Noda Pengantin

Noda Pengantin
Tanda Merah


__ADS_3

Di ruang khusus semacam dapur yang hanya diperuntukan untuk minum dan menyeduh kopi, kini Shasha dan Grey saling berdiri berhadapan.


Shasha masih memasang wajah sinisnya, ia seolah begitu kesal dengan Grey. Tetapi, entah hal apa yang membuat gadis itu kesal kepada sahabatnya. Grey hanya menatapnya dengan bingung.


“Cepat katakan yang sejujurnya! Ada hubungan apa kamu sama Pak GM?” tanya Shasha dengan wajahnya yang menatap Grey begitu serius.


Grey tercengang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya tersebut. “M-maksudmu … hubungan apa?”


Shasha berdecak kesal, seraya melipatkan kedua tangannya di dada. “Ck, udah deh gak usah sok polos gitu! Jawab aku sejujur-jujurnya Anggreya! Ada hubungan apa kamu sama Pak Aryo?!” tanyanya lagi semakin serius dan kesal.


“Hubungan? ….” Grey tertegun bimbang.


Hening ….


“Kenapa diam?” tanya Shasha dengan galaknya.


“Ya aku harus jawab apa? … Hubunganku dengan Pak Aryo hanya sebatas atasan dan bawahan. Aku hanya pegawainya dan dia adalah bosku,” jawab Grey, sebisa mungkin berusaha terlihat netral.


“Are you seriously?” Shasha menyipitkan kedua matanya, seolah menyelidik Grey. Grey langsung mengangguk gugup.


“Hm ….” Shasha mencebik heran, ia mengusap dagunya, lalu kembali menatap Grey dengan tatapan penuh intimidasi.


“Kalau begitu, jawab aku! Kenapa, Pak Aryo tiba-tiba ngangkat kamu jadi asistennya?”


"K-kok kamu tahu soal itu, Sha?" tanya Grey gugup.


“Aku tahu dari sekretasisnya. Dan semua orang sekarang sedang menggosipkanmu, Grey. Jadi cepat jujurlah padaku, ada hubungan apa sebenarnya antara kamu sama pak Aryo?!” tegas Shasha begitu kukuh harus tahu.


Grey mencengkeram erat roknya,  Sungguh, ia benar-benar gugup dan bingung dengan semua ini.


"Ya Allah, kenapa sih hal buruk harus menghampiriku?" batinnya, merasa cemas.


“Sebenarnya, siapa sih Pak Aryo itu? Kok kelihatannya dia ada sesuatu hubungan sama kamu?” selidik Shasha.


Grey akhirnya hanya bisa bernafas pasrah. Ia mendesah pelan, menunduk lemas meratapi masalah baru yang harus ia hadapi.


“Baiklah, aku akan jujur sama kamu,” lirih Grey. “Tapi … kamu harus janji sama aku."


"Janji apa?" tanya Shasha, melipat kedua tangan di dada.


"Kamu harus janji, kalau kamu akan menjaga rahasia ini, dan tidak akan membocorkannya kepada siapa pun!” ucap Grey.


Shasha terdiam, lalu melirik sinis sambil mendelik sebal. "Hm, baiklah, aku janji. Tapi awas saja kau, kalau kamu enggak ngungkapin semuanya, aku akan marah sama kamu!" cetusnya sambil mencebikkan bibirnya.


"Iya, Shasha!"


"Ya udah, ayo cepat ceritakan rahasiamu itu!"


“Tapi tidak sekarang … nanti, jam istirahat aku akan ceritakan semuanya sama kamu,” ucap Grey dengan wajahnya yang berubah sendu.


***


Sepanjang Grey bercerita, mimik wajah Shasha tampak berubah-ubah, mulai dari mengerung, keheranan, kebingungan, tak percaya. Dan ucapan yang dilontarkannya pun hanya. “Wah, serius?, masa sih?, gila!, hah, apa?! Astagfirullah!, Wah Parah!”


Dan semakin Grey menceritakan semuanya, semakin Shasha geleng-geleng tak menyangka.

__ADS_1


“Jadi, dia pergi ke London hanya karena diputusin sama, lo?” tanya Shasha.


“Sttt …. Jangan keras-keras!” ucap Grey pelan, penuh penekanan. Shasha buru-buru menutup mulutnya, lalu berbicara lebih pelan bahkan terdengar setengah berbisik.


