
Wisnu keluar dari ruang kerja, kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kedua netranya berkeliling mengitari area kamar.
“Ke mana dia?” gumamnya saat memasuki kamar dan tak menemukan siapa-siapa di sana selain dirinya sendiri.
Wisnu pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah kurang lebih lima belas menit membersihkan diri di kamar mandi. Wisnu pun keluar, lalu segera berganti pakaian.
Sementara itu, di dapur Grey baru saja selesai membuat spageti bolognese untuk Wisnu. Ia menyajikannya dengan begitu rapi di atas piring putih berbentuk bulat.
Di atasnya ia taburi dengan sedikit rumput laut dan udang. Setelah itu ia membawanya ke meja makan.
Dengan senyuman indah yang terlukis di wajahnya, ia memandangi spageti itu dengan rasa penuh bangga. Berharap Wisnu akan menyukai masakannya tersebut.
“Bi, kira-kira menurut Bibi, Mas Wisnu bakalan suka gak ya sama masakan aku?” tanya Grey kepada Bi Iyam yang tegah menyimpan semangkuk ayam kecap di atas meja.
“Pasti suka atuh Non, apalagi Non Yura yang bikininnya. Pasti Tuan Wisnu juga bakan senengg makannya,” jawab Bi Iyam membuat Grey semakin merasa percaya diri.
Tidak lama kemudian, Wisnu turun dari tangga. Kaos oblong berwarna hitam serta celana trening panjang berplat putih melekat di tubuhnya. Otot otot tangannya terlihat menyitak di balik kaus yang ia kenakan.
Dia berjalan mendekati meja makan. Lalu duduk begitu saja di atas kursi tanpa menyapa kepada Grey.
“Mas, ini ….” Grey menyodorkan piring berisi spageti bologense kepada Wisnu.
Wisnu mengernyit, lalu mendongak menatap Grey. “Apa ini?” tanyanya.
“Spageti bolognese … kata bibi, kamu suka spageti itu,” jawab Grey, mengembangkan senyumannya dan bertutur kata dengan suara yang begitu lembut.
Wisnu hanya ber-oh panjang, lalu kembali menatap piring yang berisi spageti itu. Ia pun meraih piring tersebut, lalu memakan spagheti itu begitu lahap.
Setelah beberapa kali menyuap, ia melirik ke arah Grey yang duduk di depannya. Ia mengernyit heran melihat istirnya yang tengah tersenyum lebar kepadanya.
“Ngapain liatin aku kayak gitu?” tanya Wisnu begitu dingin, sambil menghentikan sejenak suapan makannya.
__ADS_1
Grey mengerjap malu. “Hah, enggak … seneng aja lihat kamu lahap makan spagetinya,” jawabnya, membuat Wisnu semakin mengernyit heran.
“Senang?” tanyanya heran, yang dibalas anggukan penuh semangat oleh Grey, masih dengan senyumannya yang tidak menyurut dari wajahnya.
“Tapi aku enggak senang dilihatin begitu sama kamu. Sudah, lebih baik kau makan saja sana!” ucapnya dengan ketus.
Mendengar hal tersebut, Yura langsung mencebikan bibirnya sedikit kecewa dengan sikap Wisnu yang cukup kasar menurutnya. Ia mencibir dan mengumpati pelan suaminya dengan tidak jelas.
“Duh, Tuan Wisnu kok begitu. Non Grey ‘kan senang liatin Tuan makan, karena Tuan makan masakannya Non Grey dengan lahap,” ucap Bi Iyam yang datang membawakan jus jeruk kesukaan Wisnu.
“Apa?! Masakan Grey?!” Wisnu mengalihkan pandangannya ke arah Bi Iyam dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
“Iya … tadi Non Grey pagi-pagi bikinin spageti special buat, Tuan,” imbuh Bi Iyam memberi tahu kebenarannya.
“Gimana? Enak ‘kan?” tanya Bi Iyam, menatapnya penuh senyuman, membuat Wisnu hanya bisa bengong cukup tercengang mendengarnya. Lalu ia melirik tidak enak hati ke arah Grey sambil mendengus kasar.
"Rasanya, biasa aja,” jawabnya, membuat Bi Iyam yang mendengarnya seakan shock.
“Waduh … Tuan Wisnu ini gimana sih, kok masakan istrinya di bilang biasa aja. Padahal ini kan masakannya Non Grey dibuatnya juga pasti dengan penuh cinta. Dan tadi Bibi lihat Tuan Wisnu makannya sampe lahap dan semangat begitu toh,” ucap Bi Iyam membuat Wisnu menunduk tidak nyaman.
