Noda Pengantin

Noda Pengantin
Kecurigaan Shindy


__ADS_3

Haii semuanya, maaf baru update lagi, kemarin selama seminggu authornya sakit hihi, sekarang baru bisa up dikit-dikit ya.


Happy reading and enjoy....


***


Setelah selesai makan bersama, Aryo mengajak Grey untuk berangkat kerja bersama.


“Aku mengambil cuti,” jawab Grey saat Aryo menawarinya tumpangan untuk ke kantor.


“Loh, kok aku gak tahu?” tanya Aryo dengan bingung, memandangnya dengan penuh pertanyaan.


Grey mendelik sebal. “Ya kan kalau izin cuti bukan sama kamu, sama petugas yang lain!”


“Sudah, Aryo. Biarkan Grey libur saja, kasihan ... dia juga ingin istirahat, apalagi Grey lagi hamil muda gini,” seloroh Cakra, yang sudah bersiap untuk berangkat kerja juga.


“Lagi pula, sepenting apa sih dia di perusahaanmu?” Wisnu yang sejak tadi diam, tiba-tiba ikut bersuara.


“Ya ... ya penting banget lah, dia ‘kan asistenku,” jawab Aryo sedikit gugup.


“Oh ....” Balas Wisnu begitu simple, kemudian ia pun pamit, pergi begitu saja.


Tidak ada salam tangan, tidak ada kecupan di kening, tidak ada basa-basi sedikit pun pada Grey. Entah suami macam apa, Wisnu itu, tetapi sikapnya yang selalu dingin kepada Grey, sedikit membuat Grey seolah merasa lelah. Grey merasa, lelah berjuang sendirian dalam membangun rumah tangga yang tidak harmonis ini.


Sementara itu setelah Wisnu pergi, kini giliran Cakra yang berangkat. Pria setengah baya itu, sejak tadi terus berpikir mengenai hubungan antara Aryo dan Grey, karena ia merasa ada yang beda dengan perlakuan Aryo kepada Grey, seolah mereka sangatlah dekat.


Meski Cakra tahu Aryo adalah atasannya Grey, tapi perhatian yang Aryo berikan kepada Grey, membuatnya sedikit curiga, sebenarnya ada hubungan apakah diantara menantu dan anak keduanya itu, selain hubungan pekerjaan dan keluarga.


“Ma, coba deh kamu selidiki, apa ada hubungan lain antara Aryo dan menantu kita, kok Papa ngerasa ada yang ganjal ya sama mereka,” bisik Cakra saat hendak memasuki mobilnya. Masih berdiri di luar bersama Shindy.


“Hah? Maksud Papa apa?” Shindy mengkerutkan dahinya, merasa heran.


“Ya nggak ada maksud apa-apa sih, hanya saja Papa ingin tahu, apa Aryo dan Grey sebelumnya pernah kenal atau akrab gitu, soalnya, sikap Aryo ke Grey kelihatan banget bedanya,” ucapnya memelankan suaranya.


Shindy mengangguk paham. “Oh ... seperti itu, baiklah nanti biar mama yang selidiki semuanya,” ucap Shindy, lalu Cakra pun sejenak memberi kecupan singkat di kening Shindy, baru setelahnya ia naik ke mobil dan pergi.


Aryo masih berdiam di ruang TV bersama Grey. Shindy memandangi mereka sambil mengamati gerak-gerik mereka, untuk memastikan kecurigaan suaminya kepada mereka.


Shindy pun ikut duduk di samping Aryo.


“Aryo, kamu belum berangkat kerja?” tanya Shindy.

__ADS_1


“Belum, Ma. Nanti bentar lagi aku berangkat kok,” jawabnya.


“Oh ya, kalian kalau di kantor emang sedekat ini ya?” tanya Shindy lagi.


Aryo tersenyum canggung. “Emh, ya dekat biasa aja, Ma. Antara karyawan dan atasan, hanya saja aku dan Grey, kita kan satu keluarga jadi lebih akrab aja sih, gak canggung gitu.”


Shindy mengangguk-anggukkan kepalanya. “Emh... begitu ya.”


Grey yang fokus pada TV sambil menikmati surabi dari Aryo, ia kehausan, lalu dirinya berdiri hendak pergi ke dapur.


Aryo yang memang terbilang protektif, ia langsung menoleh. “Kau mau ke mana, Grey?” tanya Aryo dengan cepat.


“Ke dapur, kenapa memangnya?” tanya Grey dengan cuek.


“Apa kau ingin minum? Biar aku ambilkan saja,” tawarnya.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Loh, kamu ini gimana sih, kamu 'kan jangan kecapekan, kamu lagi hamil, Grey.” Tampak jelas kekhawatiran di wajah Aryo, lelaki itu selalu tidak bisa mengontrol rasa perhatiaannya pada Grey, bahkan di saat seperti ini, saat Shidy tengah memerhatikannya.


