Noda Pengantin

Noda Pengantin
Kekacauan


__ADS_3

***Sebelum baca bab ini\, maaf tolong baca dari bab 54 dulu ya\, soalnya kemarin ada kesalahan update. Udah author perbaiki\, biar runtun ceritanya. ***


Happy reading and enjoy gaes.


***


Suasana kantor di jam istirahat ini tampak cukup ramai, bahkan lebih ramai dari biasanya, karena berita mengenai Aryo dan Grey semakin tersebar ke mana-mana, dugaan dari setiap orang dengan pemikiran yang berbeda, menyebabkan gosip tidak benar pun merambah ke seluruh penghuni Aline Group, termasuk Shasha sahabatnya.


“Grey, lo emang gak risih apa dengan semua berita tentang lo sama mantan lo ini.” Shasha menatapnya serius.


Grey menghela nafas panjang, lalu mengembuskannya pasrah. Ia juga sebenarnya sangat sedih dengan kabar yang beredar tentangnya, tapi jika ia angkat suara orang-orang juga pasti tidak akan percaya. Aryo pun belum tentu mau diajak untuk speak up masalah kebenaran di antara mereka, kalau mereka hanya terikat hubungan saudara ipar saja. Kalau meminta bantuan Wisnu pun, pasti akan langsung ditolak mentah-mentah.


“Yah, mau gimana lagi, Sha, suami aku juga gak mau status pernikahannya di publish, lagi pula aku juga enggan, nanti di perusahaan suamiku, pasti rame kalo tahu aku istrinya,” ucap Grey.


“Emang suami lo itu siapa sih? Gue penasaran deh sama orangnya. Kayaknya angkuh banget ya,” ucap Shasha.


"Ya siapa lagi kalau bukan saudaranya Pak Aryo," jawab Grey sambil terkekeh. "Suamiku ini orangnya baik kok, enggak angkuh, cuma dia emang gak mau aja statusnya di publish ke banyak orang."


"Hm, begitu ya. Aneh banget!" Shasha mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Mereka masih sibuk menikmati segelas dalgona coffe di meja kafe. Masih tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba Anton datang membawa satu paper bag di tangannya.


“Permisi, Nona Grey,” ucap Anton begitu sopan.


“Ini, makan siang untuk Anda dari pak Aryo.” Anton menyimpannya di atas meja.


“Buat dia aja nih? Buat aku mana?” tanya Shasha seraya melirik penuh goda ke arah Anton.


Anton hanya tersenyum meringis merasa geli dengan tatapan Shasha padanya.


“Itu, sudah satu paket sama, Nona Shasha. Kata Pak Aryo, Nona Shasha harus nemenin Nona Grey makan, dan pastikan juga Nona Grey makannya sampai habis,” ucap Anton.


“Benarkah?” tanya Shasha, Anton mengangguk mengiyakan.


"Wokeh, tenang aja, Grey pasti makan makanan ini sampai habis," ucap Shasha semangat.


Mata Shasha berbinar kegirangan. Ia langsung melirik paper bag yang bertuliskan nama restoran yang cukup terkenal. Dan makanan di dalamnya sudah pasti makanan mahal yang lezat dan sehat.

__ADS_1


“Hm, makasih ya, Tuan Anton. Lain kali, jangan terlalu nurut sama atasanmu itu, jangan mau disuruh anterin makanan kayak begini,” ucap Grey memeberi tahu.


“Oh ya, dan sampaikan ucapan saya ini sama dia. Jangan beli makanan dan anter lewat kamu lagi, saya risih!” jelasnya secara frontal.


Anton si lelaki hitam manis itu, mengangguk seraya tersenyum seperti biasanya. “Siap, Nona. Akan saya sampaikan pesannya pada pak Aryo.”


Anton pun berlalu meninggalkan Grey dan Shasha, dan segera pergi untuk menemui Aryo di ruangannya.


Shasha sejak tadi memperhatikan kepergian Anton, wanita itu sepertinya senang sekali jika bisa menggoda Anton.


“Hm ... ngeliriknya sampe segitunya,” ucap Grey sambil tersenyum mesem penuh maksud.


Shasha yang sadar akan teguran dari sahabatnya itu ia langsung menoleh. “Haha, apaan sih! Orang gue cuma seneng aja bikin dia kegeeran,” jawab Shahsa langsung membuka paper bag yang ada di depannya lalu mengeluarkan isi di dalamnya.