“Terus, sekarang dia ngangkat lo jadi asistennya dan lo mau aja gitu?” tanya Shasha pelan.


“Bukan aku yang mau, tapi dia yang maksa! Aku udah nolak dia, bahkan aku nolaknya secara kasar, tapi ya … emang dia orangnya keras kepala, susah pokoknya. Makanya aku sebenarnya udah gak betah kerja di sini, pengen resign aja,” keluh Grey mencebikan bibirnya.


"Ya udah kalau gitu kamu resign aja, gak baik kamu ada dilingkungan toxic kayak begini."


“Iya aku pengen buru-buru resign, tapi tanggung jawab aku sama proyek yang sekarang ini gak bisa aku tinggalin gitu aja, makanya. Pokoknya selesai proyek bulan ini, aku harus resign dari sini,” ucap Grey penuh tekad.


“Oke, gue dukung lo, Ya.”


Setelah berbincang cukup lama di caffeshop, mereka berdua pun kembali ke lobby untuk pergi menaiki lift menuju lantai di mana ruang kerjanya berada. Dan sesampainya di ruang kerja, bertepatan dengan jam masuk kerja lagi, mereka semua kini tengah berfokus pada kerjaan mereka masing-masing, berkutat dengan serius di depan meja komputer.


Saat Grey tengah sibuk membuat sebuah design untuk projectnya, tiba-tiba Anton sudah berdiri di depannya.


“Nona Grey, Anda dipanggil Pak Aryo untuk menghadap ke ruangannya,” ucap Anton dengan sopan dan formal.


Grey berdecak kesal. “Apalagi sih!” rutuknya pelan.


Ia pun berjingkat dari duduknya, meninggalkan pekerjaannya dan buru-buru melangkah pergi untuk memenuhi panggilan GM termenyebalkannya itu.


Dengan emosi yang bergejolak di dada, Grey melupakan tatak ramanya sebagai pegawai. Ia berjalan dengan langkah panjang penuh amarah, lalu tanpa mengetuk pintu ruangan milik Aryo, ia langsung membukanya dengan kasar, sambil menggerutu kesal.


“Aryo! Sebenarnya apa sih yang ka—” Perkataannya menggantung begitu saja, saat kedua matanya mendapati seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk mengobrol dengan Aryo di atas sofa.


Aryo dan lelaki paruh baya itu, menatap bingung ke arah Grey yang tengah berdiri di ambang pintu, memegang gagang pintu. Sambil melongo terkejut.


Kedua pipi Grey langsung memerah menahan malu yang teramat sangat menyesakan dada.


Dengan gugup ia pun menunduk, lalu meminta maaf dan berbalik menutup pintu, mengurungkan niatnya untuk menemui Aryo.


Sementara itu, Anton yang baru sampai karena tadi ia berjalan santai, lelaki itu dengan polosnya berkata. “Loh, Nona Grey kok gak masuk?”


Grey langsung mendongak. “Kenapa kamu gak bilang?!” tanya Grey dengan kesal.


Anton menautkan kedua alisnya merasa bingung tidak mengerti. “Gak bilang apa?”


Grey berdecak. “Kenapa gak bilang kalau di dalam ada klien Pak Aryo?!” ucapnya kesal.


“Benarkah? Oh dia sudah datang ya,” balasnya karena sebenarnya Anton pun tak tahu kalau di dalam ada orang.


“Kalau begitu, Nona Grey tunggu di ruang saya saja, di sana,” ucap Anton menunjuk ke arah ruang kerjanya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Grey pun menurut, berjalan memasuki ruang kerja Anton begitu saja. Dan saat ia masuk ke ruang kerja milik Sekretaris Anton, ternyata ruangannya masih terhubung dengan ruangan milik Aryo, hanya saja terhalang kaca  bening yang cukup besar.


Tak ingin melihat keberadaan Aryo dan kliennya di sebelah sana, Grey mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dekat lemari rak. Ia meringsutkan wajahnya sambil mengumpati kebodohannya.


“Ya ampun, kenapa sih harus malu-maluin gitu!” sesalnya, menjejakan kakinya dengan keras ke lantai.


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Aryo datang menghampirinya di ruang kerja milik Anton. Anton yang tengah sibuk dengan laptop di meja kerjanya, ia di suruh keluar terlebih dahulu oleh Aryo. Dan kini di ruangan tersebut hanya ada Aryo dan Grey berdua.


“Ada apa kau memanggilku?!” tanya Grey begitu ketus.

