
“Wisnu, are you okay?” tanya Aurel, membuat Wisnu terlepas dari lamunannya.
“Hah, i-iya i'am okay,” balasnya gugup, tersenyum malu. Lalu, buru-buru Wisnu mempersilakan Aurel untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Gugupmu masih sama kayak dulu ya, Nu," ucap Aurel saat wanita itu hendak duduk di kursi yang ditarik oleh Wisnu.
Kini mereka berdua pun duduk bersama saling berhadapan di satu meja. Lagi-lagi, kecanggungan di antara mereka, membuat keduanya terkekeh malu.
“Oh ya, gimana kabarmu? Udah lama banget ya kita gak ketemu,” tanya Aurel, yang mulai memecah kecanggungan di antara keduanya.
“Ya, seperti yang kamu lihat, kabarku baik-baik saja," jawab Aurel tersenyum manis.
"oh ya, pas SMA kamu kok ngilang gitu aja, kemana?” tanya Wisnu.
Lagi, Aurel hanya terkekeh menanggapinya. “Hm, ngilang ya? Duh gimana jawabnya ya?" Aurel dengan gugup melipat kedua bibirnya ke dalam. "Kalo soal ngilang itu, sebenarnya itu bukan keinginanku, tapi aku terpaksa ikut sama orang tuaku ke Malaysia.”
“Emang, sebelumnya udah direncanain mau pindah ke luar negri?” tanya Wisnu, karena sebenarnya ia paling penasaran dengan alasan keluarga Aurel yang tiba-tiba hilang entah kemana itu.
Aurel menggeleng lemah, ia menunduk sejenak sebelum kembali menautkan tatapannya dengan Wisnu. “Enggak juga sih. Hari itu … semuanya terjadi secara mendadak. Makanya aku tiba-tiba ngilang gak ada kabar sampe sekarang,” jawab Aurel, tersenyum hambar, seolah ada sesuatu yang sedang memberatkan pikirannya.
Setelah sekian lama berbincang, seraya bercanda melepas rindu satu sama lain, ditengah aktivitas Aurel dan Wisnu yang sedang menikmati makanan di meja, tiba-tiba ponsel milik Aurel berdering.Dan langsung menyita perhatian keduanya.
Wanita itu izin pamit kepada Wisnu untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu. Wisnu pun mengizinkannya.
Wisnu memandangi Aurel yang tengah berdiri di balkon sana. Suasana di restoran Sagara itu sangatlah indah, deburan ombak dari pantai ikut menambah suasana menyejukkan mata, serta hembusan angin laut yang menerbangkan ujung rambut Aurel, membuat tampilan gadis itu semakin terlihat menawan dan lebih cantik.
Tiba-tiba debaran yang dulu sering ia rasakan jika tengah bersama Aurel, kini kembali terasa di dadanya. Debaran yang mengingatkan akan kisah dirinya dengan Aurel di masa lalu. Apalagi saat ia mengingat kejadian sepulang sekolah dulu, saat rumah tengah sepi.
“Dia tidak pernah berubah, selalu berpakaian anggun dan selalu terlihat cantik di mataku,” gumam Wisnu memandangi Aurel yang masih sibuk menelepon di sana.
Bibirnya tampak melengkung, menciptakan sebuah senyuman manis. Pikirannya tengah melanglang buana, mengingat suatu kejadian antara dirinya dengan Aurel di masa lalu yang sampai saat ini tidak pernah bisa ia lupakan. Dan, kejadian itu pula yang selalu membuat Wisnu bertanya-tanya, apa Aurel tidak kenapa-napa?
Semakin lama memandang, semakin ia menyesali sesuatu. Wisnu mendesah pelan membuang nafasnya pasarah. “Hm, sayang sekali. Seandainya aku belum menikah, sudah kupastikan aku akan mempersunting dia secepat mungkin,” gumamnya meratapi nasib yang sudah menimpanya.
Tidak lama kemudian, Aurel kembali menghampiri Wisnu.
“Udah?” tanya Wisnu. Aurel mengangguk dengan senyuman simpul yang terlukis di wajahnya, seolah mengisyaratkan ada sesuatu hal yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Aurel pun kembali duduk dan mereka berdua kembali menikmati makanan mereka. Akan tetapi, ada yang berbeda, Aurel tak seceria tadi. Raut wajahnya tampak mendung, Wisnu sesekali mencuri pandang untuk memastikan bahwa Aurel baik-baik saja. Akan tetapi, dilihat dari pergerakan makan Aurel, wanita itu serpertinya memang sedang dirundung masalah.
“Hey … are you okay?” tanya Wisnu pelan. Aurel mendongakkan wajahnya menatap sendu ke arah Wisnu.
“Kalo ada masalah, cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu kamu?” tawar Wisnu.
__ADS_1
Bukannya membalas tawaran Wisnu, Aurel malah tertawa seraya menggelengkan kepalanya pelan.
“Ya ampun, Wisnu, Wisnu,” kekeh Aurel.
Wisnu memandangnya dengan heran. “Loh, kenapa? Kok malah katawa?”
Aurel masih terkekeh memegangi perutnya. Lalu ia pun terhenti dari tawanya, dan kembali menatap serius ke arah Wisnu.