“Udah, nggak apa-apa, Bi. Mungkin emang masakan saya kurang pas, jadinya terasa biasa aja,” ujar Grey yang baru bersuara sejak tadi.
Wisnu mengulum lidah memperhatikan Grey sedikit sinis. Sebenarnya, ia juga tidak bisa membohongi lidahnya, masakan Grey benar-benar sangatlah lezat. Tekstur dari mie serta bumbunya juga sangat pas di lidahnya. Hanya saja, terlalu berat rasanya, jika ia harus mengakui dan memuji kalau masakan istrinya itu benar-benar enak.
Jangankan untuk memuji, bilang enak saja Wisnu sangat tidak mau, terlalu gengsi.
“Kenapa sih harus dia yang masak spageti ini, mana enak banget lagi spagetinya,” gumam Wisnu dalam hati.
Ia pun mengambil segelas air putih yang ada di samping piringnya, lalu meneguknya pelan dan mengembalikan kembali gelas tersebut ke tempatnya.
Ia mendorong piring yang masih berisi spageti itu dengan telunjuknya, hingga menggeser sedikit lebih menjorok ke arah Grey.
__ADS_1
“Loh, kenapa, Mas?” tanya Grey bingung, sementara itu Bi Iyam kini sudah pergi ke belakang untuk mencuci.
“Kau masih bertanya kenapa!” seru Wisnu, semakin memasang wajah sangarnya.
Grey terdiam kebingungan.
“Kau makan saja sendiri masakanmu yang hambar ini! Aku lebih baik melanjutkan pekerjaanku!” cetusnya langsung berdiri dari duduknya.
“T-tapi, Mas. Kamu kan baru memakannya setengahnya, kalau kamu nanti lap—”
“Stop!” Wisnu memtong ucapan Grey. Ia memandangnya dengan tajam dan serius.
“Jangan berusaha merebut perhatianku! Hatiku tidak akan luluh hanya karena masakanmu! Dan ingat! Jangan pernah sok perhatian padaku! Karena aku tidak suka diberikan perhatian olehmu!” ucapnya begitu pedas, membuat Grey yang mendengarnya hanya bisa terdiam lemas, bergeming di tempatnya sambil berusaha menahan genangan air yang sudah memupuk di matanya.
Grey terduduk lemas melihat kepergian suaminya. Hatinya benar-benar terasa begitu sakit, bagai ada anak panah yang menikamnya. Ia terdiam, memikirkan kembali perkataan Wisnu. Ia benar-benar tidak menyangka akan suaminya yang tega berkata seperti itu padanya.
“Apa harus dia berbicara seperti itu padaku?" ucapnya lirih.
“Apa benar, masakanku ini tidak enak?” Kini Grey mulai terisak, saat setetes air mata berhasil lolos membasahi pipinya, namun buru-buru ia menyekanya.
Yura kembali menyuapkan sepotong sandwich miliknya, tiba-tiba air matanya semakin meleleh begitu saja dari keuda sudut matanya. Ia tidak sanggup menahan bendungan air matanya, ia tidak sanggup menahan sesaknya hati atas perkataan Wisnu. Sungguh, saat ini hatinya benar-benar hancur bagai gelas kaca yang jatuh terpecahkan di lantai, pecah dan rusak.
Merasa tidak saanggup untuk melanjutkan sarapannya, akhirnya Grey pun tumbang di kamarnya. Di ruangan yang sepi dan hening itu, ia menumpahkan segala kesedihannya, menangis sesenggukkan meluapkan sakit atas ucapan yang ia dengar dari mulut suaminya.
“Kenapa harus sesakit ini, ya Allah? Kenapa juga aku harus mengambil hati atas perkataannya mas Wisnu?” lirihnya di antara senggukan dan suara tangisnya.
Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya yang ia lipat. Menangis sendirian dan tenggelam dalam rasa kantuk yang tiba-tiba menghampirinya.
Bersambung....
Jangan lupa kasih komentar terbaik kalian ya di bawah. Dan buat kalian yang suka ngasih gift dan vote serta aktif komen di novel ini, makasih banyak ya semoga kalian sehat selalu dan di mudahkan rezekinya, aamiin.
__ADS_1
Love you sekebon jagung untuk semua pembacaku.
Follow ig aku @dela.delia25 thank you.