“Masa? Juujur aja kali, kamu suka ‘kan sama dia?” goda Grey membuat Shasha cengengesan sendiri dan salah tingkah hingga gak sadar langsung melahap makanan yang ada di depannya.


Di antara tawa keduanya, ada beberapa mata yang tertuju pada mereka. Mata-mata dari orang yang iri dan dengki pada Grey.


“Lihat, kalau udah sebaik itu, pasti ada yang gak beres diantara mereka itu,” bisik seorang wanita yang tengah duduk di pojok kursi kafe.


“Iya benar. Pasti ada apa-apanya.”


“Oh, gue tahu maksud lo. Kabar dia hamil itu ‘kan?”


“Hm, waktu itu juga pernah ada yang ngikutin si Grey sama si Shasha, dan mereka pergi ke dokter kandungan.”


“Waaah, udah fix sih itu mah pasti hamil duluan.”


"Enggak nyangka ya, luar hijaban eh yang dibawah disuguhkan."


Begitu lah obrolan empat orang wanita yang memang terkenal tukang gosip di Aline Group ini. Dan tentunya obrolan mereka sekarang ini, pasti akan mereka sebar ke pegawai-pegawai lainnya.


***


Hari ke hari berlalu semakin tidak terasa, hari ini adalah hari di mana Aurel akan bertunangan. Sedari seminggu yang lalu, perasaan Wisnu begitu tidak tenang. Hatinya terasa bimbang saat tahu, wanita yang didambakannya akan menjadi milik orang lain.


“Argh! Sialan, kenapa sih harus dia yang jadi tunangannya Aurel. Dan kenapa juga, aku harus punya istri yang gak aku harapakan!” Wisnu mengacak rambutnya dengan kesal.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa fokus bekerja. Yang ada di pikirannya hanya tentang kehamilan Grey dan pertunangan Aurel. Dan ia menyesali keduanya kenapa harus terjadi.


“Argh, bodoh, bodoh, bodoh!” Ia begitu frustrasi hingga menjambak rambutnya beberapa kali.


Kini rambutnya sudah acak-acakan, kedua tangannya bertumpu di atas meja kerjanya. Ia bingung harus dengan cara apa ia menggagalkan pertuangan Aurel dengan Gabriel.


“Tuan,” panggil Devan tiba-tiba.


“Apa?!” serunya begitu kasar.


Devan langsung gemetar saat melihat tatapan Wisnu yang begitu tajam tengah mengarah kepadanya. “Em, ma-maaf, Tuan. Pak Charlotte sedang menunnggu Anda di ruang khusus. Apa bisa dilanjut untuk meeting privatnya?” tanya Devan.


Wisnu berdecak, ia baru ingat kalau hari ini ia harus kembali melakukan meeting bersama kliennya yang dari Singapore. Meski tampak malas, akhirnya Wisnu pun bangkit.


“Ambilkan sisir untukku,” titahnya pada Devan.


Devan pun dengan sigap langsung mengeluarkan sisir dari dalam sakunya. Sisir lipat  yang berbentuk seperti pisau. Lalu memberikannya kepada Wisnu.


Devan sudah paham akan situasi seperti ini. Ketika Wisnu sedang depresi atau memiliki masalah yang berat, pasti Tuannya itu akan mengacak-acak rambutnya sekaligus marah-marah kepada siapa pun yang ada di dekatnya, kecuali kliennya.


“Mana filenya?” tanya Wisnu setelah dirinya selesai merapikan rambutnya.


“Ini, Tuan.” Devan memberikan tab yang ada di tangannya kepada Wisnu.


Lalu Wisnu pun bergegas pergi untuk menemui rapat rahasia itu di ruang khusus. Akan tetapi, sesampainya di ruang khusus.


Ia begitu terkejut saat membuka pintu ruangan dan mendapati seseorang yang dikenalnya tengah duduk bersama Tuan Charlotte di atas sofa, di dalam ruangan sana.


“Kau ...."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa ramaikan dulu kolom komentarnya ya, terima kasih buat yang rajin like komen dan vote author sayang kalian semuanya. Love love sekebon jagung pokoknya buat kalian.


__ADS_2