grey membuka kedua matanya. Perlahan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas, menciptakan senyuman manis di wajahnya. Pagi-pagi seperti ini, netranya sudah disuguhi pemandangan yang sangat indah menyejukan mata.


“Hm, tampan sekali lelaki ini,” gumamnya pelan, menatap wajah seorang lelaki yang ada di hadapannya. Ia meniliknya begitu dalam, memandangi kulit bersih yang begitu mulus, hidung bangir, serta bulu mata yang lentik milik Wisnu.


“Winsu?” pikirnya.


Seketika ia membulatkan kedua matanya,lalu bangun terperanjat dan sadar kalau yang dilihatnya bukanlah mimpi, akan tetapi nyata. Sepertinya ia lupa, kalau kemarin ia baru saja menggelar acara pernikahannya dengan Wisnu.


"Ya ampun, aku hampir saja lupa, aku 'kan udah nikah dengan dia," batinnya.


Diliriknya jam kecil yang ada di atas nakas, sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ia pun segera bangkit dan langsung berlari menuju kamar mandi untuk wudhu dan menunaikan kewajibannya terlebih dahulu.


Sedangkan Wisnu, lelaki itu masih terbaring di tempat tidur. Ia membalikkan badannya menghadap lurus menatap langit-langit kamar.


“Huh, sudah kuduga, wanita seperti dia kalau tidak memandang harta, ya memandang fisik,” gumamnya, tersenyum kecut.


Sebenarnya, sedari tadi Wisnu sudah bangun, ia juga cukup terkejut saat mendapati wajah Grey yang ada dihadapannya. Akan tetapi, saat ia tahu Grey menggeliat dan membuka matanya, dengan buru-buru ia memejamkan kembali kedua matanya, berpura-pura masih tidur. Bahkan, Wisnu juga mendengar gumaman pelan dari mulut Grey, yang memuji dirinya yang tampan.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Seteleh selesai bersiap-siap, mereka berdua pun keluar dari kamarnya. Kini mereka sudah sampai di restoran hotel, mengambil beberapa makanan yang tersedia di buffet untuk sarapannya.


Setelah mendaratkan tubuh di atas kursi, di salah satu meja bundar yang tersedia di sana, Wisnu dan Grey segera menyantap makanannya.


Sejak tadi, tak ada sapaan atau obrolan di antara keduanya, bahkan saat makan pun, mereka hanya diliputi dengan diam dan keheningan.


Selagi makan, sesekali Wisnu memperhatikan Grey. Grey juga sesekali memergoki tatapan dari Wisnu yang mengarah padanya.


“Kenapa dia memperhatikanku seperti itu? Apa ada yang salah di wajahku ya?” batin Grey, ia pun buru-buru mengulurkan tangannya hendak mengambil tisu yang ada di tengah-tengah meja. Namun, secara tidak sengaja, Wisnu juga hendak mengambil tisu tersebut, hingga tangan mereka pun secara tidak sengaja saling bersentuhan, bertumpu di atas kotak tisu berwarna coklat itu.


Dug, deg, dug, deg. Jantun Grey berdetak kencang, saat tatapannya bertautan langsung dengan kedua manik indah milik Wisnu.


Hening .... Keduanya terdiam dalam keterkejutan mereka. Hingga pada akhirnya Grey menarik tangannya terlebih dahulu, dan mempersilakan Wisnu untuk mengambil tisu tersebut terlebih dahulu. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang, sentuhan yang baru dirasakannya itu seolah memberi getaran hebat ke dalam perasaannya.

__ADS_1


“Astagfirullah! Kenapa jadi gugup gini,” gumam Grey dalam hati.


"Dasar! Mencari kesempatan saja!" gerutu Wisnu di dalam hati, tidak suka saat tangan mereka bersentuhan.


Setelah Wisnu selesai mengusap bibirnya menggunakan tisu yang diambilnya tadi, kini giliran Grey yang mengambil tisu tersebut, lalu dengan cepat ia juga membersihkan bibirnya dari noda makanan. Ditakutkan, kalau tatapan Wisnu padanya adalah karena adanya noda makanan yang menempel di bibirnya.


“Kau sudah selesai?” tanya Wisnu begitu dingin.


“Hah?” Grey membeliakkan matanya, lalu menatap makanannya yang belum setengahnya ia habiskan.


Ia merasa bingung, apakah ia harus menghabiskan makanannya terlebih dahulu dan membiarkan Wisnu untuk menunggunya, atau ia harus menyudahi semuanya, meski ia masih menginginkannya.