__ADS_1


Aryo tak langsung menjawab, ia malah menatap heran penampilan Grey yang beda dari biasanya.


“Grey, apa kau sedang sakit?” tanya Aryo seolah khawatir.


Grey meringsutkan wajahnya. “Jangan mengalihkan pembicaraan!”


“T-tapi kenapa kamu terlihat pucat sekali, kau sakit atau kedinginan?” tanya Aryo masih penasaran.


Grey terdiam tidak menjawab.


“Jawab aku, Grey. Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Aryo mencoba mendekat.


“Stop! Jangan mendekat. Aku kemari memenuhi panggilanmu bukan untuk mempermasalahkan kesehatannku atau pun penampilanku!”


“Cepat katakan! Ada apa kau memanggilku kemari hah?!”


Aryo terdiam, lalu tersenyum menyeringai. “Ya untuk apalagi kalau bukan untuk melihatmu, dan memastikan kalau kau masih menurut padaku,” jawabnya dengan enteng.


“Apa?!” Grey terbelalak, tidak habis pikir dengan apa yang didengarnya dari mulut lelaki yang ada di depannya itu.


Ia menggeleng kesal. “Manager macam apa kau ini, memanggil karyawanmu dengan alasan tidak jelas, sampai karyawanmu ini meninggalkan pekerjaannya!”


“Kalau tidak ada yang penting, lain kali jangan memanggilku!” seru Grey penuh penekanan. Lalu ia pun melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan kesal.


Akan tetapi, Aryo kembali berulah, pria itu hendak menarik baju belakang Grey untuk menahannya pergi, namun tangannya malah tidak sengaja menarik kerudung segi empat yang dipakai Grey. Dengan trik dan kecepatannya, lelaki itu tidak sengaja melepaskan kerudung tersebut, hingga kini jarum pentul yang tersemat di kerudung grey hilang entah kemana, dan kerudungnya pun jadi lepas acak-acakan.


Grey begitu terkejut. "Argh! Aryo! Apa yang kamu lakukan!" Grey buru-buru membenarkan kembali kerudung segi empat miliknya, menutupkannya ke kepalanya, dengan perasaan yang berdebar tidak karuan, di tambah rasa kesal yang semakin memupuk di dadanya.


"Argh! Hilang lagi jarumnya!" gerutunya menatap kesal ke arah Aryo.


 Aryo mematung di tempatnya, kakinya seolah terpaku dengan lantai yang dipijaknya. Ekpsresi wajahnya berubah begitu cengo. Ia dibuat terkejut atas apa yang baru saja dilihatnya di leher Anggreya.


Grey masih kebingungan mencari ke mana jarum pentul miliknya itu terjatuh, dan kini kedua netranya menangkap sebuah kilauan dari bawah kolong meja kerja milik Anton. Ternyata jarum pentul miliknya ada di bawah sana. Buru-buru Grey mengambilnya dan menyematkannya lagi dii bawah dagunya.


"Kau keterlaluan, Aryo!" seru Grey merasa kecewa, karena sikap Aryo kali ini benar-benar keterlaluan.


Aryo masih terdiam dalam lamunannya. Terbayang sekilas leher Grey yang penuh dengan tanda kiss mark.


"Bagaimana bisa tanda itu ada di leher dia?" gumam Aryo dalam hati.


"Tanda apa dilehermu itu, Grey?" tanya Aryo tiba-tiba, langsung membuat Grey membeliakkan kedua matanya, merasa tercengang.


Hening …. Tidak ada suara di anntara keduanya.


Hingga pada akhirnya, Grey memilih untuk yang membelakangi Aryo dengan perasaannya yang berdebar tidak karuan.


Kedua mata Aryo tampak memerah, ada gejolak amarah yang ia rasakan. Tangannya mengepal erat. Lelaki itu menatap tajam kearah punggung Grey.


Dan saat Grey hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, tangan Aryo lebih dulu mencekal pergelangan tangan Grey, membuat Grey langsung menoleh dengan kesal.


“Apa Wisnu yang melakukannya?” tanya Aryo, memandang penuh emosi kedua bola mata Grey.


Grey terdiam, sedikit malu jika ia mengakuinya.


“Jawab aku, Anggreya!” sentaknya semakin emosi.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian di bawah ya. Author suka sekali baca komenan kalian. Love you sekebon pisang pokoknya xixi.


__ADS_2