Noda Pengantin

Noda Pengantin
Jangan Sok Perhatian


__ADS_3

Sore ini, selesai bekerja, dan sesuai rencananya kemarin. Grey dan Shasha pergi untuk menemui dokter kandungan yang sebelumnya sudah Shasha buatkan jadwal pemeriksaannya.


“Lo harus tenang, Grey. Berharap yang terbaik aja, semoga lo beneran hamil ya, biar gue bisa jadi Aunty anak lo,” ucap Shasha yang diiringi kekehan kecil.


“Kamu gak tahu aja, Sha. Kalau seandainya aku beneran hamil, masalah besar pasti akan menghampiriku. Maaf, keinginanku tidak sejalan dengan keinginanmu,” gumam Grey dalam hati.


“Hm, iya, doain aja yang terbaik, semoga hasilnya sesuai harapan,” jawab Grey tersenyum hambar.


Satu persatu, di ruangan tunggu itu para ibu hamil mulai di panggil. Di sana Grey dapat melihat, wanita-wanita dengan perut yang membuncit besar, serta ada beberpa yang sama sepertinya, masih rata tak terlihat. Dan ada beberpa juga yang Grey ajak ngobrol, ternyata bukan mau cek kandungan akan tetapi masalah rahim.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam, kini giliran dirinya yang dipanggil.


“Nyonya Anggreya Mikayka,” panggil suster di depan pintu masuk ruang dokter.


Grey dan Shasha langsung bangkit dan masuk ke dalam ruang dokter tersebut. Grey langsung dipersilakan untuk duduk di atas kursi yang diperuntukan khusus untuk USG. Sementara Shasha, ia duduk di atas kursi konsultasi yang ada di depan meja dokter.


Setelah semuanya selesai dipersiapkan oleh suster, dan Grey sudah duduk dengan kedua posisinya yang terangkat lebar. Dokter kandungan pun mendekat dan mengambil alat khusus yang sudah diolesi gel khusus untuk USG, lalu memasukannya ke dalam area sensitive milik Grey.


Terlihat jelas di layar monitor, kalau rahim Grey baik-baik saja. Tidak ada janin yang terlihat. Seraya memeriksa dengan alat USG tersebut, dokter juga menanyai Grey mengenai keluhan yang ia rasakan dan Grey menceritakan semuanya dengan jelas, sesuai yang ia alami.


“Oh, jadi haid tidak teratur, dan udah telat tiga bulan ya?” tanya Dokter tersebut.


“Iya, Bu Dokter.”


“Apa sudah pernah tespek sebelumnya?” tanya Sang Dokter.


“Emh, belum, Dok.”


“Oke … jadi sesuai dengan apa yang saya lihat. Jadi gejala yang Nyonya Grey alami ini adalah salah satu dari gangguan hormone. Dan kalau dilihat dari layar monitor, memang ada penebalam dinding rahim. Tetapi, belum bisa dikatakan ini adalah tanda persiapan untuk hamil atau mau datang haid. Sebaiknya jika dalam dua minggu ke depan, haid tidak kunjung datang, Nyonya periksakan kembali untuk USG ulang ya,” tutur Dokter tersebut.


Grey sedikit bernafas lega mendengar semuanya. Apa yang ia takutkan sedikit berkurang dari pikirannya.


Setelah itu, ia pun pulang ditemani Shasha naik taksi.

__ADS_1


“Makasih ya, Sha. Hari ini udah temenin aku ke dokter. Besok aku traktir kamu sepuasnya pokoknya,” ucap Grey  saat mobil yang dikendarainya sebentar lagi akan sampai di rumah.


“Iya udah nggak apa-apa, lo kayak ke siapa aja pake imbalan traktir segala,” jawab Shasha, malu-malu tapi mau.


“Haha, siapa lagi kalau bukan ke Shasha ratu kepo,” jawab Grey terkekeh. Setelah sampai, Grey pun turun dari mobil melambaikan tangannya kepada Shasha yang kini mulai menjauh dari pandangannya, karena taksi yang ditumpangi Shasha sudah melaju kembali.