“Kamu ini ternyata gak berubah ya. Masih saja, jadi Wisnu yang aku kenal dulu … Wisnu yang perhatian, yang cemasan, dan yang pasti … Wisnu yang selalu care,” pujinya. Membuat Wisnu merasa tersanjung, hingga membuat wajah lelaki berparas tampan itu sedikit kemerahan karena menahan malu.
"Udah tenang aja, aku baik-baik aja kok."
“Eh iya ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar belum sih?” tanya Aurel tiba-tiba, yang membuat Wisnu langsung terdiam seribu bahasa, bingung untuk menjawabnya.
“Nu, kok malah diem?” tanya Aurel, membuyarkan lamunan Wisnu yang sedari tadi terus berpikir harus menjawab apa.
Aurel menghentikan makannya, lalu meneguk segelas air putih yang ada di dekat piringnya. Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan perbincangannya dengan Wisnu.
“Ah… aku tahu,” ucap Aurel menebak, yang langsung membuat Wisnu membulatkan kedua matanya merasa resah.
“Tahu apa?” tanya Wisnu dengan ragu.
“Aku tahu, kalau kamu ….”
“Apa dia sudah mencari tahu tentang diriku selama ini ya?” batin Wisnu.
“Kamu jomblo ‘kan?” tebak Aurel, dengan dugaannya yang salah.
Wisnu bernafas lega, karena ternyata Aurel hanya menebaknya saja, tidak tahu fakta yang sebenarnya.
“Makanya, jangan sibuk ngejar karir dong. Cari cewek lah! Masa … ganteng-genteng gak bisa nyari cewek,” ejek Aurel seraya terkekeh ringan.
Wisnu tersenyum simpul, ia mengulum lidah pun mengakhiri makannya juga. Setelah menyimpan kembali minuman yang baru saja ia teguk, Wisnu kembali malayangkan tatapan serius ke arah Aurel.
“Bukannya gak bisa cari cewek, tapi yang dicarinya malah ngilang,” jawab Wisnu, seketika langsung menghentikan tawanya Aurel.
Aurel menatapnya dengan serius. Membuat Wisnu juga menatapnya serius.
“Sayang!” ucap Aurel. Membuat Wisnu menautkan kedua alisnya begitu heran.
“Sayang?” tanya Wisnu, mengulang ucapan Aurel.
Aurel berdiri dari duduknya, menatap lurus ke arah depan sana.
__ADS_1
“Sayang!” ucap Aurel lagi, membuat Wisnu langsung menengok ke belakang, dan ternyata di belakang sana sudah ada sesosok lelaki bertubuh besar dan tinggi, tengah berjalan ke arahnya.
Lelaki yang memiliki perawakan tinggi, serta memiliki wajah yang tak kalah tampan dari Wisnu itu membuat Wisnu menautkan kedua alisnya dengan kuat, terheran-heran.
Senyuman yang terlukis di wajah lelaki itu, seolah memberi kehangatan untuk Aurel. Mereka berdua saling tersenyum memandang satu sama lain.
Aurel yang berdiri pun tiba-tiba, berjalan mendekati lelaki itu, dan meninggalkan Wisnu sendirian di mejanya. Lalu, Aurel bergelayut manja di lengan kekar lelaki itu, dan mereka berdua pun kini menghentikan langkahnya tepat di depan Wisnu.
Wisnu yang berdiri mematung kaku, kayak manekin itu, ia terheran-heran. Dengan seribu pertanyaan yang kini menyerang pikirannya.
“Siapa lelaki itu?” batinnya.
“Sayang kenapa gak bilang kalau kamu udah nyampe sini?” tanya Aurel, dengan manjanya. Membuat Wisnu kembali membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
“Kejutan buat kamu dong, Sayang,” jawab lelaki bernama Gabriel itu.
Deg, perasaan Wisnu jadi tidak tenang.
“Sayang? Apa lelaki dihadapanku ini adalah pacarnya Aurel?” batin Wisnu menebak-nebak.
“Oh ya, Sayang. Kenalin, dia teman aku, namanya Wisnu,” ucap Aurel memperkenalkan Wisnu dan Gabriel.
Gabriel melepaskan kaca mata hitam yang melekat di matanya, dan begitu Gabriel melepaskan kaca matanya, aura ketampanan dari lelaki yang ada di depannya itu semakin terpancar, dan sedikit menyentil perasaannya, membuat Wisnu merasa insecure melihatnya.
“Oh hai, gue Gabriel, pacar Aurel,” ucapnya memperkenalkan diri, seraya menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Hening …. Begitu lambat, Wisnu membalas jabatan tangan itu.
“Wisnu,” jawab Wisnu, seraya melepaskan jabatan tangannya yang hanya berkisar hitungan detik.
“Jadi benar, dia adalah pacarnya Aurel,” batin Wisnu merasa kecewa.
Entah kenapa, tiba-tiba ada rasa sesak langsung menyeruak begitu saja di dadanya. Senyum yang terukir di wajahnya sejak tadi, perlahan memudar seiring dengan kalutnya hati yang membuat dirinya merasa tidak nyaman berada di sana.
"Aurel mempunyai pacar?"
.
.
.
Bersambung
__ADS_1