
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan oleh Wisnu. Sejak semalam ia sudah tidak sabar untuk menunggu hari ini tiba. Ya, ini adalah hari di mana ia akan bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang bernama Aurel. Karena, setelah sekian lama ia tidak dapat berpapas muka maupun bertukar suara, akhirnya kerinduan yang selama ini dipendamnya akan terbayar sudah.
“Pagi, Ma, Pa,” sapa Wisnu kepada Shindy dan Cakra. Raut wajah Wisnu benar-benar terlihat beda dari biasanya.
“Tumben, wajah kamu berseri-seri begitu, abis dapat kabar apa?” tanya Cakra dengan heran.
“Enggak apa-apa, Pa. Cuma lagi seneng aja,” jawabnya langsung duduk di kursi ikut sarapan bersama.
Cakra masih memandanginya dengan heran, lalu ia berpikir, mungkin ada yang sudah terjadi antara Grey dan Wisnu. Tiba-tiba, Cakra tersenyum senang, seolah ada yang menggelitik di pikirannya.
“Jangan-jangan, Grey dan Wisnu abis tempur untuk pertama kalinya? Haha, apa mungkin mereka mau membuatkan cucu untukku ya,” gumamnya dalam hati masih senyum-senyum sendiri.
Kini, giliran Shindy yang terheran-heran melihat ekspresi suaminya yang tiba-tiba senyum sendiri tanpa sebab.
“Pa, Papa kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Shindy, seraya melahap nasi goreng miliknya.
Cakra tersadar, lalu menggeleng pelan masih dengan senyumannya yang belum menyurut dari wajahnya.
Tidak lama kemudian, datanglah Grey yang baru turun dari tangga. Grey menyapa semua orang yang ada di sana, termasuk kepada Wisnu suaminya. Dan pagi itu, gak ada hujan gak ada angin, Wisnu yang tidak biasanya membalas sapaan Grey, tiba-tiba saja membalasnya, membuat suasana cukup mencengangkan.
Hal tersebut, semakin membuat pikiran Cakra terbang terbawa ke awang-awang. Lelaki paruh baya itu seolah mendapat kesenangan tersendiri.
“Benar, sepertinya di antara mereka sudah terjadi sesuatu,” pikir Cakra.
Seolah tak ingin menghilangkan kesempatan emas, tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikiran Cakra. Ia hendak membuka suara, akan tetapi kehadiran anak bungsunya mengurungkan niatnya. Karena melihat penampilan Viona yang berbeda dari biasanya.
“Loh, Viona kamu kok bawa koper, mau ke mana kamu? Enggak sekolah?” tanya Cakra.
“Papa lupa ya, hari ini ‘kan aku mau pergi study tour ke Bali. Jangan bilang Papa gak ngizinin aku lagi!” Viona merengutkan wajahnya.
“Oh, iya iya bagus, Papa izinin kamu kok,” jawab Cakra, ia kembali menyeringai bahagia.
Setelah itu, Viona ikut mendudukan tubuhnya, ikut bergabung untuk sarapan bersama.
Selagi fokus makan, tiba-tiba Cakra memberi kode kepada Shindy, membuat Shindy menoleh ke arahnya.
“Apa, Pa?” tanya Shindy heran.
“Papa mau ajak Mama ke luar kota hari ini,” bisik Cakra, membuat Shindy menautkan kedua alisnya merasa bingung.
“Ekhem ….” Cakra berdehem, lalu menyimpan sendok dan garpu, menyudahi sarapannya. “Oh ya, berhubung Viona hari ini mau pergi ke Bali. Papa sama Mama juga mau pergi ke luar kota, jadi nanti di rumah cuma ada kalian berdua,” ucap Cakra memberi tahu.
“Emang Papa ke luar kota mau ke siapa?” tanya Wisnu dengan heran.
__ADS_1
“Enggak ke siapa-siapa, papa cuma mau ajak Mamamu liburan aja,” jawabnya seolah menyiratkan sesuatu hal lewat sorot matanya pada Wisnu.
Wisnu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ini akan menjadi kabar baik baginya, karena dengan begitu ia bisa bebas untuk menghabiskan waktu bersama Aurel nanti tanpa menghiraukan peraturan rumah.
Cakra melihat senyuman yang kembali terkembang di wajah anak sulungnya tersebut. “Sepertinya ideku ini akan berjalan lancar. Sebaiknya untuk beberapa hari ke depan, aku harus memberikan ruang privacy untuk anak dan menantuku. Aku yakin, dengan cara ini hubungan mereka akan lebih baik,” batin Cakra.
***
Di kantor AF Group, pagi ini Wisnu kembali menyapa para pegawainya, mereka dibuat bingung karena bos mereka kembali bersikap ramah pada mereka, padahal hari kemarin bosnya itu marah-marah terus. Tapi, hari ini bosnya kembali bersikap ramah dan terus menebar senyuman manis kepada para pegawainya, bahkan Pak Satpam yang biasanya dilewat begitu saja, tiba-tiba tadi disapa hangat oleh Wisnu sambil sok kenal sok dekat, menepuk pundak Pak Satpam, dan memberinya semangat.