Wisnu berdecak, saat tak mendapat jawaban dari Grey. Ia pun bangkit, kemudian berkata, “Waktuku sangat berharga, jika kau hanya akan diam memandangi makananmu seperti itu, aku akan pergi lebih dulu,” ujarnya, melayangkan tatapan dingin ke arah Grey.


Grey mendongak, lalu berkata, “A-aku sudah selesai kok,” jawabnya berbohong, meski sebenarnya ia masih begitu lapar, karena sedari malam perutnya sudah keroncongan. Akan tetapi apa daya, saat melihat tatapan dari Wisnu yang tidak mengenakan hati, sudah membuatnya merasa tak nyaman.


Mereka berdua pun pergi menuju lobby, di mana Papa Cakra, Mama Shindy dan Bu Dewi sudah menunggu kedatangan mereka.


Dari kejauhan tampak jelas, Cakra yang sudah melayangkan senyuman lebarnya dengan tatapan berbinar penuh kebahagiaan melihat Wisnu dan Grey yang jalan beriringan.


“Hehe, Om bisa aja,” jawab Grey malu-malu.


"Hih, cari muka sekali!" cibir Wisnu dalam hati, begitu malas mendengarnya.


Grey celingukkan, mencari keberadaan om dan tantenya  yang sejak kemarin sore tak terlihat.


“Kamu mencari siapa, Grey ?” tanya Dewi dengan begitu ramah.


“Om Rama dan tante Sarah. Mereka kemana ya,Tan, kok gak kelihatan dari kemarin sore?”


Dewi terdiam karena tak tahu. Lalu Cakra pun menjawab, “Oh, om sama tantemu dari kemarin sore sudah pulang duluan, katanya ada urusan mendadak.”


"Hm, begitu ya, aku kira masih ada di sini." Grey mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


“Kenapa mereka gak bilang sama aku ya? Eh, lupa ... hp punya aku 'kan, rusak,” batinnya menyadari kebodohannya.

__ADS_1


“Oh ya, Bu, Aryo kemana? Dari kemarin sore kok gak kelihatan. Semalam juga gak ikut kumpul,” tanya Wisnu kepada Dewi, yang tiba-tiba menanyakan keberadaan adik tirinya.


Dewi menautkan kedua alisnya. “Benarkah? Ibu kira semalam dia ikut pesta sama kamu,” jawab Dewi merasa heran. Karena kemarin sore Aryo bilang, kalau sepulangnya dari rumah temannya, ia akan ikut menghadiri pesta bujang yang diadakan oleh Wisnu.


Shindy menarik nafas kasar, lalu mengembuskannya dengan malas. “Hm, udah gak aneh! Mungkin kebiasaanya kambuh lagi, pergi-pergian malam sampai tak pulang,” cetus Shindy, yang tiba-tiba bersuara. “Nanti, tahu-tahu sampai rumah bikin masalah lagi,” lanjutnya.


Cakra menatapnya tajam. “Shindy!” seru Cakra begitu sinis, seolah memberi kode agar istrinya itu bisa menjaga ucapannya.


Shindy hanya berdecak kesal sambil memutar kedua bola matanya merasa sebal. Lalu, tak lama kemudian Viona datang menghampiri mereka.


“Pa, mobilnya udah siap semua,” ujar Viona.


“Oh ya sudah, ayo kita pulang.”


“Oh ya Nu, kamu mau langsung pulang ke rumah atau mau jalan-jalan dulu sama Grey?” tanya Cakra.


Dengan cepat Wisnu langsung menjawab, “Pulang ke rumah aja, Pa." Sedetik kemudian, ia langsung pergi keluar lobby meninggalkan mereka semua, bahkan tanpa mengajak kepada Grey--selaku istrinya.


```


Wisnu menghentikan pedal gasnya. Lalu melepaskan seat belt yang melingkar di badannya. Mereka berdua kini sudah sampai di parkiran rumah utama.


“Turun sendiri,” ujar Wisnu, saat Grey hendak melepas seat belt miliknya. Lalu ia pun keluar dari mobil, dan meninggalkan Grey sendirian di mobil.


Grey mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit kesal melihat sikap Wisnu yang benar-benar tak memedulikannya. Matanya masih tertuju ke arah Wisnu, yang saat itu tengah berjalan menaiki teras rumah yang begitu luas, menyusul Viona, Papa Cakra, Mama Shindy dan Bu Dewi yang terlihat sudah masuk ke dalam rumah.


Setelah melepaskan seat belt miliknya, Grey pun merapikan terlebih dahulu bajunya. Dan saat ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba seseorang dari luar sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Grey.


"Hallo, Sayang ...."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2