Grey menatapnya tajam, tidak suka dengan perhatian yang Aryo berikan padanya.


“Aku hanya hamil, bukan sakit parah!” jawabnya lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Shindy terkekeh. “Kamu ini, kok perhatian banget sih sama kakak iparmu itu. Ya kalau hanya ke dapur itu gak capek, kecuali kalau ke dapurnya bolak-balik 100 kali baru capek.”


“Duduklah." Shindy menepuk sofa disebelahnya. "Mama ingin tanya sesuatu sama kamu,” titah Shindy, meminta Aryo untuk duduk di dekatnya.


“Bertanya apa, Ma?” Aryo sudah duduk di samping Shindy.


“Begini ... emh, kamu sama Grey itu pernah saling kenal gak sih dulunya? Kayak dulu mungkin kalian satu sekolan, atau pernah kenal satu tempat kuliah?” tanya Shindy penuh selidik.


Aryo mengernyit heran. Ia memandang Shindy dengan tatapan penuh keheranan. “Me-mangnya kenapa?”


“Nggak kenapa-napa, Mama hanya ingin tahu aja.”


Aryo kembali berpikir. “Apa aku bilang saja ya, kalau aku memang pernag dekat dengan Grey?” gumam Aryo dalam hati.


Setelah diam beberapa detik, Aryo akhirnya mengambil keputusan, kalau ia harus jujur kepada Shindy. Apalagi saat Shindy bertanya padanya, tidak enak rasanya jika ia tidak memberikan jawaban yang sebenarnya.


“Emh, sebenarnya aku dan Grey, kita ....”

__ADS_1


Prang!!! Suara gelas pecah terdengar memekik di telinga mereka.


Aryo dan Shindy yang tengah mengobrol langsung menoleh ke belakang lebih tepatnya ke arah dapur. Di mana, Grey di sana tengah berjongkok memunguti sesuatu.


Aryo dan Shindy pun segera menghampirinya.


“Jangan dipegang,” tungkas Aryo menjauhkan tangan Grey dari pecahan gelas kaca yang sudah berhamburan di lantai.


“Ya ampun Grey, kenapa bisa jatuh? Kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya Shindy, ikut panik.


“A-aku juga tidak tahu, Ma, kenapa gelasnya bisa jatuh dari tanganku,” ucap Grey memberi jawaban.


Grey memundurkan langkah, tapi tiba-tiba.


“Aww....” Grey langsung meringis kesakitan, saat kakinya yang beralaskan sendal rumah yang tipis itu secara tidak sengaja menggores bagian sisi telapak kakinya.


Aryo yang melihat darsh dari kaki Grey, ia semakin panik dan tanpa diduga, lelakki itu langsung menggendong tubuh Grey ke dalam pangkuannya begitu saja dan membawanya ke ruang TV, mendudukan Grey di atas sofa sana.


Shindy yang melihatnya ia sedikit shock. Mulutnya menganga, melihat kepanikan Aryo. Dan ia pun semakin yakin, kalau kecurigaan yang dirasakan suaminya itu memang benar adanya.


“Kok bisa, Aryo seposesif itu sama kakak iparnya,” gumamnya memandang mereka yang ada di ruang TV.


Ia terdiam selama beberapa detik, sebelum tersadar dari lamunan dan pikirannya, lalu ia pun memanggil pak Ujang yang biasa ada di kebun, menyuruhnya untuk membersihkan pecahan gelas di dapur. Lalu ia pun kembali menghampiri Grey dan Aryo di ruang TV.


Kini Aryo terlihat tengah sibuk mengobati luka sayatan yang ada di kaki Grey. Wanita itu mengaduh kesakitan, saat Aryo mulai mengoleskan obatnya dengan pelan.


“Ah, Aryo pelan-pelan! Kakiku sakit,” rengek Grey saat kapas berbetadine itu mengenai lukanya.


“Makanya, lain kali kalau butuh sesuatu itu bilang! Minta bantuan sama aku atau sama yang lain. Untung saja gelasnya yang jatuh, bukan kamu,” seru Aryo.


Shindy memandangi anak tiri dan menantunya itu dengan tatapan heran. Pertanyaan-pertanyaan lain pun kian muncul di benak Shindy, membuat wanita yang hampir berkepala empat itu menduga-duga kemungkinan hubungan yang terjalin antara Aryo dan menantunya.


"Tidak mungkin 'kan, kalau mereka selingkuh dibelakang Wisnu?" gumam Shindy dalam hati. "Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan. Aku tidak boleh berpikiran seperti itu sebelum aku melihatnya sendiri," batinnya meralat pikirannya.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa, bantu like komen dan votenya ya mentemen.


*Stay save, semoga kalian sehat-sehat selalu ya, author sayang kalian. luv luv luv


__ADS_2