“Duh, kebiasaan banget deh, pulang telat gak ngasih tahu orang rumah!” sindir Viona yang tengah duduk di ruang makan, berdiri sendirian dengan pemandangan makanan yang berjajar di atas meja makan. Sepertinya makanan itu belum tersentuh sama sekali.


“Apa kalian menunda makan karena menunggu aku?” tanya Grey heran.


“Ya iyalah. Kalau pulang telat itu, kabarin orang rumah dong! Jangan biarin orang rumah nunggu kayak begini,” jawabnya tidak santai.


“Maaf kalau buat kalian nunggu … t-tapi aku sudah kirim pesan kok ke mas Wisnu,” ucap Grey menjelaskan. Karena tadi sebelum ia pergi ke dokter, Grey mengirimkan pesan singkat lewat whatsapp ke nomor suaminya, dan bilang kalau ia akan pulang telat.


Viona memutar kedua bola matanya, ia hanya berdecak kesal. Tanpa menjawab pembelaan dari Grey, ia langsung menududkan tubuhnya di atas kursi. Lalu tak lama kemudian, Cakra dan Shindy pun keluar dari kamar mereka. Dan lagi-lagi Grey mendapat interogasi dari ibu mertuanya tersebut yang membuat Grey harus mengulang penjelasannya.


Kini semuanya sudah duduk berjajar di kursi meja makan. Sambil makan, sesekali Cakra menanyai Grey perihal masalah sakitnya.


Grey sejenak menghentikan makannya. “Emh, kata dokter aku terkena gangguan hormone. Mungkin efek dari datang bulan yang gak lancar,” jawabnya pelan.


“Emh … iya, iya.” Cakra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Lalu, pandangan Grey kini beralih ke arah Wisnu yang duduk di sampingnya. Ia terheran-heran karena Wisnu yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyuapkannya ke mulutnya.


“Mas Wisnu, kenapa gak dimakan, makanannya?” tanya Grey pelan.


“Iya … kamu dari tadi kok cuma mainin makanannya? Apa kamu gak suka? Atau makanannya gak enak?” tanya Shindy—mamanya.


Tiba-tiba Wisnu mendengus pelan seolah tengah memendam kekesalan. Tiba-tiba ia berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Grey maupun Mamanya.


“Hey Wisnu! Apa kau tidak punya sopan santun terhadap Mamamu?!” teriak Cakra saat melihat sikap tidak sopan yang ditunjukan oleh anaknya. Membuat dirinya merasa begitu kesal.


“Udah, Pa, nggak apa-apa. Mungkin dia lagi banyak masalah di kerjaannya,” ucap Shindy menenangkan.

__ADS_1


“Suami marah, istri kok diem aja sih,” celetuk Viona yang membuat Grey merasa tersindir.


“Viona!” seru Cakra melotot. Yang dibalas dengan cebikan bibir oleh anak bungsunya tersebut.


Anggreya yang sejak tadi ingin mengakhiri makannya, ia pun menjadi punya alasan untuk meninggalkan meja makan. Grey berpamitan untuk pergi menyusul Wisnu di kamar.


Grey memasuki kamarnya. Namun, tidak mendapati Wisnu di sana.


“Ke mana dia?” gumam Grey.


Lalu tirai putih yang menghalangi pintu balkon tiba-tiba tersingkap oleh angin, dan bayangan seorang lelaki ada di luar sana.


“Oh di situ rupanya,” gumamnya langsung melangkah ke balkon menemui Wisnu.


“Mas,” panggil Grey yang kini sudah berdiri satu meter di belakang Wisnu.


“Mas, kau kenapa? Apa kamu lagi ada masalah?” tanya Grey memberanikan diri, berharap suaminya akan bercerita atau berkeluh kesal padanya.


“Stop mencari perhatianku, Anggreya!” tegasnya begitu dingin. Membuat Grey langsung etrkejut melihat responnya.


“Gak usah deh sok peduli sama aku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah tertarik padamu!” serunya masih membelakangi GRey. Membuat kedua kening Grey mengkerut hebat.


"Loh, M-Mas ...."


.


.


.


Bersambung...


Bantu like komen dan Votenya ya. terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2