“Oh ya Dev, jadwal hari ini sudah kamu kosongkan sesuai permintaanku waktu itu ‘kan?” tanya Wisnu, saat ia dan Devan tengah berjalan dari lift menuju ruang kerjanya.
“Iya sudah, Tuan,” jawab Devan yang berjalan mengekori Wisnu di belakang.
“Baguslah, kau memang selalu bisa diandalkan,” pujinya kepada Devan.
“Oh ya, Tuan. Bunga yang Tuan pesan juga sudah saya siapkan. Apa perlu saya mengambilnya sekarang?” tanya Devan.
“Oh tidak perlu, kau kirimkan saja alamat tokonya padaku, nanti biar aku yang mengambilnya,” jawab Wisnu, Devan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Sementara itu, di perusahaan Aline Group, perusahaan yang kini berada di bawah naungan seorang lelaki gagah bernama Aryo. Pagi itu, suasana kantor terlihat stabil seperti biasa.
“Tuan, mau saya panggilkan sekarang?” tanya Anton kepada Aryo.
“Emh, oh ya, An … menurutmu, apa dia akan senang kalau aku menaikan jabatannya?” tanya Aryo.
Anton si pria hitam manis itu langsung menjawab dengan penuh semangat. “Oh tentu saja, Tuan. Nona Anggreya pasti akan senang dengan jabatan barunya, apalagi kalau kerjanya yang bisa saling mempertemukan Tuan dan Nona secara langsung.”
Aryo tersenyum sumringah mendengarnya. “Baiklah, kalau begitu, panggilkan dia sekarang!”
“Siap laksanakan, Tuan,” sahut Anton, sambil meluruskan tubuhnya tegap memberi hormat, lalu pergi ke ruang kerja Grey.
“Permisi, Nona Grey,” ucap Anton begitu ia sampai di depan meja kerja Grey.
Grey yang tengah sibuk menginput data, ia sedikit dikejutkan dengan hadirnya si sekretaris hitam manis yang tiba-tiba berdiri di depannya.
“Loh, Tuan Anton. Ada apa?” tanya Grey dengan ramah, tapi perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak hati. Bau-baunya, sepertinya Anton datang kemari karena di suruh oleh Aryo.
“Nona Grey, Anda dipanggil oleh Tuan Aryo ke ruangannya,” jawab Anton.
Grey langsung berdecak kesal. “Tuh, ‘kan … Astaghfirullah, tuh orang kenapa suka banget sih nyari gara-gara,” gerutunya pelan.
Anton masih mematung menunggu jawaban Grey.
__ADS_1
Grey menatap sinis si sekretaris hitam manis itu. “Ya sudah, saya beresin dulu kerjaan saya yang ini, tanggung! Nanti saya ke sana,” jawab Grey dengan wajah yang beringsut kesal.
“Baik, Nona.” Anton pun kembali pergi meninggalkan ruangan kerja Grey.
Sementara itu, Shasha si miss kepo, ia langsung mendekat ke arah meja kerja Grey yang kebetulan, jarak meja kerjanya dengan meja kerja Grey tidak lah jauh.
“Sut!”
“Hey ….” Shasha memberikan kode kepada Grey.
Grey membuang nafas tak ingin memedulikan panggilan Shasha.
“Sttt, ada apa kamu dipanggil sama Pak GM?” tanya Shasha begitu penasaran.
Grey yang masih fokus pada komputernya ia hanya bisa menggeleng lemah, dengan bibir yang mencebik kesal.
“Gak tahu!”
“Itu GM baru, perasaan nyari masalah mulu sama aku, bikin bete aja pagi-pagi begini deh!” ucap Grey dengan kesal. Membuat Shasha langsung melongo tak percaya dengan perketaan yang keluar dari mulut Grey.
“Heh! Gila lo ya, gak boleh gitu tahu. Kalo misalkan nanti ada yang denger … terus dilaporin sama Pak GM-nya gimana? Bisa-bisa kena SP kamu, Grey!” ucap Shasha pelan namun penuh penekanan.
Grey mendesah pelan, melemaskan seluruh tubuhnya, memasang wajah melas sambil menatap layar komputernya dengan malas. "Sudahlah, tidak apa-apa, lagi pula aku mau resign dari sini aja," jawabnya, lagi-lagi membuat Shasha melongo mendengarnya.
“Ih Grey! Kamu kenapa sih? Lagi datang bulan ya? Apa gak sarapan pagi, jadinya uring-uringan begini, masih pagi juga!”
Grey tiba-tiba terdiam, ia kembali teringat akan dirinya yang belum juga datang bulan. Tiba-tiba, ada rasa tidak enak hati, ia pun buru-buru menyelesaikan inputan data di lembar terakhirnya.
“Udah ah, aku mau nyamperin Pak GM dulu,” ucapnya pada Shasha lalu pergi meninggalkan meja kerjanya begitu saja.
Shasha memandangnya dengan heran, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa tuh anak, kok beda banget dia, kayak ada yang aneh deh dia sama Pak GM,” gumamnya penasaran. Membuat isi dalam kepalanya mengajaknya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi antara GM baru itu dengan Grey--sahabatnya.
"Apa jangan-jangan ...." Shasha menutup mulutnya dengan ekspresi wajah melongo, yang sulit dijelaskan.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1